Januari 24, 2021

Menulis itu harus Memiliki Passion
menulis itu membutuhkan passion
Sifat enggak enakan itu indikasinya bisa dirasakan dalam hati. Hati ingin berkata ‘tidak’ tapi lisan ini sulit untuk bilang ‘tidak’ atau menggeleng untuk menolak. Jadi, ketika seseorang minta sesuatu, sebisa mungkin kita sanggupi meskipun sebetulnya kita bakal repot. 

Pada suatu hari... 

“Ad, aku ingin sepertimu, ingin punya buku karya sendiri. Kamu bisa buatin aku buku?” pinta seorang teman kepada saya. Saya hanya bisa tersenyum (baca: sedang mikir keras). 

“Sebab,” lanjut teman saya. “kisah hidupku sangat bagus kalau dibukukan. Penuh perjuangan. Apalagi pas aku bertemu sama istri. Penuh inspirasi dan perjuangan. Pasti banyak orang yang suka dengan kisahku.” 

“Em…gitu,” pendek saya. Tapi di hati nggrundel. Hati saya berkata, “Baik, aku sanggup. Tapi kamu berani bayar aku berapa? Bukan, bukan! Bukan karena aku mata duitan, bukan karena aku enggak nganggep kamu teman. Tapi, jika menulis ceritamu, aku harus siap menyisihkan waktu untuk menggarap kisah kamu yang menarik itu. Atau, pikiran, waktu, tenaga, habis ngerjain kisah-kisah kamu. Kamu harus tahu itu!” 

“Tapi, perlu waktu dan bia-biaya, bro…” begitu, kurang ketus. 

Siah! Aku kan temanmu sendiri. Atau begini saja, nanti kalau buku jadi, 60% buat kamu, sedang bagianku 40% wes, hayo gimana? Masa’ sama teman sendiri masih mikir-mikir!” 

Kali ini saya tertawa (baca: depresi mendadak). Dalam hati berkata, “Begini bro, kamu siapa? Maksudku, kamu kan bukan tokoh terkenal. Bukan juga tokoh sukses membangun perusahaan yang juga diakui oleh orang banyak. Percaya diri bahwa kisah hidupmu menarik itu bagus. Mencintai diri sendiri juga harus, tapi terlalu pede justru bikin kamu terjebak dalam pemahaman bahwa kamu selalu menarik dan patut dihargai. Jika demikian, hargai temanmu ini dulu, yang hendak menulis ini. Menulis itu tidak semudah ngomong bro.” 

booster wedang
Menulis butuh wedang sebagai booster.

Saya seruput kopi sambil berusaha santai. Sesantai-santainya. “Boleh juga aku bantu kamu. Tapi, dengan syarat kamu harus menulis kisahmu dulu, minim 100 lembar dulu. Nanti aku koreksi,” terang saya. Saya berpikir cara ini bakalan membuat teman saya mandeg, alasannya,

Karena tidak mudah mengubah kebiasaan minim membaca apalagi menulis di negeri ini.
Tapi diluar dugaan teman saya berkata. “Ok! kalau begitu, bro...” Selang beberapa hari kemudian. “Ad ini, aku cuma mampu menulis 2 lembar saja,” ujar teman saya. Sambil menyodorkan kertas. “Aku enggak bisa kalau sampai 100 lembar. Ini simpan dulu di kamu ya.” 

Saya cukupkan kisah di atas sampai di sini dulu. Ketahuilah, untuk melakukan sesuatu kita harus memiliki passion. Pun halnya dengan menulis—sekali lagi, menulis itu tak semudah ngorol—maka diperlukan passion atau gairah. Jika kita melakukan sesuatu dengan gairah maka dijamin tak akan pernah bosan dan lelah untuk melakukannya. Tapi jika tiba-tiba ingin meniru passion orang lain, mungkin hal itu akan membosankan dan sangat melelahkan. 

Ramadhan tahun 2019, dalam satu bulan saya menghasilkan dua buku di bawah sebuah perusahaan penerbitan. Setelah selesai kerja satu bulan di sana, saya harus menelan ludah (yang kering) pihak penerbit rupanya memberi 6 lembar seratus ribu rupiah alias enam ratus rupiah (Rp 600.000). Kisah ini bisa Anda simak dengan klik  "Jangan jadi Ghostwriter". Saya pulang kampung, ke Trenggalek, harus irit pengeluaran. Peristiwa itu saya sebut sebagai kejahatan literasi yang pertama menimpa saya. Semangat saya drop. Sempat absen lama tak menulis. Mungkin menurutmu saya tak akan menulis lagi.

