Maret 06, 2021

Berliterasi dengan Kesenian Tradisional Tabutaan
tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Bisa menyambung relasi dengan Bunda Suci, seorang puskawan, pembina dan pengurus di tim sastra sekaligus penggerak literasi adalah suatu keberuntungan bagi saya atau pegiat-pegiat literasi Jember lainnya. Bagi pegiat literasi seperti saya, bisa berkenalan dengan beliau adalah tepat, saya yakin, bukan hanya saya seorang tapi siapa pun pegiat literasi di Jember akan digerakkan ke dunia literasi yang lebih luas cangkupannya. Artinya tak cukup sekedar literasi keaksaraan atau baca-tulis. Sebagaimana hari kamis, tanggal 5 maret 2021, kami berempat, Bunda Suci, Mas Gusnov, Mas Gunawan Trip, dan Saad Pamungkas, telah mendalami salah satu literasi budaya yang berada di Bendelan, Arjasa, atau Jember bagian utara. Tak dinyana, saya pun ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut dalam rangka pelestarian kebudayaan lokal di Arjasa, yakni Tabutaan. Tabutaan adalah tarian tradisional yang disajikan dalam bentuk tarian unik, yang dibawakan oleh rekaan raksasa yang tingginya dua atau tiga meter lebih.

Tepatnya di rumah kediaman Pak Iswanto sebagai ketua sanggar Duplang Nusantara. Pak Iswanto adalah salah satu orang yang mempertahankan budaya lampau warisan moyang yang tetap dirawat bahkan ditumbuhkembangkan.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Bunda Suci membuka pembicaran.

Bunda Suci dalam pembukaan pembicaraan tersebut mengatakan bahwa kebudayaan memegang peranan sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa. 

Termasuk kebudayaan Arjasa yang merupakan salah satu kekayaan dan identitas bangsa yang harus dipertahankan. 
Bunda Suci dalam kesempatan itu mengungkapkan juga bahwa dirinya ingin sekali Tabutaan menggelar sebuah pagelaran, sampai ke depan nantinya bisa menjadi ikon Jember. Selain itu, pagelaran ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Jember kepada khalayak, khususnya warga Jember sendiri, kemudian wisatawan asing. Dengan adanya pageralan ini diharapkan Kebudayaan Arjasa bisa dikenal tidak hanya di Jember atau Indonesia tapi bisa dikenal di Mancanegara, sebagaimana JFC (Jember Fashion Carnaval) besutan Dynand Fariz.

“Kita bisa melangkah bersama demi tujuan bersama, untuk mekanisme menuju tujuan tersebut monggo bisa dirembuk bersama di sini,” kata Bunda Suci.

Kemudian giliran pegiat literasi yang inovatif, Mas Gusnov, beliau mengatakan bahwa Tabutaan ini mengandung filosofi yang sangat dalam. Sebagaimana Jegogan, yakni pementasan yang berupa pojian (nyanyian) di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, yang mempertontonkan batu seberat sepuluh kiloan pukul-memukul, dibalik itu ada nilai filosofi bahwa orang yang sering dijegog (dalam bahasa Indonesia: dibogem punggung belakang) maka tak mudah sakit hati. “Di Bondowoso ada pertunjukan yang mempertontonkan cobek besar dengan pemain sepuh-sepuh. Jika ditarik dari segi budaya komunitas itu, contohnya kita mungkin dalam berinteksi saling bertengkar tapi tidak dimasukkan hati. Nah, kalau Tabutaan ini nilai filosofinya itu menarik juga, yakni menertawakan nafsu manusia itu sendiri sebagai bahan tertawaan. Jadi kita dalam pertunjukan itu sebenarnya menertawakan diri sendiri,” terang Mas Gusnov.

Setelah itu Pak Iswanto sebagai selaku ketua sanggar seni mengungkapkan bahwa kedatangan kami membuat dirinya senang. Rupanya masih ada yang peduli akan budaya dan ekonomi di Jember. “Kita sebagai warga Jember, sering mendengar banyak orang yang mengatakan Jember tidak punya kebudayaan. Tapi, jika ditelisik lebih dalam lagi, sebenarnya orang Jember itu sendiri yang tak peduli dengan kebudayaannya sendiri. Coba lihat disekeliling sini, masih ada batu kenong, bahkan bukan di satu tempat saja. Ada juga lumpang dan dakon,” jelas Pak Iswanto.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Pak Iswanto, ketua Duplang Nusantara.

Pak Iswanto tergerak dan tak akan menyurutkan tekatnya untuk memperkenalkan kebudayaan Arjasa, yakni Tabutaan, pada generasi penerus sehingga kebudayaan itu tidak musnah dan tetap dapat bertahan.

Pak Iswanto yang menyebut dirinya sebagai warisan dari leluhur, mempunyai wawasan dengan fakta sejarah Tabutaan. Menurutnya, jika dikaji secara komprehensif lagi Arjasa itu mempunyai fakta peningggalan prasejarah berupa jejak-jejak meganthropus yakni manusia besar, ada jejak telapak tangan raksasa.

