Welcome to Media Pamungkas

Assalamualaikum,
Selamat datang di website Media Pamungkas. Website ini diprakasai oleh Saad Pamungkas, seorang praktisi literasi, yang ingin mendedikasikan website-nya untuk dunia kepenulisan, khususnya di Jember.


LITERATOR

Kenalan dengan tokoh literasi memang banyak manfaatnya, diantaraya menambah pengalaman dan memperkaya sudut pandang saya dalam meniti di jalan literasi ini. Saya bersyukur, meskipun mereka senior dan superior dalam hal pengalaman dan berkarya dibanding saya, tapi mereka rendah hati menyambut kedatangan saya dan menerima saya sebagai teman literasi mereka. Siapa sajakah mereka?

Tentang

MEDIA PAMUNGKAS

Merupakan mediator dengan tindakan responsif dibidang literasi, percetakan dan penerbitan. Sehingga individu maupun kelompok (diharapkan) bisa terbantu di jalan literasi. Beriktikad menjadi wadah tanya, jawab dan aksi di jalan literasi. Sehingga Indonesia—khususnya para pemuda-pemudi, tak ketinggalan pula anak-anak—mempunyai cinta yang wujud dalam berliterasi dan bisa menjadi negeri berliterat dengan animo masyarakat dalam hal baca dan tulis meningkat.

Menjadi mediator untuk percetakan buku yang bernomor ISBN (International Standard Book Number), juga mediator di bidang jasa penerbit dan percetakan dengan segmentasi pembaca anak muda remaja sampai dewasa.

Layanan

Yang ditawarkan?

MEDIATOR PERCETAKAN

Mediator untuk percetakan buku bernomor ISBN (International Standard Book Number), yakni kode pengidentifikasian suatu buku yang diterbitkan oleh penerbit.

BEKERJA SAMA

Berupaya bisa bekerja sama dengan penulis, translator/penerjemah bahasa asing, desainer grafis, pengetikan (sistem 10 jari), layouter, content writer, editor/penata aksara.

MENEBAR ILMU KEPENULISAN

Dengan membuka class writing atau kelas kepenulisan, dengan perorangan atau pun bekerja sama dengan orang yang berkompeten.

KOMUNITAS KEPENULISAN

Membuat komunitas kepenulisan yang bisa menghasilkan karya tulis.

INOVASI DALAM LITERASI

Berinovasi dengan pernak-pernik literasi.

MEDIA SUPPORT LITERASI

Sebagai mediator bagi orang yang ragu akan menerbitkan karya tulis perdananya.

img

Saad Pamungkas

Founder, Media Pamungkas

Untuk menjadi seorang penulis, yang diperlukan adalah praktik untuk mencintai kegiatan membaca. Karena cinta itu membuahkan!.

img

Media Pamungkas

Mediator Literasi, Percetakan Dan Penerbitan

Jika seseorang itu kenyang kemudian dipaksa makan lagi maka ia akan muntah-muntah. Itu Lumrah. Hal itu sama juga dengan membaca, bentuk muntahan akibat banyak membaca, adalah berupa tulisan dan wawasan.

img

Saad Pamungkas

Penulis Buku

Buku biografi adalah tambahan umur dan jejak yang sulit dihapus dari seorang penulis ataupun tokoh yang ditulis.

Kelompok Penulisan Saya

KATEGORI

Ada beberapa kategori kepenulisan saya. Diantaranya adalah?

Photography 95%
Videography 85%
WEB DESIGN 75%
Illustrator 60%
image
Project
Kategori Project
image
Tulisan
Kategori Artikel
image
Jurnal
Kategori Jurnal
image
Program
Kategori Program
Blog

LATEST FORM Blog

Cara Menulis Buku Biografi Mulai dari Nol, untuk Pemula

cara membuat buku biografi mulai dari nol untuk pemula
Dalam buku karya Bill Gilbert, "How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere", yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia, “Seni Berbicara kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja.” Buku tersebut berbicara tentang bagaimana seorang Larry King sangat mudah berbicara di depan publik. Bagaimana cara mengatasi rasa malu pewawancara kondang seperti Larry King, adalah dengan salah satu cara mengingat-ingat,

“Cara terbaik untuk mengatasi perasaan malu adalah mengingat pepatah bahwa orang yang Anda ajak bicara memasukkan kakinya ke celana satu demi satu.” 

