Juli 15, 2021

Era Pandemi, Saatnya Era Reademi, Cara Murah Atasi Covid-19
mbamca
Saya sekarang di Pakel, suatu dusun kecil, di desa Pucanganak, terletak di ujung barat Kabupaten Trenggalek, hampir perbatasan Ponorogo. Jarak dusun ini ke kota Trenggalek 14 kilometer atau setengah jam perjalan. Saya hampir satu bulan di dusun bersahaja ini. Buat apa? untuk menemani istri lahiran.Kota Alen-Alen ini adalah kota kelahiran istri saya. Di sini, penduduknya ramah-ramah.

Meski jauh dari kota, dan meski Trenggalek adalah kota sepi, tapi tetap Covid-19 menghantui di seluruh wilayah tanah air ini, termasuk Galek (sebutan singkat dari Trenggalek).

Satu bulan di sini, di tempat mertua, tentu tantangan tersendiri bagi saya. Betapa tidak enaknya perasaan tinggal satu rumah dengan mertua. Apalagi status saya (mungkin) di mata orang lain tidak jelas. (Mungkin) orang berpikir saya pengangguran di rumah mertua. Sebagai seorang kepala keluarga, saya harus membuktikan kepada istri dan orang-orang sekitar bahwa saya bisa mencari peluang di kota kecil ini. Atas kuasa Sang Kholiq, Dia pun membantu saya dengan menghadirkan insan Trenggalek atau klien saya yang bersedia dituliskan kisah hidupnya. Alhamdulillah. Disela-sela menggarap naskah beliau, saya sempatkan menulis tulisan ini.

Beberapa hari ini saya mendengar kabar bahwa di suatu perumahan di Kota Jember (kota saya berasal) banyak orang meninggal karena Covid-19 tersebut. Berapa banyak? saya tak bisa memastikan dengan angka. Yang jelas teman dan saudara saya menggambarkan suasana di sana, diantaranya; rumah sakit sudah penuh, ambulan yang sering lalu lalang, pom bensin yang ditutup beberapa minggu, tetangga meninggal, saudara positif covid dan kegersangan kabar lainnya, semua gara-gara Covid-19. Tapi yang membuat saya sedih, gregetan, marah, dan masa' bodoh adalah mengetahui dari saudara lewat WhatsApp, katanya; 
kurang paham yg sebenarnya, nek delok petugas ketoke gawat, tp nek delok aktivitas masyarakat tdk segawat berita.
Dan kemudian whatApp lagi, katanya; 
3 hr yg lalu sore² q lewat alun² pengunjung sing olahraga, jalan² yo akeh, gk pake masker yo akeh. memang nek mari Maghrib wis mulai penyekatan di bbrp pertigaan n perempatan.

Nah, emboh lah...


Kakak saya memberi saran agar tetap di Trenggalek, jangan pulang dulu ke Jember. Mau tidak mau saya harus tetap di rumah mertua demi keselamatan. Wah...sudah tak terhitung lamanya kita berlindung diri dalam rumah, bukan? Kondisi ini tentunya membuat saya, tentu saja umat manusia di dunia ini menjadi jenuh #dirumahaja. Namun instruksi yang diberikan pemeritah tentu saja demi kebaikan bersama serta demi memotong rantai penyebaran Covid-19. 

Oleh sebab itu, kita harus mencari ide kreatif demi mengatasi perasaan bosan di rumah untuk sekedar menghibur diri serta menenangkan hati. Dengan apa? Dengan cara seperti Covid-19. 

Kita harus bisa berkembang seperti covid-19. 

Benar kita berada di rumah,tapi kita bisa berkembang seperti virus itu. Menjangkiti diri ini dengan virus yang positif. Dengan cara apa? Dengan cara reademi atau berliterasi. Dari mana kata reademi itu? dari jemari saya. Read itu dari bahasa inggris (pembaca sudah tahu tanpa dijelaskan artinya). Demi dari perkataan demos yang artinya orang. Jadi, Anda-Anda semua ini harus menjadi orang yang suka membaca pada saat pandemi ini. Jadi reademi yang cerdas. Saya tak menyebut literademi, karena litera (literasi) cangkupannya luas, tak hanya soal keaksaraan saja, bisa literasi ekonomi, literasi keuangan, literasi digital dan sebagainya. Lantas, kenapa tidak writedemi (write) saja? karena awal lihai menulis itu adalah membaca. Jadi reading dulu ditekunkan!
 
Kenapa saya tekankan agar membaca?
Sebab manusia sudah jauh dari bacaan. Buku pedoman hidup saja jarang dibaca, padahal sekarang era pandemi. Dan buku pedoman hidup komplit membahas mengenai apa pun, tak terkecuali pandemi.

Mengutip dari website www.takingcharge.csh.umn.edu, mengenai manfaat membaca rupanya: 

Membaca bisa menaikkan imun kita hingga 68%. 

Simak dari website aslinya: 

It is a proven fact that reading can help reduce stress. Many of us take this simple act for granted, because we have so much "required" reading in our daily lives-the newspaper, traffic signs, emails, and bills. But how often do we read for pleasure? Reading can be a wonderful (and healthy) escape from the stress of everyday life. Simply by opening a book, you allow yourself to be invited into a literary world that distracts you from your daily stressors. Reading can even relax your body by lowering your heart rate and easing the tension in your muscles. A 2009 study at the University of Sussex found that reading can reduce stress by up to 68%. It works better and faster than other relaxation methods, such as listening to music or drinking a hot cup of tea. This is because your mind is invited into a literary world that is free from the stressors that plague your daily life. 

Artinya: 

Fakta yang membuktikan bahwa membaca dapat membantu mengurangi stres. Banyak dari kita meremehkan tindakan sederhana ini, karena kita hanya "mewajibkan" membaca pada saat membaca surat kabar, tanda rambu lalu lintas, email, dan tagihan. Tapi seberapa seringkah kita membaca untuk kesenangan? Membaca bisa menjadi pelarian yang indah (dan sehat) dari stres kehidupan sehari-hari. Cukup dengan membuka buku, Anda membiarkan diri Anda terlempar ke dunia sastra yang mengalihkan Anda dari stres sehari-hari. 

Membaca bahkan dapat merilekskan tubuh Anda dengan menurunkan detak jantung dan meredakan ketegangan pada otot Anda. Sebuah studi tahun 2009 di University of Sussex mengemukakan bahwa membaca dapat mengurangi stres hingga 68%. Manfaat ini lebih baik dan lebih cepat daripada metode relaksasi lainnya, seperti mendengarkan musik atau minum secangkir teh panas. Ini karena pikiran Anda dilempar ke dunia sastra yang bebas dari stres yang mengganggu kehidupan sehari-hari Anda. 

Nah, betapa hebatnya kan manfaat dari kegiatan membaca yang diterangkan seperti di atas. Daripada resah terus menerus, kemudian menonton TV, tontonannya lagi-lagi covid-19, dan semakin terbakar pula hati kita mengetahui dana bansos dikorupsi, dan berita-berita negatif lainnya. Daripada seperti itu, lebih baik membaca. Jika Anda memang tak suka baca, ok, lebih baik jangan banyak baca, tapi temukan bacaan yang Anda cintai, dan teruslah mencintainya. 


 (to be continued...)

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

0 Comment:

Posting Komentar

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com