Welcome to Media Pamungkas

Assalamualaikum,
Selamat datang di website Media Pamungkas. Website ini diprakasai oleh Saad Pamungkas, seorang praktisi literasi, yang ingin mendedikasikan website-nya untuk dunia kepenulisan, khususnya di Jember.


LITERATOR

Kenalan dengan tokoh literasi memang banyak manfaatnya, diantaraya menambah pengalaman dan memperkaya sudut pandang saya dalam meniti di jalan literasi ini. Saya bersyukur, meskipun mereka senior dan superior dalam hal pengalaman dan berkarya dibanding saya, tapi mereka rendah hati menyambut kedatangan saya dan menerima saya sebagai teman literasi mereka. Siapa sajakah mereka?

Tentang

MEDIA PAMUNGKAS

Merupakan mediator dengan tindakan responsif dibidang literasi, percetakan dan penerbitan. Sehingga individu maupun kelompok (diharapkan) bisa terbantu di jalan literasi. Beriktikad menjadi wadah tanya, jawab dan aksi di jalan literasi. Sehingga Indonesia—khususnya para pemuda-pemudi, tak ketinggalan pula anak-anak—mempunyai cinta yang wujud dalam berliterasi dan bisa menjadi negeri berliterat dengan animo masyarakat dalam hal baca dan tulis meningkat.

Menjadi mediator untuk percetakan buku yang bernomor ISBN (International Standard Book Number), juga mediator di bidang jasa penerbit dan percetakan dengan segmentasi pembaca anak muda remaja sampai dewasa.

Layanan

Yang ditawarkan?

MEDIATOR PERCETAKAN

Mediator untuk percetakan buku bernomor ISBN (International Standard Book Number), yakni kode pengidentifikasian suatu buku yang diterbitkan oleh penerbit.

BEKERJA SAMA

Berupaya bisa bekerja sama dengan penulis, translator/penerjemah bahasa asing, desainer grafis, pengetikan (sistem 10 jari), layouter, content writer, editor/penata aksara.

MENEBAR ILMU KEPENULISAN

Dengan membuka class writing atau kelas kepenulisan, dengan perorangan atau pun bekerja sama dengan orang yang berkompeten.

KOMUNITAS KEPENULISAN

Membuat komunitas kepenulisan yang bisa menghasilkan karya tulis.

INOVASI DALAM LITERASI

Berinovasi dengan pernak-pernik literasi.

MEDIA SUPPORT LITERASI

Sebagai mediator bagi orang yang ragu akan menerbitkan karya tulis perdananya.

img

Saad Pamungkas

Founder, Media Pamungkas

Untuk menjadi seorang penulis, yang diperlukan adalah praktik untuk mencintai kegiatan membaca. Karena cinta itu membuahkan!.

img

Media Pamungkas

Mediator Literasi, Percetakan Dan Penerbitan

Jika seseorang itu kenyang kemudian dipaksa makan lagi maka ia akan muntah-muntah. Itu Lumrah. Hal itu sama juga dengan membaca, bentuk muntahan akibat banyak membaca, adalah berupa tulisan dan wawasan.

img

Saad Pamungkas

Penulis Buku

Buku biografi adalah tambahan umur dan jejak yang sulit dihapus dari seorang penulis ataupun tokoh yang ditulis.

Kelompok Penulisan Saya

KATEGORI

Ada beberapa kategori kepenulisan saya. Diantaranya adalah?

Photography 95%
Videography 85%
WEB DESIGN 75%
Illustrator 60%
image
Project
Kategori Project
image
Tulisan
Kategori Artikel
image
Jurnal
Kategori Jurnal
image
Program
Kategori Program
Blog

LATEST FORM Blog

Diah, Ibu Rumah Tangga Sekaligus Blogger dan Writer

blogger indonesia jember
Selama ini orang selalu menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang ringan. Ya, anggapan ini pernah hinggap pada diri saya juga. Tapi itu dulu, saat saya masih belum berkeluarga. Belum beristri. Saya beranggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak ada hal yang berat yang harus dikerjakan, hanya menunggui anak main dan suami pulang. Titik. Begitulah pikiran orang lajang. Ya, saya yang dulu.

