November 06, 2021

Trik Menjadi Seniman Rupiah
narno nadias
Saya termasuk orang yang beruntung karena bisa kenal dengan Pak Narno Nadias. Jam 20.04 (atau 4 jam setelah tulisan ini terunggah) menelepon saya melalui whatsApp selama 21 menit 56 detik. Saya harus menuangkan kata-kata beliau di sini sebelum menguap dari otak. Saya coba dengan mengutip yang masih nempel-nempel dalam ingatan.
Terkadang saya justru menemukan moodboster dari seseorang atau sesuatu yang tak terduga. Alhamdulillah. Bagi saya semua kata-kata Pak Narno Nadias malam ini serupa bodybuilder (daging yang padat dan berotot).

Tiga bulan terakhir ini, hobi atau passion agak lambat berjalan karena terkendala pekerjaan. Sepulang kerja kadang saya tak bergutik kecuali ketip-ketip di atas kasur, tak lama kemudian terlelap begitu saja. Hobi jadi terlupakan begitu saja.

“Saya harus bekerja diluar passion, Pak. Melelahkan juga.” celetuk saya.

“Oh, ya. Itu biasa, Mas.” Jawab Pak Narno. “Saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Seperti pelatihan pupuk organik se-Jawa Timur yang harus berkeliling antar kota dalam satu bulan penuh, pernah juga bawa truk dengan isi bermacam-macam, belum lagi esoknya masih melatih, pernah saat malam masih di alas nebang kayu, dan kepadatan saat menjadi pelatih tenaga kerja Indonesia-Jepang selama dua tahun, audisi pendongeng Indonesia berkeliling selama 40 hari, hitungannya perjam harus pindah provinsi. Tapi semua menghasilkan secara signifikan.”

***

“Bagaimana cara seorang seniman murni menjadi seorang seniman rupiah?” 
begitulah kalimat retorik dari Pak Narno. “Artinya setiap ia berkarya, hasilnya itu mendapatkan rupiah. Itu semua ada triknya, Mas Saad!” jelas Pak Narno Nadias diseberang telepon genggam.

Saya masih terhitung satu kali bertemu secara langsung dengan beliau di Kafe Ruang Micro, di Jalan Tidar. Beliau waktu itu order ketan dan jus buah sembari ngobrol asyik tentang literasi dan pupuk. Waktu itu belum hafal dengan namanya, saya diam-diam menyebutnya Pak Sripit. Hehe. Bukan tanpa alasan, beliau waktu itu membawa produk Kopi Sakinah (kalau tidak salah), dengan tagline: "Sripit  Dulu Kopinya!"

Kalau tidak dikenalkan oleh kawan-kawan literasi saya, Gus Nov dan Mas Gun, mungkin tak pernah kenal saya. Malam ini, lewat gawai komunikasi kami bersua kembali.

Sangat mulia menuver-manuver Pak Narno Nadias menjemput seniman-seniman pinggiran, semacam saya ini. Beliau datang membawa bara api yang menyala-nyala, untuk terus melempar bara semangat kepada seniman-seniman yang sembunyi. Insan dosen atau seorang senior dalam bidang keilmuan yang peduli pada kesulitan di lapangan nyata, tidak hanya pada seputar permasalahan kuliah saja. Dosen kharismatik yang peduli pada kesulitan semua kalangan, kombinasi yang hebat!

Pak Narno menjelaskan bahwa setiap individu seniman harus memiliki ‘brand pribadi’ untuk dirinya. Atau istilahnya personal branding. Itu pun ada triknya juga.
Narno Nadias Marah besar saat tahu seniman tak menghasilkan uang
Pak Narno Nadias. (sumber facebook: Narno Nadias)

“Saya selalu marah kepada siapa pun seniman, utamanya yang muda-mudi, mengapa Anda tidak bisa meng-uang-kan karya Anda? Ojo ngene tok, enggak seneng bojomu dan anakmu ndelok keadaan awakmu berkarya tapi tak menghasilkan uang! Mereka perlu hidup juga, mengharapkan pada Anda, bukan cuma seni saja!” bergetar saya mendengar kata-kata—yang menurut saya terdengar satire—kena banget ke hati.