Tapi, setelah balik lagi ke Jember saya berusaha membangun semangat dengan bertemu dengan Kung Iman Suligi, pegiat literasi. Pertemuan itu menghidupkan kembali semangat saya dalam berliterasi. 

Menurut saya jalan literasi ini bukan tempat bagi orang untuk mendapatkan pendapatan, meskipun mungkin telah melakukannya dengan baik untuk itu. Jalan literasi itu tentang sesuatu yang lebih dari itu. Sebuah nilai yang patutnya kita percayai bahwa orang dengan passion menulis itu dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Meskipun mungkin dengan cara berlahan. Sebab saya pernah melihat ulah siput menggunduli tanaman hias saya. Mahkluk lambat ini saya remehkan kemampuannya. Dari siput pula saya bisa belajar, meski kita bergerak lambat, tapi lebih berguna seperti itu daripada tidak sama sekali. Pun sama dengan jalan literasi di negeri ini, lambat, gairah juga sedikit.

Teman, lewat blog ini, saya berpesan milikilah passion dalam bidang tertentu jika kamu menginginkan kemajuan. Jangan meniruku, jangan pula meniru orang lain. Jika tetap ingin meniru, belajarlah dengan mengasah tiap hari, dan lagi-lagi harus dengan cinta (passion). Sebab passion memiliki manfaat yang sangat besar. Saya jabarkan ya, teman: 

1. Kamu selalu bersemangat

menulis di berbagai tempat
Menulis di dekat kompor, sambil masak.

Teman, sebagaimana saya tulis sepanjang ini, mungkin kamu berpikir, “apakah si penulis mendapatkan hasil dari menulisnya ini?” jawabannya: tidak. Mungkin karena passion yang memberikan saya full energy. Saya sekedar ingin membagi jurnal sederhana ini, agar pembaca bisa mengambil ibrah (yang sedikit ini). 

Teman, kamu pun mampu mengeluarkan ide-ide kreatif yang menakjubkan juga di bidang lain. Selain itu, kamu tidak mudah menyerah dan terus lurus dalam hal mengerjakan suatu pekerjaan. 

Semakin kamu rutin belajar setiap hari maka kreativitas kamu akan semakin terasah. 

2. Semakin maju dan berkembang

menulis di wc
Menulis di WC. 

Teman, menulis adalah satu diantara banyaknya bidang kreativitas. Jika kamu tertarik akan bidang lain, silahkan ambil. 

Temukan cinta (baca: passion) demi kemampuan kamu semakin meningkat. 
Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, prestasimu juga mengalami peningkatan. Kamu juga semakin aktif mencoba hal-hal baru, barangkali bisa menemukan inovasi untuk menjadikan bidang yang kamu tekuni lebih menyenangkan. 

Gambar di atas ini diambil di dalam water closet. Beginilah, jika kita mempunya passion terhadap suatu bidang kadang kala berusaha untuk menyepatkan diri meski waktu yang dipunyai sedikit. Jika mengenai ide tulisan, kadang kala ide tiba-tiba muncul sementara kita belum siap. Gambar di atas ini jangan ditiru karena ada yang lebih baik untuk menangkap ide.

3. Membuat lebih fokus

Teman, jika kamu punya passion berarti kamu punya modal lebih kuat dalam membangun mimpimu.

Sebab passion bikin kamu jadi fokus dan konsentrasi. 
Kamu juga bisa menyelesaikan pekerjaan (dalam bidang itu) dengan cepat, bahan sebelum deadline yang ditentukan. Dengan begitu, kamu bisa mencapai hasil yang maksimal. 

4. Serasa hiburan

Teman, jika kamu punya passion dalam suatu bidang, maka bersyukurlah. 

Sebab kamu bakal bekerja seolah kamu tidak sedang bekerja, malah seperti melakukan kegiatan yang membuat kamu terhibur, senang, dan ikhlas. 
Selain itu kamu bisa menikmatinya dalam setiap proses kerja. 

Sekian tulisan ini, teman. Tulisan dari hati yang terdalam. Semoga menginspirasimu, bro

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

0 Comment:

Posting Komentar

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com