Tapi, setelah menikah dan mempunyai anak, anggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga mudah rupanya salah. Apalagi ketika saya punya anak, saya harus membuang sikap perfeksionis pada diri saya. Salah satu contohnya, membuang kritik berlebihan terhadap rumah berantakan karena si anak. Mengkritik istri untuk urusan rumah adalah jalan salah menuju keretakan sedikit atau bahkan lebih terhadap hubungan suami-istri. Istri harus dibantu adalah tindakan yang tepat.

Memang, para jaka tak dapat ilmu dari bangku sekolahan mengenai mengatur manajemen rumah, mengasuh anak, menyiram tanaman, menyiapkan segala kebutuhan keluarga dan seabrek kerjaan rumah lainnya. Begitulah kesibukan para ibu. Nilai tambah yang harus suami puji ketika istri memanfaatkan waktu dengan mengasah keterampilan dan berkreatifitas, misalnya seperti menulis. Sebagaimana teman blogger saya, yang satu grup dengan komunitas The Jannah Institute, bernama Diah Mumpuni Afrianti. Aktifitas beliau sekarang sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki. Di lingkar komunitas, tentunya beliau dikenal sebagai writer dan blogger.

Mbak Diah, begitulah saya sebut di sini, beliau dulu pasca lulus SMA, hijrah ke kota Gudeg, Yogyakarta, untuk melanjutkan pendidikan di jenjang universitas di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil. Uniknya, beliau merasa salah jurusan. Sebab sebenarnya passion Mbak Diah adalah menulis. Mbak Diah menyebut passion menulisnya itu ibarat seperti permen karet yang menempel pada pakaian. Disela-sela kegiatan kampus yang super padat, Mbak Diah masih sempat terus menulis, beliau melakukannya ketika ada waktu senggang di kamar kos.

Setelah beliau selesai kuliah, balik lagi ke Jember. Tapi, meski begitu beberapa kenangan akan Kota Yogyakarta tak bisa dilupakannya, oleh karena itu beliau menulis kenangan tersebut pada website pribadinya, dengan judul LAVA TOUR, KISAH TRAGIS ERUPSI GUNUNG MERAPI, JOGJA: PERJALANAN AKHIR TAHUN 2020. Tulisannya detail dan otentik, sehingga saya bisa menyelam lagi ke Yogyakarta, dulu juga sempat mempunyai kenangan waktu kos di Sorowajan, Bantul, termasuk Yogyakarta sendiri.

Meski tidak harus berangkat ke kampus lagi atau ngantor, tentunya dengan menjadi seorang ibu dengan dua anak, pasti akan tetap pekerjaannya banyak. Pekerjaan itu bahkan dimulai dari saat bangun tidur sampai nanti sebelum tidur. Diawali dari membangunkan anak-anak, memasak, mencuci baju, mencuci piring, dan banyaaak jika ditulis di sini.

blogger indonesia jember
Pekerjaan yang tak ada habisnya.

Bagaimana ceritanya beliau join di group The Jannah Institute?

Pada suatu hari , pada tahun 2019, Mbak Diah melihat iklan mampir di salah satu grup whatsApp-nya. Biasanya, Mbak Diah jarang menaruh perhatian pada iklan-iklan di grup. Tapi tulisan di iklan tersebut menarik buatnya. Tema iklan tersebut adalah freelancer writer, dimentori oleh Prita HW.

Berawal dari iklan tersebut, Mbak Diah akhirnya ikut serta, singkat kata masuk di group The Jannah Institute, group atau komunitas besutan Mbak Prita HW.

Nah, bagi Anda yang seorang ibu rumah tangga, Anda bisa juga menjadi penulis. Tidak harus best seller atau master piece, karya Anda setidaknya abadi dan mempunyai nilai manfaat yang berterus-terusan atau amal jariyah. Apa tidak ingin bagi Anda yang suka menulis diary ketika masih duduk di bangku SD dan gemar dengan pelajaran mengarang, untuk kemudian menjadi penulis?

Mbak Diah sendiri memiliki karya-karya tulis. Diantaranya “Masa Lalu, Terima Kasih Atas Semuanya” (Non Fiksi, Antologi, 2019), “Memoar dan Memar” (Non Fiksi, Antologi, 2020), “Lika-liku Profesi” (Non Fiksi, Antologi, 2020) dan “Tumbuh Setelah Patah” (Fiksi-Prosais, Antologi, 2021).