Kontan saya menyambung, “Ya, Pak. Saya melihat tidak sedikit seniman yang berbakat tapi hasil karyanya hanya pajangan di dalam rumahnya atau tersimpan dalam draft. Dan, kalau pun bisa menghasilkan uang, hasilnya sedikit. Saya pernah menulis satu buku dibayar kurang lebih 5 jutaan. Bagaimana menurut njenengan?”

Pak Narno lantas tertawa. “Saya menghasilkan uang dari satu buku sebesar 32.500.000. Jujur, saya kalau dipatok dengan harga murah, maka saya tinggalkan. Saya tidak mau!" tegas beliau. 

"Jadi sebenarnya penulis dengan pekerjaan menulis saja itu tidak cukup. Penulis harus berpikir terbuka dan dinamis. Penulis harus belajar manajemen, harus belajar politik, belajar PKWU atau entrepreneur. Makanya seniman itu harus digembleng dengan berbagai macam disiplin ilmu, ilmu jaringan, ilmu bisnis dan kalau perlu ilmu-ilmu yang lain. Kalau misalkan fokus kepada seniman, yo seniman tetep ngunu iku wae, Mas! Tidak ada perubahan.”

Pak Narno ingin seniman, utamanya yang muda-mudi dikumpulkan dalam satu ruangan, mengajak mereka diskusi bagaimana trik-trik menghasilkan karya yang bisa dirupiahkan.

“Karena seni itu adalah buah dari pikiran. Kalau tidak seimbang dengan pekerjaan yang menguras tenaga atau kesibukan yang lain, akhirnya tidak bisa berkarya atau menghasilkan karya tapi tidak bisa meledak.”

"Jadilah pemula, jadilah yang berbeda. Dan jadilah yang terbaik,"  kata Pak Narno Nadias, mengutip motivator Bob Sadino.
“Bagaimana Pak, jika karya saya tetap diberi tarif rendah? Saya pernah hendak menulis dari seorang klien, sudah beberapa kali melakukan wawancara dengannya. Tapi setelah saya ajukan dana pembuatan buku, klien menilai kalau tarif yang saya ajukan terlalu tinggi. Padahal saya melihat klien ini secara finansial bagus dan untuk nominal yang saya ajukan tak terlalu tinggi. Bagaimana menurut njenengan, Pak?”

Pak Narno sebelum menjelaskan tertawa lagi. “Analoginya seperti dalam penerbangan, ada dua orang di belakang kemudi pesawat, pilot dan co-pilot. Yang membedakan keduanya adalah hanya masalah jam terbang saja. Tentu lebih berpengalaman pilot. Tugas co-pilot mendampingi orang yang punya jam terbang yang tinggi. Suatu hari nanti, pilot itu pasti akan merekomendasi co-pilot sebagai penggantinya. Dari sini, kita bisa mengambil kiasan bahwa ada personal guarantee atau tokoh yang dipandang memiliki kaliber tinggi yang merekomendasikan karya Anda. Jadi, sebenarnya sama juga di dunia penulis. Orang tak akan melihat karya Anda, sebab Anda belum punya nama. Tapi orang akan melihat siapa yang membawa Anda, siapa yang merekom Anda. Ini yang tidak pernah dipikirkan sama penulis,” terang Pak Narno.
Pak Narno mengibaratkan seperti pesawat, ada pilot dan co pilot yang berpengalaman menerbangkan pesawat
Perlu jam terbang tinggi untuk menerbangkan pesawat.

“Jadi, jangan merasa, ‘oh, aku sudah ahli, aku sudah punya karya’. Kemudian dia berlari sendirian. Pertanyaannya adalah siapa Anda? Untuk menjelaskan siapa Anda, kan repot...”

--Bersambung--

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

2 Comment:

  1. Keren, baru 4 jam ngobrol langsung bisa jadi bahan tulisan.

    BalasHapus

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com