Mei 01, 2021

Safar Sambil Menulis, Bisa Dong
balik kampung

Kita tentunya sudah mendengar berita bahwa mudik lebaran 2021 resmi dilarang oleh pemerintah. Larangan ini dikeluarkan demi mencegah penyebaran COVID-19. Sebelumnya larangan mudik berlaku 6-17 Mei 2021. Kemudian diubah dan diperpanjang dari tanggal 22 April sampai 22 Mei 2021. Ada yang mengurugkan mudik dan ada pula yang menunda mudik (saya contohnya). Saya berencana mudik kalau sudah melewati tanggal 22 Mei nanti.

Ditahan dulu rasa kangennya. Ditunda dulu pertemuannya. Akan tetapi jarak bagi keluarga yang terpisah kini bukanlah masalah. Solusinya smartphone. Saya sendiri menggunakan aplikasi whatsApp untuk melakukan video call. Tapi tetap, perjumpaan secara langsung lebih berkesan daripada tatap muka tapi di layar smartphone.

Harapan untuk pulang kampung sebenarnya masih bisa dilakukan, tapi khusus bagi yang mendesak saja, yakni; untuk kelompok masyarakat yang memiliki keperluan menjenguk keluarganya yang sakit, melakukan kunjungan duka bagi anggota keluarga meninggal, ibu hamil dengan satu orang pendamping, ibu yang akan melahirkan dan dua orang pendamping dan kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan darurat.

Beda sekali dengan tahun 2019 ke bawah, ketika mudik tak dibatasi. Kalau ada kehendak mudik atau balik kampung, langsung saja pergi ke terminal atau stasiun. Tanpa harus ada perasaan was-was. Sebelum ada covid-19, hampir setiap tahun saya mudik ke kampung halaman, Trenggalek.

Ngomong-ngomong, kampung Anda dimana? 
Siapa tahu satu kampung dengan saya. (Tulis di komentar ya...) Yuk, ke inti pembahasan, cara memanfaatkan waktu safar dengan menulis secara efektif. Baca sampai tuntas ya... 

***
Waktu itu sangat berharga. 
Klise banget ya pernyataan di atas ini. Ditambah lagi ungkapan ini: 

Waktu itu adalah uang. 
Dua ungkapan itu benar semua. Selain benar, juga benar-benar klise. Kalau kita bisa mengambil waktu luang dan diisi dengan yang berharga bukan tidak mungkin keuntungan-keuntungan bisa didapatkan. Pun saat safar.

Salah satu cara menjadi penulis yang paling cepat adalah dengan membentuk kebiasaan menulis. Selalu berusaha meluangkan waktu untuk menulis, bukan menulis jika ada waktu luang. Nah, pada saat kita safar keluar kota atau mudik, pasti banyak waktu yang dibuat melihat-lihat pemandangan dan situasi. Bukan tidak mungkin kadang ide datang dari situ. 

Tapi, mungkin Anda beranggapan seberapa mualnya diri Anda satu harian penuh dalam perjalanan apalagi ditambah menulis dalam keadaan seperti itu. Hendak menulis, tapi begitu banyak gangguan (baca:alasan) mulai dari 'mengkambinghitamkan' tiupan AC yang mengantukkan, kendaraan yang tak nyaman, musik yang bikin mual (karena tak sesuai selera kita), belum lagi terjebak kemacetan. Laporan dari radio pun tersiar bahwa kemacetan akan berlangsung 2 atau 3 jam. Sehingga kita pun berpikir: jelas punggung ini masa depannya kesakitan.

Kita masih bisa menulis kok. Tenang, bukan dalam bentuk paragraf dengan banyak kata. Bukan pula dalam satu kalimat. Bukan pula menulis yang serius-serius. Penasaran bentuk tulisannya seperti apa?

Waktu bosan kita bisa kita manfaatkan dengan menangkap kata kunci. Planning saja apa yang hendak kita tulis? Jelas sekali di depan mata sudah mau menulis suasana membosankan dan memualkan saat safar. Nah, kita tak perlu menulis gambaran atau ilustrasi dari suasana memualkan itu. Cukup menuliskan kata kuncinya saja.