Jika Anda ingin berkenalan dengan beliau, sila hubungi di websitenya: www.diahmumpuni.com. Akun instagramnya: @dee_afr

Berliterasi dengan Kesenian Tradisional Tabutaan

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Bisa menyambung relasi dengan Bunda Suci, seorang puskawan, pembina dan pengurus di tim sastra sekaligus penggerak literasi adalah suatu keberuntungan bagi saya atau pegiat-pegiat literasi Jember lainnya. Bagi pegiat literasi seperti saya, bisa berkenalan dengan beliau adalah tepat, saya yakin, bukan hanya saya seorang tapi siapa pun pegiat literasi di Jember akan digerakkan ke dunia literasi yang lebih luas cangkupannya. Artinya tak cukup sekedar literasi keaksaraan atau baca-tulis. Sebagaimana hari kamis, tanggal 5 maret 2021, kami berempat, Bunda Suci, Mas Gusnov, Mas Gunawan Trip, dan Saad Pamungkas, telah mendalami salah satu literasi budaya yang berada di Bendelan, Arjasa, atau Jember bagian utara. Tak dinyana, saya pun ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut dalam rangka pelestarian kebudayaan lokal di Arjasa, yakni Tabutaan. Tabutaan adalah tarian tradisional yang disajikan dalam bentuk tarian unik, yang dibawakan oleh rekaan raksasa yang tingginya dua atau tiga meter lebih.

Tepatnya di rumah kediaman Pak Iswanto sebagai ketua sanggar Duplang Nusantara. Pak Iswanto adalah salah satu orang yang mempertahankan budaya lampau warisan moyang yang tetap dirawat bahkan ditumbuhkembangkan.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Bunda Suci membuka pembicaran.

Bunda Suci dalam pembukaan pembicaraan tersebut mengatakan bahwa kebudayaan memegang peranan sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa. 

Termasuk kebudayaan Arjasa yang merupakan salah satu kekayaan dan identitas bangsa yang harus dipertahankan. 
Bunda Suci dalam kesempatan itu mengungkapkan juga bahwa dirinya ingin sekali Tabutaan menggelar sebuah pagelaran, sampai ke depan nantinya bisa menjadi ikon Jember. Selain itu, pagelaran ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Jember kepada khalayak, khususnya warga Jember sendiri, kemudian wisatawan asing. Dengan adanya pageralan ini diharapkan Kebudayaan Arjasa bisa dikenal tidak hanya di Jember atau Indonesia tapi bisa dikenal di Mancanegara, sebagaimana JFC (Jember Fashion Carnaval) besutan Dynand Fariz.

“Kita bisa melangkah bersama demi tujuan bersama, untuk mekanisme menuju tujuan tersebut monggo bisa dirembuk bersama di sini,” kata Bunda Suci.

Kemudian giliran pegiat literasi yang inovatif, Mas Gusnov, beliau mengatakan bahwa Tabutaan ini mengandung filosofi yang sangat dalam. Sebagaimana Jegogan, yakni pementasan yang berupa pojian (nyanyian) di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, yang mempertontonkan batu seberat sepuluh kiloan pukul-memukul, dibalik itu ada nilai filosofi bahwa orang yang sering dijegog (dalam bahasa Indonesia: dibogem punggung belakang) maka tak mudah sakit hati. “Di Bondowoso ada pertunjukan yang mempertontonkan cobek besar dengan pemain sepuh-sepuh. Jika ditarik dari segi budaya komunitas itu, contohnya kita mungkin dalam berinteksi saling bertengkar tapi tidak dimasukkan hati. Nah, kalau Tabutaan ini nilai filosofinya itu menarik juga, yakni menertawakan nafsu manusia itu sendiri sebagai bahan tertawaan. Jadi kita dalam pertunjukan itu sebenarnya menertawakan diri sendiri,” terang Mas Gusnov.

Setelah itu Pak Iswanto sebagai selaku ketua sanggar seni mengungkapkan bahwa kedatangan kami membuat dirinya senang. Rupanya masih ada yang peduli akan budaya dan ekonomi di Jember. “Kita sebagai warga Jember, sering mendengar banyak orang yang mengatakan Jember tidak punya kebudayaan. Tapi, jika ditelisik lebih dalam lagi, sebenarnya orang Jember itu sendiri yang tak peduli dengan kebudayaannya sendiri. Coba lihat disekeliling sini, masih ada batu kenong, bahkan bukan di satu tempat saja. Ada juga lumpang dan dakon,” jelas Pak Iswanto.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Pak Iswanto, ketua Duplang Nusantara.