Kutipan ini saya ambil pada halaman 11. Kutipan inilah yang akhirnya saya adopsi secara diam-diam saat saya memulai wawancara dengan tokoh-tokoh yang secara titel lebih tinggi dari saya, seperti seorang seniman senior, seorang pengusaha sukses, pejabat DPR dan musisi. Tujuan wawancara itu untuk dituangkan dalam bentuk tulisan atau sebuah buku yang komplit dari sudut-sudut kacamata narasumber.

“Waduh!” 

Itu kata seru yang bergaung dalam hati saya ketika tahu tokoh narasumber adalah orang yang titelnya tinggi. Gugup, dan dredeg. Tapi begitulah, mereka juga manusia biasa. Tapi meskipun saya tahu bahwa mereka juga manusia,  saya harus mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan mereka. Jangan sampai kesunyian lebih nyaring daripada pita suara saya.  Jadi, bagaimana tahapan-tahapan membuat buku biografi mulai dari nol? Berikut tahapannya:

1. Mengumpulkan Riset

Hal pertama yang tidak boleh ditinggalkan oleh penulis yang bertindak sebagai pewawancara adalah melakukan riset. Kita wajib mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai orang yang ingin kita tulis kisahnya atau dalam hal ini narasumber. Riset-riset tersebut bisa diambil dari jejak digital seperti internet.

Kenapa demikian? karena bertujuan sebagai bahan rujukan untuk menyusun daftar pertanyaan.

Bagaimana kalau jejak digital tidak ada?

Caranya bisa menggali informasi dari orang-orang terdekat, seperti; keluarga, teman, sahabat, guru, dan kelompok atau individu yang kenal dengan narasumber.

Sebagaimana seperti yang saya lakukan ketika mengumpulkan riset seorang tokoh di Trenggalek, bernama Pak Subadianto. Beliau menjabat sebagai anggota DPR di Trenggalek. Karena beliau orang yang sangat sibuk, jadi saya menggali informasi dari sababat, teman, saudara, hingga guru. Tentu saja sebelumnya atas persetujuan Pak Subadianto.

buku biografi yang menginspirasi dari saad pamungkas
Biografi Subadianto, DPR Trenggalek, (186 lembar + x)

Setelah riset-riset terkumpul, buatlah beberapa pertanyaan dari riset tersebut. Ingat, hindari membuat pertanyaan yang jawabannya 'ya' atau 'tidak'.

Misal, seperti contoh di bawah ini:  
Daripada bertanya, “cuaca yang gerah ini apakah mengganggu?”
Lebih baik bertanya, “cuacanya gerah, adakah sebab tertentu yang menimbulkan cuaca panas global ini?”

2. Senjata-Senjata yang Perlu Dipersiapkan

Setelah riset terkumpul dan pertanyaan-pertanyaan sudah tertulis, kita harus mempersiapkan diri dengan senjata-senjata pewawancara, yakni; pulpen, buku, dan alat perekam. Namun, sebelum melakukan wawancara, kita harus meminta izin terlebih dahulu kepada narasumber agar berkenan kalau wawancaranya ditulis atau pun direkam.

Jika sudah menentukan temu janji di suatu tempat, akan lebih baik datang lebih awal di tempat yang sudah disepakati tersebut. Agar kita bisa mempersiapkan diri dengan tenang sekaligus bisa mengamati lokasi sekitar yang nantinya ditulis pada hasil wawancara untuk menggambarkan situasi saat wawancara berlangsung.

3. Menggunakan Gaya Bahasa yang Berbeda

Dalam ilmu jurnalis, kita harus bisa menyesuaikan gaya bahasa dan nada bicara dengan latar belakang narasumber. Jika kita mewawancarai seseorang yang terlihat santai, seperti yang saya temui dengan seorang ibu-ibu pemilik toko sekaligus kos-kosan di Jalan Mastrib, beliau yang dulunya sebagai saksi hidup dari seorang pengusaha sukses di Jember, owner Senyum Media, maka saya berbicara dengan gaya yang santai. Seperti memakai bahasa daerah, bahasa Jawa Jemberan. Menyesuaikan gaya bahasa sesuai dengan umur dan budaya yang ditanyai. Sama halnya ketika saya mewawancarai orang-orang dekat Pak Subadianto, di Trenggalek, saya harus bisa memakai bahasa daerah, yakni Jawa. Trenggalek bahasa daerahnya dan unggah-ungguhnya masih terjaga. Jika berbicara dengan orang yang sudah sepuh, maka saya memakai Bahasa Jawa halus. Namun, jika kita mewawancarai pejabat, pebisnis atau pengusaha, kita harus berbicara dengan gaya yang formal.
aktivitas wawancara dalam pembuatan buku biografi yang menginspirasi dari saad pamungkas
Lurah Tegaren dan Lurah Duren, di Trenggalek. Para sahabat Pak Subadianto.

