Welcome to Media Pamungkas

Assalamualaikum,
Selamat datang di website Media Pamungkas. Website ini diprakasai oleh Saad Pamungkas, seorang praktisi literasi, yang ingin mendedikasikan website-nya untuk dunia kepenulisan, khususnya di Jember.


LITERATOR

Kenalan dengan tokoh literasi memang banyak manfaatnya, diantaraya menambah pengalaman dan memperkaya sudut pandang saya dalam meniti di jalan literasi ini. Saya bersyukur, meskipun mereka senior dan superior dalam hal pengalaman dan berkarya dibanding saya, tapi mereka rendah hati menyambut kedatangan saya dan menerima saya sebagai teman literasi mereka. Siapa sajakah mereka?

Tentang

MEDIA PAMUNGKAS

Merupakan mediator dengan tindakan responsif dibidang literasi, percetakan dan penerbitan. Sehingga individu maupun kelompok (diharapkan) bisa terbantu di jalan literasi. Beriktikad menjadi wadah tanya, jawab dan aksi di jalan literasi. Sehingga Indonesia—khususnya para pemuda-pemudi, tak ketinggalan pula anak-anak—mempunyai cinta yang wujud dalam berliterasi dan bisa menjadi negeri berliterat dengan animo masyarakat dalam hal baca dan tulis meningkat.

Menjadi mediator untuk percetakan buku yang bernomor ISBN (International Standard Book Number), juga mediator di bidang jasa penerbit dan percetakan dengan segmentasi pembaca anak muda remaja sampai dewasa.

Layanan

Yang ditawarkan?

MEDIATOR PERCETAKAN

Mediator untuk percetakan buku bernomor ISBN (International Standard Book Number), yakni kode pengidentifikasian suatu buku yang diterbitkan oleh penerbit.

BEKERJA SAMA

Berupaya bisa bekerja sama dengan penulis, translator/penerjemah bahasa asing, desainer grafis, pengetikan (sistem 10 jari), layouter, content writer, editor/penata aksara.

MENEBAR ILMU KEPENULISAN

Dengan membuka class writing atau kelas kepenulisan, dengan perorangan atau pun bekerja sama dengan orang yang berkompeten.

KOMUNITAS KEPENULISAN

Membuat komunitas kepenulisan yang bisa menghasilkan karya tulis.

INOVASI DALAM LITERASI

Berinovasi dengan pernak-pernik literasi.

MEDIA SUPPORT LITERASI

Sebagai mediator bagi orang yang ragu akan menerbitkan karya tulis perdananya.

img

Saad Pamungkas

Founder, Media Pamungkas

Untuk menjadi seorang penulis, yang diperlukan adalah praktik untuk mencintai kegiatan membaca. Karena cinta itu membuahkan!.

img

Media Pamungkas

Mediator Literasi, Percetakan Dan Penerbitan

Jika seseorang itu kenyang kemudian dipaksa makan lagi maka ia akan muntah-muntah. Itu Lumrah. Hal itu sama juga dengan membaca, bentuk muntahan akibat banyak membaca, adalah berupa tulisan dan wawasan.

img

Saad Pamungkas

Penulis Buku

Buku biografi adalah tambahan umur dan jejak yang sulit dihapus dari seorang penulis ataupun tokoh yang ditulis.

Kelompok Penulisan Saya

KATEGORI

Ada beberapa kategori kepenulisan saya. Diantaranya adalah?

