Oktober 27, 2021

Lebih Asyik Mana Mengerjakan Tugas di Kafe, Perpustakaan atau di Rumah?
mau pilih mengerjakan tugas di rumah kafe atau restoran
Kita mungkin sudah biasa mendapati para pelajar atau mahasiswa sedang belajar di kafe. Meski tak harus tanya ke mereka, pasti alasannya sama dengan kita, karena: tersedia WIFI gratis, mendapatkan suasana baru, dan bisa sembari ngopi atau pun ngemil. Memang asyik. Sebenarnya, mengerjakan di kafe tidak masalah. Saya sendiri pernah menjadi pelakunya. Kadang sendirian, kadang ditemani seorang teman (satu teman saja), mengerjakan tugas di kafe yang menawarkan tempat hening, kondusif dan ber-AC/berkipas. Itu kriteria kafe yang saya cari.

Tapi, adakalanya pengunjung di kafe tidak paham pada kegiatan kita yang membutuhkan konsentrasi penuh. Tidak paham kita yang sedang belajar dan bikin tugas di sana. Kedatangan pengunjung yang warna-warni tujuannya yang bikin konsentrasi hancur lebur. Ya, memang tidak ada aturan khusus untuk meresleting mulut di sana. Kafe itu untuk umum, saya yakin owner kafe lebih melihat pada pendapatan daripada memikirkan tujuan belajar kita di sana.

Saya apa boleh buat, telinga saya kemasukan; beratnya emas si anu, betapa teganya si anu meninggalkan kekasihnya, ketawa cekakak-cekikik menceritakan gowes yang kesasar, cerita kehebohan si anu yang kenal dengan seorang tokoh menawan, rasa gregetan yang akhirnya menggebrak meja saat nyeritain anak yang nakal, dan pikiran saya dibelah kecil-kecil oleh bibir merah menor itu. 

ngopi di warung
Kafe yang kondusif kadang kala ramai pengunjung. (photo: Aris Maulana).

Kalau kafe masih wajar untuk dibuat mengerjakan tugas, kesalahan fatal adalah mengerjakan tugas di restoran cepat saji, seperti KFC atau McD, dua tempat ini bukanlah tempat yang cocok buat belajar! Yang datang ke tempat ini bukan kalangan muda-mudi, mahasiswa atau pelajar, tapi semua kalangan. Jadi, wajar saja jika ada bayi atau anak kecil yang sedang nangis atau teriak-teriak hingga menyayat-nyayat gendang telinga kita. Apalagi ada yang sedang mengadakan rapat karang taruna dan ada pula mengadakan arisan RT. Nah, ambyar pokoke!

Restoran cepat saji sebenarnya kurang pas dan bukan tempatnya kalau sekadar dijadikan tempat ngobrol panjang lebar. Intinya,restoran cepat saji itu tujuan utamanya untuk mengisi perut saja. Jujur, pegawai restoran akan senang jika kita datang di sana untuk tujuan makan saja. Semakin bergembira kalau setelah makan segera beredar keluar. Sebab saya pernah bekerja di restoran siap saji, yang menu utamanya ayam crispy ketika merantau di Sidoarjo. Saya akan menghela nafas, menenangkan diri saat ada pengunjung beli secangkir minuman tapi nugasnya berjam-jam, ramai-ramai pula!

Mengerjakan tugas di kafe terkadang membuat betah buat sebagian orang, tapi ingat orang lain mungkin akan jengkel. Apalagi kalau nugasnya di restoran siap saji. Bayangkan kalau kita hanya beli minum atau makan sekali saat pagi hari, lanjut mengerjakan tugas sampai sore, atau bahkan sampai malam. Parahnya lagi, meja samping digabung menjadi satu biar bisa ramai-ramai pula. Kadang ada orang tidak jadi makan dengan alasan karena tidak ada tempat kosong.

ngopi di warung
Grand Cafe, di Jember. Fasilitas AC tersedia. WIFI kencang.