Pak Iswanto tergerak dan tak akan menyurutkan tekatnya untuk memperkenalkan kebudayaan Arjasa, yakni Tabutaan, pada generasi penerus sehingga kebudayaan itu tidak musnah dan tetap dapat bertahan.

Pak Iswanto yang menyebut dirinya sebagai warisan dari leluhur, mempunyai wawasan dengan fakta sejarah Tabutaan. Menurutnya, jika dikaji secara komprehensif lagi Arjasa itu mempunyai fakta peningggalan prasejarah berupa jejak-jejak meganthropus yakni manusia besar, ada jejak telapak tangan raksasa.

Kemudian, fakta sejarah selanjutnya dari peradaban Indonesia zaman dulu, ketika budha masih menjadi mayoritas di masyarakat. Melihat peta-peta sejarah Tegal Balgu, selain ia di Puger, Sadeng, perjalanan Hayam Wuruk juga ke arah Besuki. Kemudian sekarang orang-orang Jember mengenal dengan nama Tegal Bago.

Kemudian pada era Brawijaya atau pada penguasa Majapahit, ada beberapa sumber arkeologis yang bisa ditemui pada makam dilihat dari maesan atau tulisannya. Bahkan batu nisannya pakai batu karang, sementara di Arjasa ini jauh dari pantai. Pengaruh islam tak luput juga masuk pada seni, tari, dan musik. Bahkan pada gamelannya tertulis ayat-ayat sholawat badri.

“Bahkan terbeng sendiri punya arti tersendiri,” terang Pak Iswanto. “Yakni menabuh dari malam sampai subuh sampai matanya geger (jatuh) tangannya ngeter (bergetar). Terbengnya ada sampai sekarang, usianya sudah 100 tahun. Akan tetapi muncul beberapa pertimbangan dari orang-orang, ada yang mengatakan terbeng itu bisa dipakai lagi, ada juga yang menyarankan agar disakralkan, ada juga yang mengatakan bisa dipakai asal tak merubah sifatnya.”

Diceritakan oleh Pak Iswanto bahwa Tabutaan itu digambarkan dengan manusia besar atau meganthropus yang mempunyai sifat rakus sekali. Sosoknya yang suka sekali makan tanaman sekeliling hingga membuat orang-orang pada waktu itu ketakutan. Apalagi manusia raksasa itu tidak mempan oleh senjata. Musibah yang dibawa Tabutaan itu terjadi hingga bertahun-tahun. Kemudian muncullah seorang tokoh dari warga yang mempunyai ide untuk mengusir manusia besar itu. Dia satu-satunya orang yang memakai senjata pecut atau campuk untuk mengusir orang besar itu. Dengan pecut itu manusia raksasa itu tunggang langgang lari menjauh.

Pecut pada cerita Tabutaan ini juga mengandung arti bahwa manusia itu tidak mempan pada apa pun, tetapi ketika pecut itu bersuara keras maka hati manusia bisa bergidik ketakutan terbayang bagaimana sakitnya jika pecut itu mengenainya.

Untuk mengenang peristiwa bebasnya warga dari gangguan manusia raksasa maka warga mengadakan tasyakuran. Saat warga kumpul muncul perundingan yang temanya membicarakan bagaimana agar manusia besar serakah itu tidak datang lagi ke desa mereka, tercetuslah ide membuat pergelaran Tabutaan.

Pak Iswanto menerangkan bahwa jika meminjam kata-kata orang Madura, Tabutaan ini mengandung arti Tak butaan, “Tak” itu tidak, sedangkan “Butaan” mengandung arti buta tapi tidak, atau lebih sederhananya "ada tapi tiada". Istilah "ada tapi tiada" itu sangat berkaitan dengan Yang Maha Kuasa, Dia tidak terlihat tapi ada. “Sama halnya dengan kita menyebut nama Asma Allah. Kita tak bisa melihat-Nya, tapi Dia ada,” jelas Pak Iswanto.

Tabutaan sendiri ia berupa tarian yang bepasangan menggunakan kerenjing atau kurungan ayam yang tinggi. Dari tarian sendiri mempunyai arti. “Tarian kerenjing tak memperlihatkan orang di dalam kerenjing. Ini sangat berkaitan dengan nilai-nilai Islam, yakni mengambarkan bahwa jika kita memberi jangan sampai terlihat orang. Begitu juga dengan tarian kerenjing, orang di dalam kerenjing tak boleh memperlihatkan diri tapi mereka bisa menghibur orang banyak. Beda dengan tarian Remo,” begitu terang Pak Iswanto.

