Desember 14, 2020

Jomblo Berilmu
jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember-jomblo-hebat-saad-pamungkas-media-pamungkas-hebat-penulis-best-seller-jomblo-jember
Siapa yang enggak tahu dengan istilah “jomblo”? Ya, istilah ini sangat populer dikalangan anak-anak muda. Jika seseorang anak muda tersemat dengan istilah ini kadang-kadang membuat tidak nyaman dan gelisah dalam pergaulan. Why? Santai saja. Jangan mengeluh. 

Ketika seseorang laki-laki mengungkapkan cintanya kepada lawan jenis, tapi sekedar ucapan belaka tanpa membawa dirinya menghadap ke calon mertua dengan komitmen, laki-laki ini perlu dipertanyakan kelelakiannya? Kenapa? Ya, pastinya mentalnya kecil. Kalau lelaki sejati ia akan menyukai lawan jenis dengan tindakan atau aksi dengan mengikatnya lewat jalinan pernikahan, tentunya sebelumnya sudah melakukan pertimbangan kepada calon pasangannya yakni dengan melihat agama, paras, harta, dan keturunan. Nah, kalau sudah melakukan penilaian, dan menurutnya sudah bagus, langkah selanjutnya datang ke rumah orang tuanya. Itu namanya laki-laki keren! 

Bukan malah sebaliknya, mengungkapkan cinta di depan si dia, memberi bunga, menghadiahkan kado, chat mesra, tapi statusnya pacaran, dengan alasan, “lah, kalau menikah langsung kan enggak tahu sifatnya seperti apa?” jika dalihnya demikian maka laki-laki ini berarti belum melakukan survei terhadap pasangannya. Kalau ingin tahu sifat atau karakternya baik atau sebaliknya, kan bisa survei dengan bertanya ke tetangganya, bisa juga bertanya ke saudaranya, bisa juga bertanya ke teman dekatnya, tanya ke gurunya, atau siapa pun pihak yang mengenal calon yang hendak dijadikan pasangan hidup. 

Jika merasa siap untuk menikah, tapi tak kunjung datang jodohnya, jadikan keadaan tersebut nyaman dengan status jomblo karena ada hikmah dibalik status ini. Mungkin kamu memang disuruh untuk mencari kesibukan yang kreatif oleh Sang Pemegang Jodoh. Mungkin kamu sedang disuruh Dia untuk berusaha menggali potensimu semaksimal mungkin dengan status kelajanganmu itu. Jangan sia-siakan kesempatan baik yang sangat berharga. Banyak pelajaran yang bisa didapatkan saat kamu menjabat sebagai jomblo. Contohnya seperti apa? 

Dengan kegiatan menulis. Ya, ini adalah salah satu diantaranya banyaknya kegiatan positif lainnya.

Ya, karena tulisan ini tidak dinukil dari mana pun, maka ini saya ambil dari pengalaman pribadi saya. Kegiatan menulis sudah saya lakukan sejak lama, semasa masih jomblo. Dua cerpen mengenai kejombloan semasa saya jomblo sudah lahir, diantaranya “Diary si Cowok Badan” dan “Struk Cinta”, kedua karya tulis ini adalah refleksi dari hati saya dalam proses mencari jodoh. Saya percaya, dengan menulis karya tulis kemudian tulisan tersebut dibagikan ke khalayak—mungkin—akan terbantu dengan perspektif dari saya mengenai kejombloan dan hikmahnya. 

Toh, lambat laun, dari dua tulisan itu ada beberapa pembaca yang memberi tahu bahwa mereka merasa terhibur dan sepakat dengan tulisan saya tersebut bahwa status jomblo itu sebenarnya tidak masalah, yang masalah itu ketika kamu termakan oleh omongan orang lain mengenai status kejombloanmu. Dan nilai plus, mereka juga suka dengan gaya bahasa yang saya bawakan. Akhirnya berteman lewat facebook, dan punya kontak mereka di whatsApp. 

Ketika saya sudah status menikah, tulisan-tulisan kejombloan dulu bisa menjadi kilas balik betapa dulu sangat bersyukur sudah mencoba dan belajar menulis, bergabung dengan komunitas kepenulisan, dan merantau. Ohya, pemuda itu harus merantau, karena begitu banyak yang bisa diambil dari perjalanan jauh di tempat asing, kamu bisa membacanya di bab Perantau Hebat.