Ada beberapa kafe yang khusus dirancang supaya suasana di dalamnya hening dan kondusif untuk mengerjakan tugas. Kalau di Jember, biasanya saya pilih kafe Grand Cafe, di Jalan Jawa. Kalau di Trenggalek di Cafe Cengkeh Gallery di Ngantru/Kota. Saya berdomisili di dua kota tersebut. 

ngopi di warung
Cengkeh Gallery, di Trenggalek. Manwarkan semilir udara persawahan. (photo: Angga Tri)

Mengerjakan tugas di kafe atau pun restoran siap saji tak bisa disamakan suasananya ketika kita belajar di dalam perpustakaan. Kalau ada pengunjung yang berisik saat ngobrol di tempat tersebut, hal itu wajar, karena memang tempat buat makan. Jangan sampai kamu protes sama pengunjung lain, apalagi menyuruh mereka diam, jika itu kamu lakukan siap-siap gelut sama mereka.

Memang sih, mengerjakan tugas seorang diri itu kadang tak ada gairah. Akhirnya, kamu mencari booster dengan mengajak teman mengerjakan tugas bareng di kafe atau perpustakaan. Tapi ingat, bisa-bisa tugasmu tak rampung-rampung karena keasyikan ngobrol atau ngopi bareng teman-teman.

Bagaimana jika mengerjakan di perpustakaan?

perpustakaan
Perpustakaan yang hening adalah perpustakaan yang sehat. Bukan berarti tak ada orang, tapi banyak!

Itu pilihan tepat. Tapi harus siap dan legowo apabila ada beberapa orang yang masih menyimpan kebiasaan lama, bukannya membaca, atau mengerjakan tugas, pengunjung perpustakaan memanfaatkan pancaran WIFI untuk tujuan jauh dari literasi. Biasanya anak-anak sekolah memanfaatkan untuk main game. Sebagian ada yang menyetel video online, sehingga kalau tontonannya lucu akan ketawa. Meskipun langsung diam, akan diulang kembali kesalahannnya. Mirisnya, saya pernah dibuat kecewa karena petugas perpustakaan memutar televisi. Meski tidak kencang tapi tetap terdengar karena kesunyian perpustakaan. Ini sih pengalaman pribadi saya. Sebab jika saya sudah pada tempat yang saya anggap serius, maka saya akan serius dan fokus. Mungkin di tempat kamu berbeda dan lebih tertib, ya?

Pilihan lain adalah kita harus mencari perpustakaan yang benar-benar kondusif dan teratur. Contohnya di Jember ada Kampoeng Batja. Taman Baca Masyarakat yang dikelola oleh Pak Iman Suligi. Beliau orangnya teratur dan tertib. Beliau benar-benar ruh dari perpustakaan tersebut. Apabila ada yang terlalu bising, beliau akan tegas mengingatkan. Apabila ada yang terlupa tak mengembalikan buku pada tempatnya, maka beliau tak segan mengingatkan juga.

taman baca masyarakat
Perpustakaan eksklusif Kampoeng Batja, Jember.

Jalan lain adalah mengerjakan tugas di rumah dengan cara mengurung diri (baca:fokus) untuk sementara demi membantumu menjaga konsentrasi. Tutup pintu kamar dan beri tanda di pintu “Jangan ganggu, sedang mengerjakan tugas” atau tulisan lainnya yang tak menyinggung. Kalau yang menyinggung itu tulisan seperti ini, "Awas, kalau berisik satu bogeman menyapamu!" dan sejenisnya. Biar semua orang tahu kamu perlu waktu sendiri dulu.

Kira-kira gampang tidak menerapkan seperti itu? Tidak juga. Tidak semudah apa yang saya tulis di website ini. Saya paham. Sebab mungkin pembaca ada yang mungkin punya adik kecil yang suka bikin ribut atau usil. Mungkin akan dianggap buat aneh-aneh di dalam kamar sama orang lain. Kasur dan bantal yang malah membuat ngantuk ingin rebahan. Dan tak ada WIFI. Asyik enggak dengan cara itu?