Photography 95%
Videography 85%
WEB DESIGN 75%
Illustrator 60%
image
Project
Kategori Project
image
Tulisan
Kategori Artikel
image
Jurnal
Kategori Jurnal
image
Program
Kategori Program
Blog

LATEST FORM Blog

Trik Menjadi Seniman Rupiah

narno nadias
Saya termasuk orang yang beruntung karena bisa kenal dengan Pak Narno Nadias. Jam 20.04 (atau 4 jam setelah tulisan ini terunggah) menelepon saya melalui whatsApp selama 21 menit 56 detik. Saya harus menuangkan kata-kata beliau di sini sebelum menguap dari otak. Saya coba dengan mengutip yang masih nempel-nempel dalam ingatan.
Terkadang saya justru menemukan moodboster dari seseorang atau sesuatu yang tak terduga. Alhamdulillah. Bagi saya semua kata-kata Pak Narno Nadias malam ini serupa bodybuilder (daging yang padat dan berotot).

Tiga bulan terakhir ini, hobi atau passion agak lambat berjalan karena terkendala pekerjaan. Sepulang kerja kadang saya tak bergutik kecuali ketip-ketip di atas kasur, tak lama kemudian terlelap begitu saja. Hobi jadi terlupakan begitu saja.

“Saya harus bekerja diluar passion, Pak. Melelahkan juga.” celetuk saya.

“Oh, ya. Itu biasa, Mas.” Jawab Pak Narno. “Saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Seperti pelatihan pupuk organik se-Jawa Timur yang harus berkeliling antar kota dalam satu bulan penuh, pernah juga bawa truk dengan isi bermacam-macam, belum lagi esoknya masih melatih, pernah saat malam masih di alas nebang kayu, dan kepadatan saat menjadi pelatih tenaga kerja Indonesia-Jepang selama dua tahun, audisi pendongeng Indonesia berkeliling selama 40 hari, hitungannya perjam harus pindah provinsi. Tapi semua menghasilkan secara signifikan.”

***

“Bagaimana cara seorang seniman murni menjadi seorang seniman rupiah?” 
begitulah kalimat retorik dari Pak Narno. “Artinya setiap ia berkarya, hasilnya itu mendapatkan rupiah. Itu semua ada triknya, Mas Saad!” jelas Pak Narno Nadias diseberang telepon genggam.

Saya masih terhitung satu kali bertemu secara langsung dengan beliau di Kafe Ruang Micro, di Jalan Tidar. Beliau waktu itu order ketan dan jus buah sembari ngobrol asyik tentang literasi dan pupuk. Waktu itu belum hafal dengan namanya, saya diam-diam menyebutnya Pak Sripit. Hehe. Bukan tanpa alasan, beliau waktu itu membawa produk Kopi Sakinah (kalau tidak salah), dengan tagline: "Sripit  Dulu Kopinya!"

Kalau tidak dikenalkan oleh kawan-kawan literasi saya, Gus Nov dan Mas Gun, mungkin tak pernah kenal saya. Malam ini, lewat gawai komunikasi kami bersua kembali.

Sangat mulia menuver-manuver Pak Narno Nadias menjemput seniman-seniman pinggiran, semacam saya ini. Beliau datang membawa bara api yang menyala-nyala, untuk terus melempar bara semangat kepada seniman-seniman yang sembunyi. Insan dosen atau seorang senior dalam bidang keilmuan yang peduli pada kesulitan di lapangan nyata, tidak hanya pada seputar permasalahan kuliah saja. Dosen kharismatik yang peduli pada kesulitan semua kalangan, kombinasi yang hebat!

Pak Narno menjelaskan bahwa setiap individu seniman harus memiliki ‘brand pribadi’ untuk dirinya. Atau istilahnya personal branding. Itu pun ada triknya juga.
Narno Nadias Marah besar saat tahu seniman tak menghasilkan uang
Pak Narno Nadias. (sumber facebook: Narno Nadias)

“Saya selalu marah kepada siapa pun seniman, utamanya yang muda-mudi, mengapa Anda tidak bisa meng-uang-kan karya Anda? Ojo ngene tok, enggak seneng bojomu dan anakmu ndelok keadaan awakmu berkarya tapi tak menghasilkan uang! Mereka perlu hidup juga, mengharapkan pada Anda, bukan cuma seni saja!” bergetar saya mendengar kata-kata—yang menurut saya terdengar satire—kena banget ke hati.