Anggaplah temanya adalah Bosan di Atas Bus. Kita bisa mengambil kata kuncinya, misal: balsam, koyok, kemuncing, SD, Jember.

Nah, sepintas, kata-kata itu kayaknya kurang mewakili Bosan di Atas Bus. Tapi, karena penulis adalah dewa atau tuhan dari kata-kata, maka ia tentunya paham masa depan 'kelahiran kata-kata' mereka.

Sesampainya kita di rumah atau tujuan, saat waktu lengang, jabarkan saja kata kuncinya. Misal kata kunci dari saya balsam, koyok, kemuncing, SD, Jember.

Ketika saya urai:

Haduh. Bosan pol di dalam bus ini! 
Sudah jalannya pelan kayak siput pentium satu. Yang membuat aku aneh ini, kenapa ya orang-orang dalam bis keliatan enjoy semua. Heran deh. Tapi mereka jelas menipu aku, dari aroma balsam saja udah tercium semerbak. Mereka jelas pusing. Koyok-koyok yang menempel di pelipis tua keriput, sebagai pertahanan terakhir sampai ke tujuan. 

Aroma dalam bis ini seperti di balik kamar mandi. Sumber aroma kamar mandi itu pasti bersumber di kemuncing yang sedang ditenteng oleh pria ketiduran itu. Kemuncing itu dibalut di dalam wadah anyaman bambu. Sesekali kalau gerakan salah, maka kemuncing itu menggeram. Kasihan ayam itu, pastinya lama terkurung seperti itu, bau tahinya kuat sekali. Sialnya, aku berada di belakangnya lagi. Jadi seperti di balik kamar mandi. Kamar mandi di kampung halaman, di sana ada kandang unggas-unggas punya bapak.

Ditambah lagi, coretan tak senonoh terpampang di balik kursi penumpang yang makin membuat aku gerah. Dengan terpaksa kupandangi lagi dan lagi. Sebab jatuhnya mata sering ke situ. Jadi ingat ketika SD, entah ada dimana orang-orang dewasa khususnya orang tua, anak-anak mereka kok jago menulis hal-hal aneh seperti itu. Apa jangan-jangan orang tua mereka, suka juga mencoret-coret tak senonoh seperti anak mereka? Perjalananku dari Jember ke Trenggalek, ini bakalan lama.
***
Jelas sekali, tulisan di atas tanpa kaidah ketatabahasaindonesiaan. Masih awut-awutan. Tapi begitulah cara saya menulis. Awut-awutan dulu, dipermak kemudian. Saya sarankan begini:

Lebih baik menulis ngawur/jelek daripada sangat sempurna tapi cuma diangan-angan belaka
Tulisan di atas hanya sebagai contoh saja ketika mengurai kata kunci ketika kita dalam perjalanan safar.

dalam bus
Rizqy
Kata kunci itu yang berfungsi sebagai panduan saat kita senggang. Sehingga kita akan lebih produktif dalam menulis. Cara itu bisa juga dipakai untuk menggarap tugas dari kampus atau kantor, sehingga kita bisa menghindari overtime saat melakukan tugas, aktivitas dan rencana. Selain itu kita tidak akan lagi bengong dan bingung mencari hal apa yang harus dilakukan di dalam bus atau kendaraan lainnya. 

Caranya bagaimana?

Ya, gampang saja. Jika tugas kampus sulit, tulis saja kata kuncinya, misal dengan menulis "Pak Dosen si A". Maksudnya dari kata kunci itu perlu bantuan seorang dosen, namanya si A. (hehehe)


Deadline yang pendek, kemudian kegiatan yang menumpuk dan waktu yang terbatas sama sekali bukan lagi penghalang lagi bagi kita. Pun dalam perjalanan. Jika kita bisa mengatur mengatur waktu dan peluang (meskipun kecil) maka kita pun bisa. Jika kita terbiasa memaksakan diri tak memanjakan diri dengan bengong maka suatu ketika tubuh kita pasti akan bergerak otomatis mencari kertas dan pen.

mau pulang
Sudut pandang (dok.pribadi)

Menulis dengan deadline yang singkat sekalipun tak menjadi masalah buat kita. Kita bisa mengatur waktu dengan baik, maka akan terhindar dari buru-buru dan kepanikan.