Pertanyaannya adalah kita sebenarnya mau cari asyik apa menyelesaikan tugas?

Kalau memang tidak ada WIFI di rumah, kita bisa mengagendakan apa saja nanti list bahan-bahan yang harus dicari pada saat berada di tempat WIFI. Setelah yakin sudah ditulis list-nya. Berangkatlah ke tempat WIFI. Setelah selesai, pulang dan kembali ke kamar atau ruang mana pun yang sekiranya nyaman. Harus diakui, belajar di rumah lama kelamaan bisa memunculkan rasa membosankan. Maka dari itu salah satu cara mengatasinya dengan menciptakan ruang belajar di rumah yang kondusif sekaligus menyenangkan. Itu PR buat kita.

Bagaimana kalau keadaan di rumah tidak memungkinkan kita berkonsentrasi?

Kembali ke pertanyaan, kita sebenarnya mau cari asyik apa menyelesaikan tugas?

Tulis pendapat kalian di kolom komentar, ya! Yang komentarnya bagus dapat hadiah buku gratis. Komentar apapun, mengkritik tulisan saya pun boleh. Hehe.

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

28 Comment:

  1. Setiap orang pasti memiliki kebiasaan dalam mengerjakan tugasnya masing-masing dan setiap orang bebas memilih sebuah tempat yang akan dijadikan olehnya dalam mengerjakan tugas. Semuanya kembali lagi pada diri masing-masing, karena sejatinya setiap orang memiliki kesenangan, kenyamanan, dan kefokusan yang berbeda-beda.
    Ada seseorang yang bisa menyelesaikan tugasnya dalam keadaan sepi dan sendiri, dan adapula seseorang yang mampu menyelesaikan tugasnya dalam keadaan ramai sekalipun.
    Kalau tujuannya ingin menyelesaikan tugas, bagi saya pribadi cukup mengerjakannya di rumah saja tanpa harus pergi ke perpustakaan apalagi ke cafe. Saya pribadi merupakan orang yang hanya bisa fokus dan konsentrasi saat keadaan sepi dan seorang diri, di saat itu apapun tugasnya saya mampu menyelesaikannya tanpa menghabiskan waktu lama. Pengalaman saya kalau mengerjakan tugas di perpustakaan itu fokusnya jadi terbagi-bagi karena saya terlalu sibuk memanfaatkan waktu menikmati Wi-Fi gratis. Apalagi kalau mengerjakan tugas di cafe saya lebih asyik santai dan menikmati Wi-Fi gratis dan tugas terbengkalai tak ada yang dikerjakan sedikitpun.
    Maka dari itu, dalam mengerjakan sebuah tugas saya pilih di rumah saja!
    Pesan saya ketahuilah kesenangan, kenyamanan dan kefokusan yang dirasakan oleh diri masing-masing. Dengan itu maka seseorang akan mampu menyelesaikan sebuah tugas tanpa menghabiskan waktu yang lama.
    Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nice quotes dari kakak:
      Semuanya kembali lagi pada diri masing-masing, karena sejatinya setiap orang memiliki kesenangan, kenyamanan, dan kefokusan yang berbeda-beda.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  2. Menurut saya, menulis itu tergantung suasana hati. Menulis bisa menyenangkan, kok, asalkan mood kita bagus. Di manapun dan kapan pun. Saya pribadi lebih suka suasana yang sepi ketika sedang menulis. Namun, bila itu tidak memungkinkan, saya akan menyumpal telinga saya dengan headset untuk mendengarkan musik klasik biar lebih rileks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, benar. Lebih bagus dipaksakan untuk mencari jalan keluar daripada menunggu mood baik datang.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  3. Menurut saya klo utk mengerjakan tugas di Cafe, perpustakaan dan rumah Sama2 memiliki plus dan minusnya. Kadang suasana, kenyamanan dan ketenangan juga perlu utk mengerjakan tugas serta mood atau suasana hati juga mempunyai pengaruh. Dan dari ke-3 tempat itu semua mendukung dgn kelebihannya masing2. Cafe memiliki suasana dan kadang mendapat inspirasi, perpustakaan dgn buku2nya yg bisa menambah wawasan dan rumah adalah tempat yg ideal jika malas gerak dan bisa sambil rebahan utk mengerjakan tugas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Artinya, dari ketiga tempat itu baik semua, cuma kadang mood yang mempengaruhi ya.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  4. Tugas yang akan diselesaikan pasti memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.Mulai dari yang sifatnya sederhana sampai yang memang butuh pemikiran yang serius untuk menyelesaikannya.