Kemudian, fakta sejarah selanjutnya dari peradaban Indonesia zaman dulu, ketika budha masih menjadi mayoritas di masyarakat. Melihat peta-peta sejarah Tegal Balgu, selain ia di Puger, Sadeng, perjalanan Hayam Wuruk juga ke arah Besuki. Kemudian sekarang orang-orang Jember mengenal dengan nama Tegal Bago.

Kemudian pada era Brawijaya atau pada penguasa Majapahit, ada beberapa sumber arkeologis yang bisa ditemui pada makam dilihat dari maesan atau tulisannya. Bahkan batu nisannya pakai batu karang, sementara di Arjasa ini jauh dari pantai. Pengaruh islam tak luput juga masuk pada seni, tari, dan musik. Bahkan pada gamelannya tertulis ayat-ayat sholawat badri.

“Bahkan terbeng sendiri punya arti tersendiri,” terang Pak Iswanto. “Yakni menabuh dari malam sampai subuh sampai matanya geger (jatuh) tangannya ngeter (bergetar). Terbengnya ada sampai sekarang, usianya sudah 100 tahun. Akan tetapi muncul beberapa pertimbangan dari orang-orang, ada yang mengatakan terbeng itu bisa dipakai lagi, ada juga yang menyarankan agar disakralkan, ada juga yang mengatakan bisa dipakai asal tak merubah sifatnya.”

Diceritakan oleh Pak Iswanto bahwa Tabutaan itu digambarkan dengan manusia besar atau meganthropus yang mempunyai sifat rakus sekali. Sosoknya yang suka sekali makan tanaman sekeliling hingga membuat orang-orang pada waktu itu ketakutan. Apalagi manusia raksasa itu tidak mempan oleh senjata. Musibah yang dibawa Tabutaan itu terjadi hingga bertahun-tahun. Kemudian muncullah seorang tokoh dari warga yang mempunyai ide untuk mengusir manusia besar itu. Dia satu-satunya orang yang memakai senjata pecut atau campuk untuk mengusir orang besar itu. Dengan pecut itu manusia raksasa itu tunggang langgang lari menjauh.

Pecut pada cerita Tabutaan ini juga mengandung arti bahwa manusia itu tidak mempan pada apa pun, tetapi ketika pecut itu bersuara keras maka hati manusia bisa bergidik ketakutan terbayang bagaimana sakitnya jika pecut itu mengenainya.

Untuk mengenang peristiwa bebasnya warga dari gangguan manusia raksasa maka warga mengadakan tasyakuran. Saat warga kumpul muncul perundingan yang temanya membicarakan bagaimana agar manusia besar serakah itu tidak datang lagi ke desa mereka, tercetuslah ide membuat pergelaran Tabutaan.

Pak Iswanto menerangkan bahwa jika meminjam kata-kata orang Madura, Tabutaan ini mengandung arti Tak butaan, “Tak” itu tidak, sedangkan “Butaan” mengandung arti buta tapi tidak, atau lebih sederhananya "ada tapi tiada". Istilah "ada tapi tiada" itu sangat berkaitan dengan Yang Maha Kuasa, Dia tidak terlihat tapi ada. “Sama halnya dengan kita menyebut nama Asma Allah. Kita tak bisa melihat-Nya, tapi Dia ada,” jelas Pak Iswanto.

Tabutaan sendiri ia berupa tarian yang bepasangan menggunakan kerenjing atau kurungan ayam yang tinggi. Dari tarian sendiri mempunyai arti. “Tarian kerenjing tak memperlihatkan orang di dalam kerenjing. Ini sangat berkaitan dengan nilai-nilai Islam, yakni mengambarkan bahwa jika kita memberi jangan sampai terlihat orang. Begitu juga dengan tarian kerenjing, orang di dalam kerenjing tak boleh memperlihatkan diri tapi mereka bisa menghibur orang banyak. Beda dengan tarian Remo,” begitu terang Pak Iswanto.

Tak cukup disitu saja, nilai Islam ada pada tarian Kerenjing yang harus berpasangan laki-laki dan perempuan. Kenapa? Sebab manusia itu apabila berpasangan maka nafsu birahinya berkurang atau tidak ada. Atau hidup memang perlu penyelaras seperti siang dan malam, baik dan buruk, maka Tabutaan sudah mewakili keberpasangan itu.

Kenapa muka Tabutaan itu sangat menyeramkan? Itu menggantikan gambaran masa lalu, dikaitkan dengan keserakahan. Merusak semua lingkungan dengan nafsu yang tidak bisa dibendung dan dikuasai oleh angkara murka.

Bagaimana cara agar sifat beringas dan merugikan itu bisa dikendalikan atau dibumihanguskan?