Siapa sih yang ingin selalu dikejar-kejar deadline?

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

26 Comment:

  1. Wah agak kesentil nih... Menulis yg bagus kalau cm diangan2 doang sama aja boong ya.. 😆 Memang hrs melatih diri.. Walaupun awalnya belum sempurna, tapi lama-lama akan terus membaik kalau latihan terus ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, harus dipaksakan menulis meskipun tak ada ide meskipun keadaan kurang nyaman. Orang yang kebiasaan menulis, kalau seharian tak menulis, pasti merasakan hampa.

      Hapus
  2. Artikel yang sangat bermanfaat, terimakasih atas infonya

    BalasHapus
  3. Wahh bagus banget tulisan nya mas,, sangat bermanfaat. Untuk tentang tips lainnya kunjungi blog ku yaa https://satuinspirasigusnajib.blogspot.com/?m=1

    BalasHapus
  4. Memang sulit dlam kondisi saat ini gak pulang kmpung kangen pulang di larang atau ada pembatasan semoga dunia lekas sembuh

    BalasHapus
  5. Ngomong2 soal safar, mudik dan lebaran, sya jadi kangen nih ngetrip pas di waktu moment itu..

    Sya memang nggak mudik. Tpi kebetulan suka melakukan safar pas di hari2 libur lebarannya. Dan biasanya sya suka naik KA dengan tujuan jateng/jogja/jatim..

    Selanjutnya laporan safarnya kemudian sya tulis di blog.. Hehe


    Sayang udah 2 tahun nggak melakukan itu, coz ada larangan mudik dri pemerintah.. 😭😭😓

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waw, hobinya sangat spesial ini Pak.
      Memang nikmat ya, saat kita bepergian dengan tujuan untuk ditulis pengalamannya. Dalam perjalanan pasti kita akan menemukan pristiwa, kejadian, entah itu dapat dari pengalaman pedagang kaki lima, asongan, mereka punya cerita seru dibalik kehidupan di dunia ini...


      asli mana Pak?

      Hapus
  6. Dulu saya suka bawa notes kemana-mana, apa yg terlintas di benak fikiran langsung catat. Tapi entah kenapa setelah menggunakan smartphone, padahal banyak fitur aplikasi notes di dalamnya, justru malas ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Notes dan smartphone pembawaanya berbeda kak.
      Kalau notes mengajarkan keuletan dan kedisplinan yang udah terpupuk saat kita dibangku SD-SMA,

      Sementara kedatangan smartphone itu pembawaannya hanya dibuat chat, game, call. Kita gak terdidik untuk mencatat di smartphone.

      itu sih pendapat pribadi saya.

      Hapus
    2. Iya betul sekali, persis seperti itu. Tapi mungkin kalau dibiasakan ... bisa juga.

      Hapus
    3. Iya, apa pun itu, kalau dibiasakan, akan terbiasa.

      Kalau dari pribadi saya sendiri, saya lebih suka mencatat ide pakai notes kecil.

      Kalau pakai HP, selalu tak fokus, mau mencatat, eh malah buka notifikasi chat, malah buka video, gambar, game, berita, dll.

      hehe

      Hapus
  7. Sangat bermnfaat mas artikelnya ,semoga dan semoga ya ,cepat punah penyakit covid itu.mkasih mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas bro. Kalau covid punah bisa lah mampir ke lapak jualannya mas bro hehehe

      Hapus
  8. untung kampung saya dekat hanya 1 jam perjalanan dari tempat saya bekerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kampung saya jauh, tapi serasa dekat. Sebab lengket di hati. hehe

      Hapus
  9. Iya sih benar sekali. Menulis itu harusnya ya begitu. Sempat ketika di perjalanan, yang penting ada toolsnya mah bisa. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kak. Kalau kita tak memupuk kebiasaan ini dengan sikon apa pun, maka kita pun dengan sikon apa pun tak bisa menulis.

      Hapus

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com