    Jika tugas itu sifatnya sederhana,tidak ada salahnya jika menikmati secangkir kopi dan sepiring cemilan piscok untuk menemani hari menyelesaikannya di kursi pojokan cafe diiringi alunan lagu kekinian.

    Jika tugasnya ada di level sedang sampai tinggi berarti harus membagi waktu untuk fokus menyelesaikan dan memilih rumah sebagai tempat terbaik dan waktu disaat anak-anak telah tidur. Menikmati secangkir kopi buatan sendiri ala cafe atau sebotol air putihpun bisa menjadi moodbooster untuk menyelesaikan tugas.

    Yang pasti dari itu semua butuh NIAT dan FOKUS yang tulus juga keyakinan agar tugas yang dibuat bisa diselesaikan tepat waktu.

    Jangan lupa pula untuk membuat skala prioritas tugas mana yang harus diselesaikan.

    Semangat..😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, benar!
      Jika mengerjakan tugas yang tingkat kesulitannya mudah, mending pilih cafe ya?
      Dan jika tingkat kesulitannya tinggi, kitalah yang harus tahu tempat mana yang baik untuk tingkatan tersebut.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
    2. Bisa sebutkan biodata diri Anda?

      Hapus
  5. Kalau menurut saya, lebih nyaman di rumah hehehe🤭 tujuan dalam mengerjakan tugas adalah agar cepat tugas cepat selesai. Kalau dirumah memang nggak ada yang asyik beda sama di cafe, tetapi di rumah lebih nyaman,enjoy dan tugas cepat selesai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik. Memang rumah itu tempat yang bebas berbuat apa pun. Bikin kopi berkali-kali pun free. Hehe.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  6. Kalau saya lebih memilih mengerjakan tugas di perpustakaan. Kenapa? Karena saya orangnya gak suka kebisingan. Pernah waktu jaman kuliah, saya coba ikut teman ngerjain tugas di kafe. Ampun, dah, bukannya ngerjain tugas, tapi malah bercerita sambil makan-makan. Tugas kagak kelar, kantong yang melar. Akhirnya, untuk selanjutnya saya bilang ke temen untuk ngerjain tugas di perpus. Toh, perpus kampus kami wifi juga luar biasa lancar + ada kantin yang menyediakan berbagai jenis makanan ringan, jadi gak perlu rogoh kocek dalam-dalam. Tugas pun selesai tanpa harus ngejar date line.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, benar kata kakak. Memang sih, saya juga pernah ngerjain tugas di kafe. Kadang musiknya terlalu kencang, kadang pula malah dangdutan. Konsentrasi pecah jadinya.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  7. Untuk pengerjaan tugas, biasanya orang akan mencari tempat yang dirasa kondusif, entah itu kafe, perpustakaan, restauran cepat saji,dsb.Akan tetapi,perlu digaris bawahi bahwa tempat-tempat umum tersebut punya plus dan minus. Ada yang nyaman di kafe sembari menikmati hidangan yang ada di sana dan karena teman-temannya pula, ada yang di rumah makan cepat saji, meskipun memang fungsinya hanya untuk makan saja, alasannya biasanya mencari suasana baru atau ia kadung duduk di temlat tersebut. Perpustakaan pun tak menjamin kenyamanan tiap orang, tetapi menjamin sumber-sumber yang dibutuhkan ada di situ.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mungkin lebih tepatnya kita harus memahami situasi dan kondisi tempat yang akan kita buat untuk mengerjakan tugas.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  8. Untuk saya pribadi, saya lebih nyaman mengerjakan tugas di rumah. Bukan tanpa alasan, saya akan menjadi lebih fokus pada makanan dan musik yang diputar, jika mengerjakannya di kafe. Terlebih lagi di perpustakaan, otak saya akan dipenuhi rasa penasaran dengan barisan buku yang tersusun rapi di rak.