Tak cukup disitu saja, nilai Islam ada pada tarian Kerenjing yang harus berpasangan laki-laki dan perempuan. Kenapa? Sebab manusia itu apabila berpasangan maka nafsu birahinya berkurang atau tidak ada. Atau hidup memang perlu penyelaras seperti siang dan malam, baik dan buruk, maka Tabutaan sudah mewakili keberpasangan itu.

Kenapa muka Tabutaan itu sangat menyeramkan? Itu menggantikan gambaran masa lalu, dikaitkan dengan keserakahan. Merusak semua lingkungan dengan nafsu yang tidak bisa dibendung dan dikuasai oleh angkara murka.

Bagaimana cara agar sifat beringas dan merugikan itu bisa dikendalikan atau dibumihanguskan?

“Maka dari itu digambarkan dengan tali. Filsafatnya ketika nafsu itu muncul harus etale’en atau dikekang. Kalau sudah ditali, nafsu itu tidak bisa kemana-mana. Tali itu disimbolkan sebagai pasangan. Fakta masa lalu, orang pada zaman dulu tidak ada yang baca kitab, jadi lambang-lambang pada Tabutaan itu sebagai pembelajaran orang-orang pada era itu. Selain disimbolkan dengan tali, mengendalikan nafsu itu disimbolkan juga dengan dengan sanggeh atau tempat sesajen. Sebagaimana pada tarian tradisional umumnya,” terang Pak Iswanto.

Pak Iswanto sebagai ketua Duplang Nusantara, beliau mempunyai empat sanggar, yakni Putra Panji, Macan Terbang, Sinar Baru, Putra Barong. Masing-masing sangar punya karakter sendiri-sendiri, ada yang semi pencak silat, ada yang memakai sledro, ada juga pelog, dan variasi gabungan dari keduanya.

Mas Gusnov ingin kalau Tabutaan ini dibuat pertunjukan semacam teater agar masuk ke anjungan Jawa Timur di Taman Mini. “Saya ingin Tabutaan ini tak kalah dengan karnaval Jepang. Kalau di Jepang ada karnaval monster yang membedakan itu digarap dengan modern. Tetapi pada dasarnya mirip sekali dengan Tabutaan. Kalau Jepang bisa dikenal dengan karnaval raksasanya, kenapa tidak dengan Tabutaan? apalagi didukung oleh bukti fakta sejarah dan bukti telapak tangan. Itu sudah cukup, Pak!” tegas Mas Gusnov.

Terobosan ide dari Mas Gusnov adalah dengan memperkenalkan pada sekolah-sekolah di Jember, memakai panggung kecil, sebagaimana wayang golek. “Jadi tak perlu mendatangkan pertunjukan besar untuk mempertahankan budaya lokal ini. Dari pertunjukan kecil ini, anak-anak sekolah diharap kenal filosofi dari Tabutaan itu. Setidaknya ada tiga atau lima cerita sebagai penguatan filosif. Nah, nanti saat proses sosialisasi cerita, pasti bisa bercabang lagi dari kelima cerita tersebut. Misalnya suguhkan cerita proses pengusiran buta,” cetus Mas Gusnov.

Mas Gusnov menekankan kepada sekolah. 

Tujuan tersebut untuk menumbuhkan minat anak-anak sebagai generasi penerus untuk bisa mencintai dan tertarik pada Tabutaan dan bisa memiliki keinginan untuk mempelajari sejarah Tabutaan dan filosofi dibaliknya. Karena jika bukan mereka yang akan meneruskan siapa lagi?
Setelah dari rumah Pak Iswanto, kami beredar ke rumah maestro Tabutaan, bernama Pak Djalal. Pak Djalal adalah orang yang membuat bagan, kerangka, tulang-tulangan, bingkai, desain, tubuh, hingga membuat topeng dari Tabutaan.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Menuju ke kediaman Pak Djalal.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Beberapa topeng terpajang di rumah Pak Djalal.