Kontan saya menyambung, “Ya, Pak. Saya melihat tidak sedikit seniman yang berbakat tapi hasil karyanya hanya pajangan di dalam rumahnya atau tersimpan dalam draft. Dan, kalau pun bisa menghasilkan uang, hasilnya sedikit. Saya pernah menulis satu buku dibayar kurang lebih 5 jutaan. Bagaimana menurut njenengan?”

Pak Narno lantas tertawa. “Saya menghasilkan uang dari satu buku sebesar 32.500.000. Jujur, saya kalau dipatok dengan harga murah, maka saya tinggalkan. Saya tidak mau!" tegas beliau. 

"Jadi sebenarnya penulis dengan pekerjaan menulis saja itu tidak cukup. Penulis harus berpikir terbuka dan dinamis. Penulis harus belajar manajemen, harus belajar politik, belajar PKWU atau entrepreneur. Makanya seniman itu harus digembleng dengan berbagai macam disiplin ilmu, ilmu jaringan, ilmu bisnis dan kalau perlu ilmu-ilmu yang lain. Kalau misalkan fokus kepada seniman, yo seniman tetep ngunu iku wae, Mas! Tidak ada perubahan.”

Pak Narno ingin seniman, utamanya yang muda-mudi dikumpulkan dalam satu ruangan, mengajak mereka diskusi bagaimana trik-trik menghasilkan karya yang bisa dirupiahkan.

“Karena seni itu adalah buah dari pikiran. Kalau tidak seimbang dengan pekerjaan yang menguras tenaga atau kesibukan yang lain, akhirnya tidak bisa berkarya atau menghasilkan karya tapi tidak bisa meledak.”

"Jadilah pemula, jadilah yang berbeda. Dan jadilah yang terbaik,"  kata Pak Narno Nadias, mengutip motivator Bob Sadino.
“Bagaimana Pak, jika karya saya tetap diberi tarif rendah? Saya pernah hendak menulis dari seorang klien, sudah beberapa kali melakukan wawancara dengannya. Tapi setelah saya ajukan dana pembuatan buku, klien menilai kalau tarif yang saya ajukan terlalu tinggi. Padahal saya melihat klien ini secara finansial bagus dan untuk nominal yang saya ajukan tak terlalu tinggi. Bagaimana menurut njenengan, Pak?”

Pak Narno sebelum menjelaskan tertawa lagi. “Analoginya seperti dalam penerbangan, ada dua orang di belakang kemudi pesawat, pilot dan co-pilot. Yang membedakan keduanya adalah hanya masalah jam terbang saja. Tentu lebih berpengalaman pilot. Tugas co-pilot mendampingi orang yang punya jam terbang yang tinggi. Suatu hari nanti, pilot itu pasti akan merekomendasi co-pilot sebagai penggantinya. Dari sini, kita bisa mengambil kiasan bahwa ada personal guarantee atau tokoh yang dipandang memiliki kaliber tinggi yang merekomendasikan karya Anda. Jadi, sebenarnya sama juga di dunia penulis. Orang tak akan melihat karya Anda, sebab Anda belum punya nama. Tapi orang akan melihat siapa yang membawa Anda, siapa yang merekom Anda. Ini yang tidak pernah dipikirkan sama penulis,” terang Pak Narno.
Pak Narno mengibaratkan seperti pesawat, ada pilot dan co pilot yang berpengalaman menerbangkan pesawat
Perlu jam terbang tinggi untuk menerbangkan pesawat.

“Jadi, jangan merasa, ‘oh, aku sudah ahli, aku sudah punya karya’. Kemudian dia berlari sendirian. Pertanyaannya adalah siapa Anda? Untuk menjelaskan siapa Anda, kan repot...”