    Berbeda jika berada di rumah, cukup dengan menutup pintu kamar dan mengaktifkan mode senyap pada ponsel, maka saya akan lebih bisa konsentrasi. Namun demikian, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk membangun dan meningkatkan fokus. Jadi, di manapun itu, pastikan kalian merasa nyaman agar tumpukan tugas tersebut dapat segera terselesaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, benar! kadang kala ketika di kafe, musik tak sesuai dengan selera kita. Lebih baik hening kan, Kak?

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  9. Pada dasarnya belajar di mana pun sama saja. Tergantung kondisi dan kenyamanan kita karena ada sebagian orang yang justru dengan suara bising bisa membuatnya berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas.

    Bicara tentang masalah wifi, sekarang hampir setiap orang sudah bisa menikmatinya di rumah masing-masing. Tinggal cari waktu dan tempat yang dirasa paling nyaman. Jikalaupun kita merasa butuh bantuan orang lain agar kegiatan belajar bisa lebih lancar, ya, kita bilang ke mereka tentang apa yang kita butuhkan dan inginkan. Misal kita ingin sebuah ketenangan atau tak ingin seseorang mengganggu kegiatan kita. Baik itu adik kecil atau orang tua kita. Ya, kita bilang saja ke mereka agar memberikan waktu untuk mengerjakan tugas dengan nyaman.

    Namun, jika kita lebih memilih di tempat umum, ya kita harus bisa mengatur waktu atau memilih tempat yang sesuai dengan kebutuhan. Jangan menyalahkan orang lain yang bisa mengganggu konsentrasi kita. Pilih waktu yang tepat ketika pengunjung masih sepi misalnya dan segera kerjakan tugas agar cepat selesai. Jika, tugas belum selesai, tetapi kita sudah merasa terganggu, ya, hentikan aktivitas belajar di situ kemudian lanjutkan di tempat lain. Di rumah mungkin atau di gubuk yang berada di pinggir sawah pun juga bisa. Hehe ... kalau ada di daerah kamu, gubuk di pinggir sawah itu adalah tempat yang paling nyaman buat belajar menurutku. Kita bisa menikmati pemandangan alam yang menenangkan dan mendamaikan jiwa. Apalagi sambil bawa bekal buat camilan. Wah, nikmat banget rasanya. Asal jangan malam hari saja, ya. Emang kamu gak takut? Wwwkkkwwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah! benar!
      Gubuk lewat saya bahas di tulisan ini. Tempat semacam ini memang sangat nyaman untuk dibuat mengerjakan tugas. Apalagi ada kalen kecil tidak jauh dari gubuk. Good idea, Kak!