Dari Pak Djalal, kami diperkenalkan beberapa profil dari topeng yang terpajang di ruang tamunya. Tak ketinggalan pula ditunjukkan beberapa topeng dan pernak-perniknya yang disimpan di ruang belakang atau dapur. Meski agak kepayahan memperlihatkan kepada kami beberapa karya-karya dari tangannya, sebagian disimpan di langit-langit, semacam amben atau lincak memanjang untuk tempat penyimpanan barang-barang kreasinya, Pak Djalal dengan suka hati memanjat agar bisa menunjukkan kepada kami.
naik untuk menunjukkan
Pak Djalal dengan topeng mentah Tabutaan.

tabutaan manusia raksasa arjasa literasi kebudayaan Jember
Kayu beleng.

Beberapa potongan kayu yang akan dibuat instrumen terdiri batang-batang kayu dalam berbagai ukuran. Setiap batangnya dibuat untuk menyuarakan nada tertentu. Pak Djalal menerangkan batang yang lebih panjang akan menyuarakan nada yang lebih rendah, sebaliknya batang yang lebih pendek menyuarakan nada lebih tinggi. Kayu-kayu itu berasal dari pohon beleng, yakni pohon yang hidupnya di rawa, memiliki ciri daun atasnya biru, sedang bawah daunnya merah, bentuk daun seperti waru. Kayu tersebut lebih ringan dibanding kayu bayur. Kayu beleng termasuk kayu yang langka.

“Ini dek, kalau tipis terus diketuk suaranya sama seperti besi. Kalau didekatkan dengan pengeras suara, suara ketukan kayu ini kayak kenong. Merdu sekali,” terang Pak Djalal.

Dapat Hadiah dari Malaysia

literasi dapat hadiah
Saya sempat bertanya-tanya, apa memang di kota saya, Jember, minat beli buku kurang? Atau memang minat baca minim? Atau fasilitas bacaaan yang kurang sehingga minat baca kurang? atau harga buku apa masih dinilai mahal? Sementara banyak sekali saya temui pengamat literasi yang satu dengan lainnya sama atau beda mengenai indikasi iklim literasi yang rendah. Sementara kalau dari pengalaman pribadi, saya merasa kurangnya apresiasi dari karya-karya saya di kota kelahiran ini. Padahal, beberapa komunitas—yang menurut saya terdiri dari ratusan anggota bahkan mungkin lebih—sengaja saya masuki, demi memperkenalkan karya tulis saya. 

Bukan semata untuk mendapatkan uang dari buku, sebab bagi saya mendapatkan uang banyak bukan acuan keberhasilan saya menulis. 
Kehadiran saya tak melulu menjual buku, tapi siapa tahu ada beberapa orang yang minat juga di dunia literasi, syukur-syukur bisa terbentuk devisi literasi di komunitas tersebut. 

Waktu itu, saya berpikir kalau ada yang membeli buku milik saya yang harganya empat puluh ribu, maka berjuta-juta kebahagiaanya saya dapatkan. Kumpulan cerpen “Hilang Setengah” adalah salah satu karya yang pernah saya pamerkan di depan beberapa komunitas tempatan, sayangnya tak ada satu pun orang diantara ratusan orang yang membeli. Tapi, nasib baiknya, ada beberapa teman yang—meskipun tidak membeli—meminjam buku karya saya tersebut dan itu saya nilai apresiasi juga. Dari mereka saya berharap dapat kritikan dan saran, itu sudah cukup. Daripada tak ada tanggapan sama sekali.

Justru karya saya tersebut, lebih banyak dibeli oleh pasar luar negeri, Malaysia. Dengan cacatan, kala itu masih tahun 2017, bisa dibilang lebih banyak pembeli Malaysia dibanding kota Jember. Padahal, harga pengiriman lebih mahal dibanding harga buku itu sendiri. Namun, setelah beberapa pengiriman, saya hentikan. Entah disebabkan oleh apa pengiriman tak sampai hingga berbulan-bulan ke Negeri Jiran. Kalau bukan pembeli tanya, mungkin saya anggap barang sudah sampai. Setelah saya tanyakan ke ekspedisi yang bersangkutan, buku yang saya kirim rupanya kembali ke gudang penyimpanan ekspedisi Jember. Adminnya waktu itu berkata, “silakan tanyakan langsung ke gudang besok hari.” Kabar ini langsung saya informasikan ke pembeli via whatsApp. Ajaibnya, pembeli tersebut tak mempermasalahkan, malah dia mengatakan akan beli lagi kalau dia sedang berkunjung di Indonesia. Tapi, sejak tahun 2017 peluncuran buku itu hingga tahun 2021 belum ada kabar. Saya pun hilang kontak dengannya. Saya juga tak bertindak dengan menanyakan kabar buku saya ke orang gudang sesuai saran admin ekspedisi waktu itu. Saya jadi malas bertanya, sebab harusnya bukan saya yang kepayahan bertanya-tanya, apa gunanya nomor telepon pengirim tertera di paket kalau bukan memberi tahu paketan bermasalah, bukan begitu?

