Mei 02, 2021

Menulis itu Menyembuhkan
Menulis itu sangat menyehatkan mental kita
Pernah mengalami kecewa? luka? merasakan pahitnya kegagalan, sedihnya ditinggalkan seseorang, atau menderitanya kehilangan?

Semua pasti pernah mengalaminya, karena hal itu menjadi bagian dalam hidup kita selama kita masih bernapas.

Banyak orang yang berusaha menghilangkan bayang-bayang pahitnya hidup, dengan cara menghindarinya untuk kedua kalinya, berdoa kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, mencari kesibukan agar lupa, kumpul bersama teman-teman agar tak ingat lagi kesulitan hidup dan masih banyak cara lainnya.

Saya mengambil cara dengan menuangkan luka atau kegagalan dengan cara menulis. Menulis semua buah pikiran, harapan-harapan, uneg-uneg dan ide-ide cemerlang yang selama ini tertimbun dalam pikiran dan batin saya. Saya mengalirkannya semua dengan cara menulis. Apapun yang terlintas dan berat dalam pikiran diluruhkan lewat tulisan, maka tidak terasa sesak lagi. Pikiran, batin, akan merasa lega karena beban pikiran sudah keluar. Menulis bagi saya itu bisa diibaratkan sebuah bak besar berisi air kotor, kemudian sumpel baknya dibuka. Walhasil jadi ringan dan bersih.

notes yang menyegarkan
Sila baca diari saya. Kalau bisa hebat Anda! 

Kenapa dengan cara menulis? Efektifkah menulis untuk menghilangkan beban dalam pikiran?
Tentu saja sangat efektif. Sebab boleh saja kita mencurahkan isi hati dengan bercerita kepada seorang sahabat atau teman, atau orang yang kita percayai. Tapi tak semua hal bisa mencurahkannya kepada orang lain, apalagi sifatnya privasi dan termasuk aib. Malah yang terjadi justru tak dapat respons, atau tak ada ruang sama sekali untuk kita didengarkan.

Dengan cara menulis itulah salah satu solusi tepat. Menulis itu ibarat kita sedang berdialog kepada diri kita yang lain. 

Saat otak terasa mendidih, menulis bisa dijadikan terapi mendinginkan otak yang mendidih. 
Sangat manusiawi apabila kita merasa kesulitan mengungkapkan sesuatu secara lisan, karena rasa malu dan takut. Jalan yang kita ambil dengan berdiam diri menyimpan energi-energi negatif. Namun, ketika kita menguraikan isi kepada dengan tulisan, maka secara tidak langsung hal tersebut justru menjadi obat yang menyebuhkan.

Lantas, bagaimana cara agar menulis bisa memupuskan rasa sakit atau derita kita?

Mudah sekali, tuliskan saja apa perasaan kita hari ini. Contohnya, “Aku hari ini merasa sedih sebab….” atau ” Hari ini mendung, semendung hatiku sebab…”

Jadi, apakah dengan menulis masalah kita akan selesai? Jawabannya: tak secara langsung selesai, tapi setidaknya kita akan merasa lega, dan berpikir logis. Hal ini disebabkan kita memahami apa yang sedang kita alami, kita berani dan mau mengakui perasaan atau emosi itu, dan, kita berani menuliskannya dan meluapkannya.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa “Bahagia itu ketika kita bisa mensyukuri apa yang kita punya”. Benarkah demikian? Tapi realitanya apa? Malah sangat kontradiktif. Kenyataan memang banyak sekali masalah yang sedang kita hadapi, masalah yang satu belum kelar, datang pula masalah baru. Terus bagaimana caranya kita bersyukur?

menulis itu obat
Karena menulis itu obat.

Caranya dengan menuliskan hal-hal yang selama ini kita anggap sudah biasa sebagai ungkapan rasa syukur kita. Contohnya, “Aku bersyukur pagi ini aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup, aku bersyukur karena aku masih bisa makan, aku bersyukur bisa ke mana-mana dengan kedua kaki ini, aku bersyukur tadi malam tidur nyenyak, aku bersyukur karena akhirnya aku terbiasa menulis” dan masih banyak hal lain yang diberikan Tuhan kepada kita.

Nikmat Tuhan yang kita anggap kecil pun perlu disyukuri. Tapi kadang kita lupa. Ketika kita sudah terbiasa bersyukur dengan hal-hal kecil dan remeh temeh itu, masalah yang kita hadapi tak sebanyak nikmat-nikmat yang selalu kita dapatkan setiap harinya. Semakin kita bisa mensyukuri nikmat-nikmat itu, Tuhan akan dengan mudahnya memberikan pertolongan kepada kita untuk merampungkan masalah yang menimpa kita dan sekaligus memberikan nikmatnya lainnya.

Pasti pernah menulis surat untuk orang lain. Mungkin surat untuk pasangan, sahabat, teman, saudara, atau yang lainnya. Pasti pernah melakukannya, bukan? Tapi pernahkah kita mengirimkan surat kepada diri sendiri? Mungkin jarang dilakukan. Padahal menuliskan surat yang dikhususkan atau dispesialkan untuk diri kita itu bisa menjadi salah satu cara untuk bisa berkomunikasi dan mengenal diri sendiri.

Cobalah menulis kata-kata indah, misal seperti ucapan terima kasih pada diri sendiri karena sudah tegar dan kuat menghadapi deraan kehidupan. 

Cobalah menulis sepucuk surat untuk diri kita sendiri dimasa depan, 
Seperti “bagaimana kabar kamu di masa ini? Ini tulisan aku. Aku dimasa lalu." Tulisan-tulisan itulah yang akan membuat diri kita lebih termotivasi dan semangat.

Masih ragu akan menulis untuk diri sendiri? Berarti Anda malu terhadap diri Anda dong. Berarti Anda kurang mengenali diri Anda. Sudahlah! Tuangkan saja semua isi hati dan pikiran dalam tulisan. Tak perlu khawatir ada yang menilai tulisan Anda jelek. Karena sahabat Anda (yakni diri Anda) adalah orang yang baik sedunia. Tarik napas, rileks, dan menulislah!

Jika kemudian kita merasa kurang nyaman saat membaca ulang tulisan kita, bagaimana langkah selanjut? Mungkin kita akan dihinggapi oleh rasa menghakimi diri sendiri, malah semakin merasa bersalah saat menuliskannya, alih-alih menghilangkan kesedihan, malah membuat emosi kita jadi berlebihan, atau sebagainya.

Bagaimana kalau hal itu terjadi?

Tak perlu kita baca ulang, cukup teruskan saja menuliskannya setelah itu tutup diari kita. Walau bagaimana pun tulisan pribadi kita itu sangat penting sekali. Ia bisa menjadi bahan-bahan evaluasi dalam sejarah hidup kita dimasa lalu. Jika bacalah pada saat momen yang tepat untuk kita membuka atau membacanya.

Selamat menulis!

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

8 Comment:

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com