--Bersambung--

Cara Menulis Cerita Perjalanan yang Menginspirasi

menulis perjalanan kita
Dua hari yang lalu, Wasis, teman saya menyodorkan flyer digital mengenai travelling 10 hari ke Turki. Ada 6 tempat yang dituju, Mardin, Adiyaman, Sanliurfa, Gaiziantep, Cappadocia, dan Istanbul. Travelling (mungkin) kini semakin populer di kalangan masyarakat. 

“Oh, ke Turki, Mas? Boro-boro, Mas, saya enggak kepikiran pergi ke sana, kecuali ada yang mengajak.”
Teman saya tertawa di belakang kemudi pikep.

Bagi saya travelling satu paket dengan pekerjaan saya yang setiap hari keliling ngantar kotak paketan (hehe). Memang sih bukan ngantar paketan ke luar negeri, masih dalam negeri, atau lebih pasnya lagi, di dalam provinsi, persisnya lagi di kawasan Tapal Kuda (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember, Lumajang) dan ditambah Probolinggo.

barang paketan
Segede-gede ini paketan yang saya hantar.

Bagi saya, ke mana pun perjalanan yang dituju, setiap destinasi tentu memiliki arti. Tak harus ke luar negeri. Umumnya orang-orang menangkap makna perjalanan dengan memotret atau ada juga yang memvideokan. Hasilnya selalu menjadi kenangan atau sejarah setelah sampai di rumah mereka. Rata-rata umumnya mengabadikan jejak perjalan dengan cara tersebut.

Sebenarnya, selain memotret dan memvideo, ada juga cara lain yang bisa diambil, yakni menuangkan dalam bentuk tulisan. Pengabadian dengan cara ditulis ini bisa jadi sumber inspirasi bagi orang lain. Apalagi, kita sebagai manusia, ingatan kita lama-lama tergerus pada kurun waktu tertentu sebab daya ingat semakin menurun. (Baca tulisan saya : PENULIS TRAVELLING)

menulis kisah perjalanan
Malioboro, Medan, Banda Aceh, Pulau Sabang, Pulau Rubiah.

Foto kolase di atas adalah potret kenangan travelling saat saya masih lajang. Banyak tempat menakjubkan yang saya tuju. Apabila kalau ditulis, maka cukup berjibun kisah menarik yang saya dapatkan . Akan tetapi, saya menuangkan kisah-kisah jaka tersebut mungkin suatu hari nanti. Saya ingin berbagi tulisan dengan Anda pada saat saya berada pada dimensi lain, pada saat saya sudah berkeluarga dan bekerja. Sebelumnya, dalam benak saya, berkeluarga dan bekerja adalah dua hal yang membuat gerak saya terbatas. Apakah sepemikiran dengan saya? Namun, kenyataan bahwa itu hanya isi kepala saja, saya masih bisa travelling (jalan-jalan versi saya) dan tetap bisa menyempatkan menulis.


Bagaimana sih caranya menuliskan perjalanan kita? Kenapa harus ditulis? Capek banget deh, tinggal cekrek aja kok terus upload deh. Ini malah ditulis!?


Perbaiki Niat

Pernyataan dengan tulisan merah di atas itu menjadi point pembuka bagaimana cara menulis cerita travelling atau perjalanan kita dan kenapa harus ditulis?

Well, luruskan dulu niat kita menuliskan perjalan kita lewat tulisan. 

Jadi apa niat kita untuk menulis perjalan?

Niatkan dalam hati agar sisi manusiawi kita semakin manusiawi dengan tulisan. Kita menulis niatkan untuk menginspirasi atau membantu para pembaca yang ingin tahu suatu tempat. Dalam konteks ini membantu bagaimana cara menulis 'perjalanan jalan-jalan' mereka. Ingat, sebaik-baiknya manusia adalah bermanfaat bagi manusia yang lainnya, itu manusiawi sekali. Kita diciptakan Tuhan untuk berbuat baik kepada manusia yang lainnya.