“Maka dari itu digambarkan dengan tali. Filsafatnya ketika nafsu itu muncul harus etale’en atau dikekang. Kalau sudah ditali, nafsu itu tidak bisa kemana-mana. Tali itu disimbolkan sebagai pasangan. Fakta masa lalu, orang pada zaman dulu tidak ada yang baca kitab, jadi lambang-lambang pada Tabutaan itu sebagai pembelajaran orang-orang pada era itu. Selain disimbolkan dengan tali, mengendalikan nafsu itu disimbolkan juga dengan dengan sanggeh atau tempat sesajen. Sebagaimana pada tarian tradisional umumnya,” terang Pak Iswanto.

Pak Iswanto sebagai ketua Duplang Nusantara, beliau mempunyai empat sanggar, yakni Putra Panji, Macan Terbang, Sinar Baru, Putra Barong. Masing-masing sangar punya karakter sendiri-sendiri, ada yang semi pencak silat, ada yang memakai sledro, ada juga pelog, dan variasi gabungan dari keduanya.

Mas Gusnov ingin kalau Tabutaan ini dibuat pertunjukan semacam teater agar masuk ke anjungan Jawa Timur di Taman Mini. “Saya ingin Tabutaan ini tak kalah dengan karnaval Jepang. Kalau di Jepang ada karnaval monster yang membedakan itu digarap dengan modern. Tetapi pada dasarnya mirip sekali dengan Tabutaan. Kalau Jepang bisa dikenal dengan karnaval raksasanya, kenapa tidak dengan Tabutaan? apalagi didukung oleh bukti fakta sejarah dan bukti telapak tangan. Itu sudah cukup, Pak!” tegas Mas Gusnov.

Terobosan ide dari Mas Gusnov adalah dengan memperkenalkan pada sekolah-sekolah di Jember, memakai panggung kecil, sebagaimana wayang golek. “Jadi tak perlu mendatangkan pertunjukan besar untuk mempertahankan budaya lokal ini. Dari pertunjukan kecil ini, anak-anak sekolah diharap kenal filosofi dari Tabutaan itu. Setidaknya ada tiga atau lima cerita sebagai penguatan filosif. Nah, nanti saat proses sosialisasi cerita, pasti bisa bercabang lagi dari kelima cerita tersebut. Misalnya suguhkan cerita proses pengusiran buta,” cetus Mas Gusnov.

Mas Gusnov menekankan kepada sekolah. 

Tujuan tersebut untuk menumbuhkan minat anak-anak sebagai generasi penerus untuk bisa mencintai dan tertarik pada Tabutaan dan bisa memiliki keinginan untuk mempelajari sejarah Tabutaan dan filosofi dibaliknya. Karena jika bukan mereka yang akan meneruskan siapa lagi?
Setelah dari rumah Pak Iswanto, kami beredar ke rumah maestro Tabutaan, bernama Pak Djalal. Pak Djalal adalah orang yang membuat bagan, kerangka, tulang-tulangan, bingkai, desain, tubuh, hingga membuat topeng dari Tabutaan.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Menuju ke kediaman Pak Djalal.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Beberapa topeng terpajang di rumah Pak Djalal.

Dari Pak Djalal, kami diperkenalkan beberapa profil dari topeng yang terpajang di ruang tamunya. Tak ketinggalan pula ditunjukkan beberapa topeng dan pernak-perniknya yang disimpan di ruang belakang atau dapur. Meski agak kepayahan memperlihatkan kepada kami beberapa karya-karya dari tangannya, sebagian disimpan di langit-langit, semacam amben atau lincak memanjang untuk tempat penyimpanan barang-barang kreasinya, Pak Djalal dengan suka hati memanjat agar bisa menunjukkan kepada kami.
naik untuk menunjukkan
Pak Djalal dengan topeng mentah Tabutaan.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Kayu beleng.

Beberapa potongan kayu yang akan dibuat instrumen terdiri batang-batang kayu dalam berbagai ukuran. Setiap batangnya dibuat untuk menyuarakan nada tertentu. Pak Djalal menerangkan batang yang lebih panjang akan menyuarakan nada yang lebih rendah, sebaliknya batang yang lebih pendek menyuarakan nada lebih tinggi. Kayu-kayu itu berasal dari pohon beleng, yakni pohon yang hidupnya di rawa, memiliki ciri daun atasnya biru, sedang bawah daunnya merah, bentuk daun seperti waru. Kayu tersebut lebih ringan dibanding kayu bayur. Kayu beleng termasuk kayu yang langka.

“Ini dek, kalau tipis terus diketuk suaranya sama seperti besi. Kalau didekatkan dengan pengeras suara, suara ketukan kayu ini kayak kenong. Merdu sekali,” terang Pak Djalal.

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

1 Comment:

  1. Semangat gan nulisnya, saling follow ya !!

    https://newsartstory.blogspot.com

    BalasHapus

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com