4. Melangsungkan Wawancara dengan Baik

Ada beberapa point yang harus diperhatikan saat wawancara berlangsung, diantaranya:

Bersikap Sopan

Apabila di meja milik narasumber sudah terhidang kudapan, jangan serta merta mengambil tanpa seizin narasumber. Atau misalkan ada buku yang sangat berkaitan dengan narasumber, jangan sekali-kali mengutipnya kecuali dengan seizinnya. Kalau dalam Jawa, disebut dengan unggah-ungguh atau orang beradab.

Membawa Bingkisan

Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa bingkisan atau hadiah untuk mempererat kasih sayang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari).

Membuat Kontak Mata

Jangan melirik-lirik ke berbagai arah ketika wawancara berlangsung, jika hal ini tetap dilakukan, meskipun kita serius mendengarkan, akan tetapi narasumber akan berpikir bahwa kita tidak sedang serius.

Harus Menerapkan Kejujuran

Meskipun kita sudah mengumpulkan berbagai riset yang komplit, apabila riset itu bukan dalam bidang keilmuan atau pengalaman kita, maka tak serta merta membuat kita paham pada satu hari saja. Berkatalah jujur, “Pak, maksudnya dari pengusaha dengan prinsip CEO itu bagaimana?” tanya saya kepada Pak Kholid, pengusaha property dan owner Senyum Media Group. “Prinsip CEO, itu dahulukan Customers, kemudian Employee, terakhir Owner. Disingkat menjadi CEO,” jawab Pak Kholid.

Ada banyak pertanyaan yang saya ajukan. Waw, banyak? Bukankah itu memalukan? Sama sekali tak memalukan. Asalkan kita tak mempertanyakan sesuatu yang dasar dari riset. Artinya pertanyaan secara spesifik.

Mencatat Point Penting

Jika narasumber mengizinkan kita merekam audio wawancara, kita patut bersyukur karena cara ini akan lebih mudah. Namun, bagaimana jika narasumber tak mengizinkannya dengan alasan karena karakter bicara narasumber yang ceplas-ceplos sehingga ia khawatir jika rekaman suaranya disalahgunakan. Apalagi jika kita mewawancarai tokoh-tokoh perpolitikan. Sangat riskan. Narasumber hanya mengizinkan kita menulis saja, maka tulislah poin-poinnya saja, yang kemudian nanti poin-poin tersebut dituang secara rinci di dalam narasi hasil wawancara.

Nah, itulah cara-cara bagaimana membuat biografi mulai dari tahap wawancara. 

Bagaimana cara menuangkan dalam bentuk tulisan? 
Bukankah masih acak-acakan, apalagi jika ngobrolnya asyik tentu melebar ke mana-mana. Bagaimana caranya? 

Aktivitas meng-konvert-kan audio atau rekaman ke sebuah tulisan yang utuh tidaklah mudah, dan tidak pula sulit. Saya mengibaratkan menulis dengan bahan yang masih acak-acakan itu ibarat menyusun puzzle. Jika saya bermain puzzle, saya akan mencari pecahan puzzle dengan sisi yang lurus. Karena sisi yang lurus itu pasti ia berada di posisi paling pinggir. Saya akan mencari bentuk yang serupa, sehingga saya mempunyai gambaran. 

Begitu juga dengan sebuah tulisan yang acak, ia pasti akan mempunyai garis yang jelas. Bagaimana caranya, simak caranya di bawah ini:

1. Convert Semua Audio dalam Bentuk Tulisan
Tuang semua pembicaraan dalam audio dalam bentuk tulisan. Akan tetapi terapkan pula keefektivan menyalin tulisan. Misalkan si narasumber dalam audio rekaman mengulang-ulang perkataan, maka kita cukupkan satu kalimat saja. 

2. Harus Menghidupkan Otak Kreatif
Bagaimana sih caranya agar otak kreatif kita hidup? Otak penulis harus dihidupkan memakai tiga konsep dasar yakni asosiasi, imajinasi dan lokasi. Asosiasi merupakan cara menghubungkan sesuatu hal dengan hal lain, misalnya  kata "makan", sementara di paragraf naskah yang agak berjauhan bertemu dengan "donat", maka dua kata ini kemungkinan berkorelasi atau saling berhubungan. 