Jika niat sudah benar atau baik, pasti tercipta tulisan yang manusiawi. 
Tetap, jangan berharap pujian dari manusia, kembalikan saja kepada pembaca untuk penilaian tulisan apakah baik, bagus, apa sebaliknya. Kembalikan saja kepada niat baik kita sebagai manusia yang manusiawi. Titik.
 

Ceritakan dengan Mengalir

Dua hari yang lalu, tepatnya hari minggu, saya dan teman saya harus lebih berhati-hati dengan cara mengurangi kecepatan kendaraan ketika melewati kawasan hutan di Jalan Raya Banyuputih, Situbondo. Di tepian jalan ada banyak monyet dengan tingkah polahnya, ada yang tan-petan, duk-duduk, riang berlarian, jat-manjat dan rupa-rupa tingkah lainnya.

Lebih baik, jika melewati jalan tersebut, kita harus mempersiapkan segalanya hingga bisa lancar sampai tujuan. Utamanya kendaraan kita, sebab di sana tak ada tambal ban, di sepanjang perjalan jalan Raya Banyuputih hutan-hutan kering kerontang dan panas, tak ada juga pom bensin. Yang ada monyet-monyet belaka.

Watu dodol Banyuwangi Beach
Dari Banyuputih, Situbondo hingga tembus ke Pantai Watu Dodol, Banyuwangi.

Nah, demikian gambaran saya waktu melewati Jalan Raya Banyuputih. Kalau diceritakan dengan sangat detail, habislah kopi saya di bab ini saja. Hehe. Intinya, menulislah dengan apa adanya. Jangan cari-cari cerita tambahan. Misalnya mencari sesuatu yang tidak ada, misal seperti mitos-mitos ketika malam hari saat melewati di jalan itu. Kecuali kalau pernah mengalami sendiri.


Sertakan Foto atau Video

Apa daya, jika menulis tanpa ada bukti foto atau video? Mungkin dikira hanya tulisan saduran belaka, atau jiplak dari tulisan perjalan orang lain. Foto atau video adalah unsur visual yang menjadi bukti atau fungsi untuk menguatkan tulisan kita. Dua unsur ini yang menguatkan; visual dan teks, sehingga hasilnya lebih spesifik.


kuliner di Bondowoso adalah tape Bondowoso
Tape adalah jajanan khas Bondowoso.

Punya Visi

“Mas Saad dulu jurusan sastra?” tanya seseorang setelah membuka website yang sedang Anda baca ini.
“Enggak,” jawab saya. 

Dari dialog singkat ini saya mengambil kesimpulan bahwa orang yang bisa menulis belum tentu mereka jurusan sastra. Tidak usah jauh-jauh, contohnya saya. Nah!

Begitu juga dengan seorang travel blogger harus bisa menulis konten yang menarik. Blogger tak harus dari jurusan sastra. Yang penting mau belajar dan belajar. Dan ciptakan tulisan kredibel dan otentik, jika demikian sama halnya seperti kita membangun reputasi yang baik.

Saya menulis tentang unsur travelling ini gara-gara semenjak bekerja di ekspedisi, yang membuat saya berkeliling ke berbagai tempat, berbagai daerah kecil, dan tempat yang menyuruk tersembunyi. Semua itu menarik bagi saya.
Kalau kita kontinu dalam menulis serta menyajikan tulisan perjalanan yang menarik, siapa tahu jadi jalan rezeki. Misalnya diajak bekerjasama oleh perusahaan travel, dan ada kesempatan menikmati jalan-jalan gratis, atau menjadi narasumber untuk berbagi kisah saat traveling, dan bentuk kerja sama lainnya.


Masukkan Insight

Pernah mendengar Danau Ranu Pakis? Mungkin bagi orang Lumajang sudah tak asing lagi. Danau itu berada di Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Lumajang. Sebuah destinasi wisata yang sudah sejak lama saya tulis dalam sebuah buku biografi Iman Suligi. Iman Suligi lahir tidak jauh dari danau tersebut. Namun tak pernah sekali pun saya pergi ke sana.

