Desember 21, 2020

Penulis dan Nun
penulis
Dengan tulisan, manusia, walau telah meninggal dunia, tetap mampu memberi manfaat kepada orang lain yang masih hidup. Mengutip kata-kata mendiang Pramoedya Ananta Toer, 
“Menulis itu bekerja untuk keabadian.”
Memang benar, karya tulis seseorang dapat menjadi lebih panjang dari usia penulisnya sendiri. Seperti mana karya Pramoedya Ananta Toer berjudul “Arok Dedes” masih saya nikmati ditahun 2020. Sementara Pram sudah tak ada lagi di Bumi sejak tahun 2006 silam. Buku tersebut saya beli saat ada pameran buku di Shah Alam, ibu kota negara bagian Selangor, Malaysia. Ya, karya Pram dinikmati oleh orang-orang negeri sebelah juga. Dengan tulisan pula manusia dapat menyimpan bermacam-macam pengetahuan dan informasi yang tidak terbatas pada waktu dan ruang. 

shah-alam
Tanggal pembelian untungnya masih tercantum

saad-pamungkas
Karya Pram tak lekang oleh waktu. 

Bahkan Allah bersumpah menyebut salah satu huruf fonemis (lambang bunyi atau huruf) yang digunakan bahasa Arab yaitu ﻥ (nun), dan bersumpah pula dengan Qalam (pena) dan apa yang ditulis oleh para penulis.
Nun. Demi kalam dan apa yang mereka tulis."
Dari ayat surah al-Qalam di atas ini kita akan tahu betapa penting huruf-huruf dan rangkaiannya yang menghasilkan tulisan yang mengandung informasi dan pengetahuan. 

Dahulu alat tulis berupa kayu yang ujungnya diruncingkan, oleh sebab itu alat tulis dinamai “qalam” yang diambil dari akar kata bahasa Arab “qalama” (قَلّمَ-يُقَلِّمُ) berarti memotong. Secuil pengetahuan bahasa Arab ini saya dapatkan dari teman yang sedang menimba ilmu bahasa Arab di Jember.

Alat tulis berkembang, dari yang tadinya menggunakan kayu yang diruncingkan, kemudian sekitar tahun 1950 hingga 1970an di Indonesia pelajar-pelajar masih menggunakan sabak. Informasi itu didapat dari kesaksian seorang pegiat literasi yang lahir di tahun 7 Maret 1950, Kung Iman Suligi. Beliau menjelaskan bahwa sabak mirip dengan papan tulis tapi ukurannya kecil. Semacam tablet besar tapi tanpa baterai. Berbobot karena terbuat dari lempengan batu karbon segi empat. Menulisnya menggunakan grip yang berbentuk mirip dengan stylus-nya smartphone merk tertentu. 

alat-tulis-zaman-dahulu
Yang ditenteng itu adalah alat tulis bernama sabak (photo: www.salamyogyakarta.com)

Dan sekarang, lahir teknologi cetak-mencetak, sebagaimana yang Anda baca sekarang ini, tulisan ini ditulis menggunakan laptop.

Di zaman digital ini, kesempatan manusia untuk meraih pengetahuan semakin besar. Wawasan tidak saja menjadi lebih banyak, tetapi kecepatan pelipatgandaannya pun semakin cepat. 

Jika kita membaca dan mendalami Al-Quran, kita akan mendapati bahwa Nabi Muhammad diutus untuk mengajarkan al-kitab dan hikmah. Mengajarkan al-kitab antara lain dipahami dalam arti mengajar tulis baca, atau paling tidak mengajarkan apa yang ada di dalam Al-Quran. Perhatian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kepada literasi tulis-baca terlihat jelas, ketika beliau membebaskan tawanan Perang Badr dengan syarat mereka bersedia mengajar umat Islam tulis baca. Memang, literasi tulis-baca adalah anugerah Ilahi yang besar sekali dan termasuk salah satu dari tiga penemuan manusia yang terbesar, disamping roda dan api.

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

0 Comment:

Posting Komentar

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com