Salah satu dokumentasi resi yang masih tersimpan. Bukunya sukses diterima.

Apresiasi dari Malaysia bukan hanya sekedar membeli buku saja. Pada tanggal 30 September 2018, datang sebuah paket berisi hadiah dari kawan literasi di negeri seberang, dari pasangan suami istri bernama Kak Sham alias Raja Rohaisham Muhaiddin dan Bang Fandi alias Ronasina Fandi, keduanya asli penduduk Malaysia, memberi hadiah berupa alat uap pengharum ruangan dengan brand Young Living. Kehadiran alat pengharum ruangan ini yang memunculkan rasa bahagia, cukup efektif mengangkat mood sehingga proses menulis menjadi nyaman dan rileks. Salah satu bentuk dukungan mereka agar kegiatan literasi saya berlanjut, jangan kendur. Saya sangat terharu. Kebaikan mereka berdua juga akan selalu saya kenang sebagai warga Malaysia yang sangat baik menyambut saya sebagai teman bahkan melebihi teman, seperti keluarga sendiri. 

Sedikit profil dari Bang Fandi. Ia adalah seorang guru sekaligus seorang aktivis LSM, sering menyuarakan aspirasi masyarakat kecil. Kritik untuk kerajaan sering diutarakan dalam bentuk lukisan karikatur yang apik. Belum lagi tulisan-tulisan beliau sering ditemui di surat kabar Malaysia. Sebuah keberuntungan besar dapat berkenalan dengan seniman dan budayawan seperti beliau.

hadiah dari malaysia
Bang Fandi dan Kak Sham. Warga Malaysia. (fb: ronasina paparon)
Dapat hadiah dari pegiat literasi di Malaysia.

Dan bentuk apresiasi dari pegiat literasi dari Malaysia tak hanya itu, kali ini saya mendapatkan hadiah yang bombastis dan saya merasa hampir tak percaya. Tepatnya kemarin, tanggal 28 Februari 2021, Minggu, saya telah menerima sebuah paket yang berisi sebuah ponsel model Vivo 1819. Alamat toko masih tertera di belakang dus box: Lot 3.24, Third Floor Podium Block Plaza Berjaya 12, Jalan Imbi 55100, Kuala Lumpur (Malaysia). Lengkap dengan glass screen protector cadangan.

Lengkap dengan pelindung bumble wrap.

Spesifikasi dan alamat toko.

Senang tiada tara. 

Kali ini penderma hadiah tak ingin identitasnya dipublikasikan secara luas. Dari pemberian ponsel itu, dia berharap agar saya terus semangat berliterasi.

Kebetulan pula, ponsel saya Sony Xperia ZR (keluaran tahun lama) waktu itu sedang error. Sudah lama error, semenjak pandemi masuk ke Indonesia. Kalau ada panggilan masuk atau pun memanggil kadang-kadang ada suara kadang tak ada suara. Suara tak berfungsi sama sekali ketika dibuat video call, memutar MP3, dan video. Hanya bisa chat. Itulah kenapa saya sering menolak ajakan siaran langsung di instagram oleh pegiat-pegiat literasi, dikarenakan ponsel saya bermasalah. 

Ponsel yang masalah membuat saya banyak ketinggalan materi literasi yang berseliweran dari grup-grup media sosial, apalagi kalau bentuk webinar atau siaran langsung yang mengharuskan ponsel bisa mengeluarkan suara atau normal.
Nah, dengan kedatangan ponsel dari seseorang nun jauh di sana, sangat membantu sekali, mengingat keberadaan ponsel sangat penting di era digital ini.

Semoga yang memberi hadiah luar biasa ini senantiasa sehat selalu, diberi jalan rezeki yang lebar, dimudahkan segala urusan di dunia, semoga bisa meraih kedudukan tertinggi di dunia maupun di akherat kelak. Aaamiin…

Saya mustahil melupakan pemberian Anda ini. Salam literasi!
Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com