3. Harus Membuat Kata Kunci
Setelah semua tersalin dalam bentuk tulisan, kita akan menemukan sebuah tulisan yang benar-benar acak. Diantara kata acak itu pasti ada garis besarnya, misalnya tempat tanggal lahir narasumber. Maka kita pun saat menyalin dalam bentuk tulisan harus pandai meletakkan kata kunci. Misal kata kuncinya "tanggal lahir", maka yang saya lakukan adalah menekan ctrl + F pada MS Word. Nanti muncul kolom, ketik "tanggal lahir", maka kita akan disuguhkan dengan kata yang sedang kita cari. Bisa ditarik dibagian paragraf pembuka atau sesuai dengan keinginan kita.
control F adalah mencari kata
Cara mencari karta kunci.


4. Menyusun Peta
Karena kata-kata yang acak, tidak salahnya kita memetakan kata-kata. To the point, seperti ini, misalnya:

Lahir,
Waktu SD usil,
Kejadian yang pernah dibuat waktu SD,
Menghadapi sifat malas,
Mengidolakan guru,
Mulai cinta dengan literasi,
Novel yang disukai,
Dan seterusnya...

Di atas ini adalah contoh kata kunci yang saya buat mencari kata kunci diantara kata-kata acak dalam pembuatan biografi Kung Iman Suligi. Cari dengan navigasi find pada MS Word.

5. Harus Sabar
Point yang tak kalah penting adalah sabar. Kita menyusun kata-kata bukan pekerjaan yang cepat. Kesabaran adalah kata kunci dari kelahiran karya.

Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini membantu Anda dalam berkarya tulis. Apabila ingin menambahi bisa ditulis di kolom komentar di bawah ini. 

Terima kasih khususnya untuk peserta Online Class Writting (OWC batch 4) telah mengikuti kelas ini sampai tuntas, semoga semua peserta bisa menciptakan karya tulis juga!

Pengukuhan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Jember

pengkuhan forum TBM kabupaten Jember
Improving imagination, encouraging creativity.
Ialah moto dari Forum TBM Kabupaten Jember yang baru lahir pada hari Sabtu, tanggal tanggal 5 Februari 2022. Kelahiran forum tersebut bertempat di kediaman Kung Iman Suligi, di TBM Kampoeng Batja. Jalan Nusa Indah VI-7, Jember Lor, Kreongan, Jember, Jawa Timur.

Bunda Literasi Kabupaten Jember, Ibu Hj. Dra. Kasih Fajarini, hadir dalam acara tersebut bersama jajarannya; Suko Winarno (Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember), Yuliana Harimurti (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jember), Joko Sutriwanto (Kabid Perlindungan anak / DP3AKB). Turut hadir juga perwakilan Muspika kecamatan Patrang, Lurah Jember Lor, Perwakilan Bank Indonesia, Gramedia Bookstore, Kepala Perpustakaan Perguruan Tinggi, ketua atau pengelola TBM, media dan perwakilan komunitas Jember serta Ahmad Ikhwan Susilo (Sekjen Forum TBM provinsi Jawa Timur).

Ibu Hj. Dra. Kasih Fajarini menyampaikan selamat kepada Forum TBM yang terbentuk, dengan struktur anggotanya terdiri dari Prita Hendriana Wijayanti sebagai ketua, Azizah Umami sebagai sekretaris, Enny Tyasati sebagai bendahara, Samsul Hadi dan Adhim sebagai bidang pengembangan SDM, Marisa Latifa sebagai bidang kemitraan, Nana Warsita dan Saad Pamungkas sebagai bidang media dan publikasi. Penasehat terdiri dari Iman Suligi, Riyadi Ariyanto,  dan Nurul Hidayat.

pengkuhan forum TBM kabupaten Jember di Kampoeng Batja
Bersama Bunda Literasi (berkerudung hijau).

Pada kesempatan itu, ketua Forum TBM, Prita Hendriana Wijayanti, pada sambutan sebagai ketua FTBM Jember, bercerita sedikit tentang sejarah FTBM di Jember. Salah satu penasehat, yakni Riyadi Ariyanto, pada tahun 2015 sudah pernah ditunjuk sebagai ketua forum, akan tetapi belum dikukuhkan karena beberapa hal. Pembentukan Forum TBM ini adalah sejarah baru perkembangann Forum TBM di Kabupaten Jember.

“Kalau menukil wis wayae Jember bangkit, jadi wis wayae Forum TBM Kabupaten Jember ini bangkit dan dibentuk!” semangat ketua FTBM, Prita Hendriana Wijayanti.