Plang Danau Klakah
Signboard ke Ranu Pakis.

Pada tanggal 20 Oktober 2021, Rabu, saya secara tak sengaja distribusi ke alamat RT 1 RW 6, Desa Ranu Pakis, Dusun Nangkaan. Saya kaget bukan main, penghantaran paketan itu rupanya melewati Danau Ranu Pakis. Alamat penerima bisa dibilang “lima langkah dari rumah”. Saya bersyukur kepada Sang Literator Kehidupan telah diarahkan ke sana.

Welcome to Danau Ranu Pakis
Welcome to Ranu Pakis.

Pesona Danau Ranu Pakis
Pesona Ranu Pakis, petang, jam 16:14.

Dikutip dari buku Koeng: Meniti Jalan Literasi, pada halaman 5,

"...cuaca dingin mencekam ketika ada peristiwa alam yang dikenal dengan musim koyok, yakni musim dimana kandungan belerang naik, sehingga danau bau belerang dengan cukup kuat. Ikan-ikan biasanya teler di permukaan danau."

Itulah peristiwa alam yang terjadi di danau tersebut. Suatu wawasan atau insight yang menarik bagi saya. Jadi, dalam menulis tulisan travelling harus ada unsur pengetahuan yang dibubuhkan dalam tulisan. Ini penting, karena dimana pun tempatnya akan menjadi menarik dan bermanfaat, jika kita tahu apa yang unik di suatu tempat destinasi yang kita tuju, pun sesuatu yang remeh sekali pun. Pembaca akan merasa terbantu, atau justru ingin merasakan apa yang kita alami secara langsung. Jadi, cari angle yang unik atau tak biasa tentang keindahan alam, atau budaya, atau mitos, atau sejarah, bisa juga kuliner, serta sesuatu yang menarik lainnya.

Akhir kata, semoga tulisan saya menginspirasi Anda supaya tak melupakan sejarah travelling Anda dengan cara menuangkan dalam bentuk aksara. Semoga bisa membantu traveller lainnya dalam menyusun kata. Optimis bisa!

Apa hal atau peristiwa atau kejadian yang menarik di daerahmu, kawan?

Sila tulis pada kolom komentar ya!

Di Balik Tangan Penulis

di balik tangan penulis
Prediksi Ramadhan 2022 atau 1443 hijriah jatuh pada tanggal 2 April 2022.
Saya bisa memastikan pengiriman paketan meningkat mendekati Ramadhan (bulan Maret) apalagi ketika hari H-nya (bulan April). Kebetulan saya bekerja pada cabang perusahaan cargo atau ekspedisi di Jember, bagian distribusi. Paketannya semuanya berasal dari perantau-perantau Malaysia. Paketannya berat-berat, paling ringan 20 kiloan. Paketan bisa membludak sampai 3 atau 4 kali lipat mendekati bulan puasa apalagi pas hari H. Peningkatan barang itu lantaran para perantau (yang notabene pengirim paketan) ingin pulang bercuti atau ingin bersedekah di kampung halaman untuk orang tua, saudara, atau orang-orang terdekat. Digadang-gadang perusahaan akan menambah armada distribusi saat bulan-bulan tersebut agar tak terjadi penumpukan barang-barang lama di gudang.

paketan kotak penulis
Paketan di tempat saya kerja.

Artinya, dua bulan full ngegas terus untuk bekerja. Semoga bisa beribadah saat Ramadhan tiba.

Ini adalah sebuah catatan pengingat untuk penulis yang sedang berjuang bersama aksara di sela-sela kesibukan, JANGAN BERHENTI MENULIS, MENEBARKAN KEBERMANFAATAN KARENA HIDUP HANYA SEKALI.
Hampir semua penulis di negeri ini memiliki kesibukan lain selain jemari mereka akrab dengan tuts keyboard, kertas, dan pen.