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  10. Hal yang pertama kali harus ditetapkan adalah tujuan. Misalkan tujuan utamanya mengerjakan tugas, sampingannya menikmati hidangan atau menikmati tempat yang nyaman. Apabila tujuan tersebut sebagai fokus, sebenarnya mengerjakan tugas di manapun tidak jadi masalah. Sehingga pandangan yang harus kita ubah dalam mengerjakan tugas adalah bukan mencari kesenangan sampingan, tetapi menghindari hal yang bersifat mengganggu. Sebagai contoh, kita harus menyelesaikan tugas, sedangkan di rumah tidak kondusif ada anak kecil yang selalu mengajak untuk bermain, maka kita bisa cari tempat lain yang kondusif seperti di cafe. Namun ternyata di cafe ramai maka tujuan kita akan terganggu, maka kita bisa cari tempat lain. Intinya yang kita cari adalah tempat yang tidak mengganggu dan menghambat kita dalam mengerjakan tugas, bukan mencari kesenangan sambil mengerjakan tugas. Karena kesenangan tersebut bisa jadi akan melenakan kita dari tujuan utama kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar! Jadi perbaiki niat dulu ya, Kak?
      Dan lebih baik mengenyampingkan kesenangan agar tugas cepat selesai.

      Hapus
  11. Menurut saya pribadi, di mana pun letak kita mengerjakan/menyelesaikan tugas itu kembali lagi pada niat awal. Mau berniat sungguh-sungguh sendiri, atau memilih berbagi pendapat atau cara pandangan dari teman. Misalnya, di perpustakaan, kita bisa menyelesaikan tugas sekaligus mencari materi yang mungkin tidak tersedia di buku yang kita miliki. Nah, tempat cafe, misalnya, kita ramai-ramai menyelesaikan tugas secara kelompok. Apakah akan 100% mengerjakan tugas atau malah 75% buat bercandaan ngobrol ngalor ngidul sama temen? Kalian sendiri yang tahu jawabannya.

    Kalau saya pribadi, suka mengerjakan tugas di perpustakaan. Satu, karena lebih bisa fokus ke tugas dan bisa cari referensi di rak buku perpus. Dua, suasana hening bisa membuat pikiran lebih fokus pada apa yang kita kerjakan, sebab perpus memang punya aturan untuk tidak berisik seberapa banyaknya yang masuk ke dalam ruangan itu. Tiga, kembali ke pribadi masing-masing, saya pribadi intovert yang tidak bisa fokus saat suara bising di sekitar. Pun, sulit untuk mengemukakan pendapat di depan umum. Jadi, pendapat itu dirangkum sendiri di sebuah buku. Semacam bikin materi rangkuman sendiri buat memudahkan menyelesaikan tugas.

    Sekian, opini dari saya. Kurang lebihnya mohon dipaskan saja.

    Salam dari Boyolali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mudah-mudahan perpustakaan di negeri kita sehat ya. Kadang kala masih saja terdengar petugas perpustakaan, utamanya ibu-ibu, yang malah ngerumpi.

      Salam juga dari Jember.

      Hapus
  12. Karena posisi saya adalah ibu dari anak yang masih duduk di kelas XI maka saya memilih memfasilitasi internet di rumah. Alasan utamanya afalah agar anak bisa lebig fokus dan cepat menyelesaikan tugas. Katena tidak menutup kemungkinan jika mengerjakan di luar rumah akan membutuhkan waktu lebih banyak atau justru tidak selesai. Belum lagi pergaulan yang tidak terkontrol menghawatirkan buat seorang ibu seperti saya.
    Hanya ini yang bisa saya sampaikan semoga bisa mewakili sebagian ibu yang anaknya sudah ABG seperti saya. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, memang pekerjaan seorang ibu rumah tangga itu tak ada hentinya. Selain mengerjakan tugas anak, seorang ibu juga harus memerhatikan suaminya, ditambah rumah yang dia tinggali. Luar biasa!

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  13. Kalau saya pribadi. Lebih nyaman di rumah. Apalagi kan kalau nulis itu butuh ketenangan. Tapi sesekali boleh lah di perpustakaan sekalian revisi juga cari bacaan yang berhubungan dengan tema yang akan kita tulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sepertinya di rumah kakak suasananya hening ya. Itu bagus untuk mengerjakan tugas, Kak.

      Terima kasih sudah berkomentar.

      Hapus

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com