Ada yang lebih hebat, kisah seorang teman saya yang berasal dari Pekanbaru yang merantau ke Jember, untuk menimba ilmu di sebuah universitas swasta. Yang diambil jurusan ahwal syakhsiyyah atau jurusan fiqih. Ia lebih muda dari adik saya satu tahun, lahir tahun 1995. Tapi kalau urusan ilmu agamanya, jujur, saya kalah telak. Dia menjadi guru tahsin saya, karena secara mahraj dan ilmu tajwidnya saya akui jempol. Apalagi dia pernah menjadi imam di kampusnya, dibelakangnya (jamaahnya) ada mahasiswa, dosen, bahkan rektor. Itulah kenapa saya memilih dia sebagai guru ngaji. 

Saat guru saya tersebut saya jadikan teman, banyak sekali kebaikan manfaat yang saya ambil dari dia, utamanya ilmunya. Baru pertama kali saya berteman dengan seorang yang lebih muda dari usia saya, statusnya jomblo dan ilmu agamanya mumpuni. Dia berkata, pacaran tidak ada dalam Islam, bahkan sekalipun yang laki-laki berbusana muslim sementara yang perempuan berkerudung, tetap saja jika berdua, apalagi bersentuhan fisik, itu tak ada dalam Islam. 

Di berbagai kesempatan dia terlihat sangat fokus pada mata pelajaran kuliahnya. Bahkan  pada waktu senggangnya dia mondar-mandir ke sana-kemari, melihat pemandangan sekitar, sesekali mengambil sesuatu di saku bajunya, berupa buku kecil, kemudian lanjut berkomat-kamit lagi. Saat saya mendekat, rupanya dia membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, mencoba untuk menghapalkannya dari buku kecil yang rupanya al-Qur'an. Kemudian saya bertanya, kenapa dia menghapal sambil berjalan-jalan? Kan lebih enak kalau duduk manis, dan tentunya lebih mudah untuk fokus. Jawabannya tak pernah terpikirkan saya sebelumnya, katanya, 
“Saya enggak mau hanya dengan duduk bisa fokus menghapal. Saya ingin menghapal dengan berbagai keadaan, sambil beraktivitas, sambil main bola, sambil touring. Sebab jika seseorang itu bisa hapal dengan keadaan duduk atau keadaan tenang, berarti dia tergantung dengan keadaan seperti itu saja. Saya sebut dia masih belum bisa dikatakan penghapal.” 
Luar biasa. Status jomblonya membuat dia fokus meng-upgrade dirinya sebelum nantinya menikah. Dia ibarat berkendaraan di jalan tol, bebas dari gangguan seperti harus chatting-an atau kencan dengan pacar. Gangguan yang membuat proses upgrade tertunda atau malah menunda proses kuliahnya. 

Saat saya tanya kapan dia nikah. “Sudah ada calonnya, Mas. Tinggal tunggu masanya.” Waw, sudah ada calonnya tapi seperti tidak punya calon. Sebab tak pernah sekali pun saya jumpai aktivitas membonceng calonnya di belakang motornya, atau menunda pertemuan karena dia sedang bersama calonnya, seperti pada umumnya saya lihat. 

Sekarang dia berstatus ayah. Mempunyai anak satu. Masih sempat mengajar dan berstatus wali kelas di suatu SMP. 

Bagi para jomblo yang kebetulan membaca tulisan ini, jadilah jomblo dengan kualitas tinggi, dengan karya atau pun prestasi yang bisa membanggakan dirimu maupun orang tua dan kerabat terdekat. Aamiin. 
Jangan malu dengan status jomblomu. Benahi dirimu sebelum menikah kelak. 
Semoga tulisan ringan ini bermanfaat. 

Gemar menulis dan membaca dua aktivitas ini yang menjadi kendaraan saya menjadi penulis, untuk menambah kenalan di Tanah Air maupun luar negeri, yang punya passion sama dibidang literasi.

0 Comment:

Posting Komentar

Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com