Seperti ini gambaran dibalik tangan penulis:
tangan yang kotor
Dekil dan kapalan seperti ini sudah biasa.

tangan yang legam
Legam.

tangan penulis yang berdarah
dihitamputihkan agar merahnya tak nampak.

di dalam bak truk
Bersama lautan paketan.

Foto-foto di atas bukan maksud untuk ujub, tapi menjawab pertanyaan, 

"Kak, bagaimana caranya menulis sementara pekerjaan saya sangat padat. Pulang kerja kecapean." 

Sama. Saya sebenarnya juga capai, sangat capai.

Sama seperti kawan literasi, yang sama-sama satu kota, Rizem Aizid. Karir yang Rizem miliki sebagai seorang penulis tak bisa dianggap sebelah mata. Dia pernah dinobatkan sebagai penulis top pada tahun 2012 oleh penerbit mayor, Diva Press. Sudah ratusan karya yang ia buat di jalan literasi. Diantaranya ada yang best seller hingga terjual ke luar negeri.

penghargaan rizem
Penghargaan bergengsi.

Alih-alih jemarinya menari-nari di atas keyboard atau sedang berangkulan dengan pen, rupanya Rizem juga berkebun di kebun kopi. Katanya, “pemanenan buah kopi perlu waktu tahunan. Satu tahun kalau dibantu dengan perawatan, seperti pemupukan dan penyemprotan hama. Bisa lebih dari satu tahun, bahkan bisa lebih dari itu kalau dibiarkan begitu saja tanpa perawatan.”

Tentunya selain keyboard dan pen, ujung tangannya sudah lihai memegang kendali stang motor untuk medan yang menanjak dan berlumpur (jika hujan) untuk menuju kebunnya, jemarinya yang menggenggam gagang clurit atau sabit untuk melibas semak belukar, pundaknya menopang pestisida atau sejenisnya, dengan urat derijinya ia menarik pegas penyemprotan, pastinya juga akrab dengan tanah dan lumpur serta menghadapi nyamuk-nyamuk belang-belang, Aedes Aegypti. Semua akan nikmat dan asyik apabila disyukuri. Apalagi udara segar ketika sampai di kebun, mentadaburri ciptaan Tuhan Yang Maha Esa ketika di daratan tinggi, nampak hamparan hijau pepohonan disertai semilir angin sejuk.

pace
Jalan di Pace, kediaman penulis Rizem.
Kita harus mengakui Sang Literator Kehidupan lebih berkuasa pada jalan hidup manusia. Kita, sebagai manusia harus narimo ing pandum.
Sama halnya seperti kawan literasi asal Nganjuk, Heru Amurwabumi. Awal mengenal beliau saat mengikuti sayembara lomba dengant tema, “Cinta yang tak Terucap”. Berawal dari lomba itu, dia berkembang cepat. Mungkin kira-kira satu tahunan setelah itu dia mendapatkan penghargaan sebagai penulis pendatang terbaik versi Ubud Writers, sehingga dia diundang di acara Emerging writer Ubud Writers dan Readers Festival, di Bali. Setelah itu api semangat semakin membesar, beberapa kali karyanya dimuat dimedia-media lokal.

pengakuan heru sang amurtabumi
Rendah hati, mengakui bahwa dirinya adalah buruh pabrik.

Sementara itu, dibalik tangan kreatifnya yang bisa menghasilkan aksara-aksara menawan, ia mengakui bahwa penghargaan dan karya-karyanya itu membuat dia lupa bahwa sebenarnya dia adalah buruh pabrik. 
“Berada di atas panggung ini, sesaat membuatku lupa bahwa sebenarnya aku hanyalah seorang buruh pabrik,” Heru Amurwabumi
Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com