Prita Hendriana Wijayanti
Prita Hendriana Wijayanti, terpilih sebagai ketua FTBM Jember.

Prita Hendriana Wijayanti
Ahmad Ikhwan Susilo (Sekjen Forum TBM provinsi Jawa Timur).

Prita Hendriana Wijayanti, pendiri The Jannah Institute, yakni komunitas yang bergerak di dunia literasi dan public speaking, selama ini telah bekerja sama dan bersinergi dengan beberapa komunitas atau TBM di Jember, ada Kung Iman Suligi sebagai pionir dengan Kampoeng Batja-nya, selain itu; USK (Untukmu Si Kecil), Sekolah Alam Raya, Kampung Merdeka Belajar, Jendela Jember, Media Pamungkas, Gubug Pustaka Dalung, dan Rumah Pintar. Yang semuanya—menurut Prita—cukup mewakili representasi dari pergerakan literasi di Jember.

Bagi Prita, ini kesempatannya bersama tim untuk membantu para Taman Baca Masyarakat yang—mungkin—belum memiliki jejaring yang luas atau mungkin perlu untuk sama-sama berdiskusi dan berunding untuk upgrade skill.

“Ini saatnya untuk menjadi wadah bersama,” gelora Prita di depan tamu undangan. “Bukan forumnya yang besar, tapi TBM-nya atau para anggotanya supaya kita sama-sama maju tidak hanya satu atau dua pihak, sehingga tidak ada sensitifitas. Apalagi kita TBM yang independen, tidak dibawah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Kami murni dari dorongan individu yang ingin berbagi dengan masyarakat secara pure, supaya kita bisa memajukan literasi di Jember, yang ujungnya pendidikan di Jember akan semakin lebih baik. Dan kita tidak menjadi salah satu dari penyandang buta huruf tertinggi di Jawa Timur. Semoga kerja-kerja ke depan yang kami lakukan ini lancar. Mohon masukan dari semua, khususnya dispendik dan dispusip selaku pembina, penasehat-penasehat kami, untuk sama-sama memikirkan masa depan. Kami terbuka untuk semua golongan, TBM independen maupun di bawah PKBM, mari bergabung bersama!”

Bunda Literasi sekaligus pimpinan tim penggerak PKK Kabupaten Jember, Ibu Hj. Dra. Kasih Fajarini, di depan jajarannya dan tamu undangan menyampaikan rasa terkesima oleh Kampoeng Batja. Beliau mengatakan bahwa walaupun akses masuk ke Kampoeng Batja harus melewati lorong-lorong, akan tetapi setelah sesampainya di tempat, akan merasakan rasa kepuasan tersendiri. Faktor kenyamanan tempat membaca menjadi sorotan beliau, inilah yang menjadi salah satu diantara tiga faktor yang bisa menaikkan minat baca masyarakat. 
“Ada faktor-faktor yang bisa menaikkan minat baca, diantaranya; diperlukan bahan bacaan, kemenarikan bahan bacaan, dan kenyamanan lingkungan tempat bacaan,” terang Bunda Literasi.
bunda literasi di podium hadir dalam pengkuhan forum TBM kabupaten Jember
Bunda literasi, Ibu Hj. Dra. Kasih Fajarini.

bunda literasi melihat coffe corner
Coffe corner.

bunda literasi melihat coffe corner
Book corner.

“Saya yakin tempat ini (Kampoeng Batja) membuat pengunjung betah membaca dan lebih masuk ke hati (dalam ingatan),” ujar Ibu Hj. Dra. Kasih Fajarini.

Ibu Hj. Dra. Kasih Fajarini mengajak TBM, komunitas dan tentunya bersama stakeholdernya untuk membangun perpustakaan dengan target 31 kecamatan di kabupaten Jember. Upaya tersebut agar bisa mengurangi buta huruf dan meningkatkan minat baca.

“Karena masih banyak (buta huruf) kalau melihat di data,” jelas istri dari Bupati Jember, Ir. H. Hendy Siswanto. Beliau mengajak Prita bersama tim bekerja sama dengan tim PKK ke desa-desa. Upaya tersebut demi mencerdaskan bangsa yang diamanatkan undang-undang 1945 ditempuh oleh masyarakat dan pemerintah.

Saat sesi terakhir pidato beliau menyempatkan berpantun,

Pak camat mengunjungi kelurahan,
Mengadakan sosialisasi dan pembinaan pemuda.
Selamat untuk forum taman baca masyarakat yang telah dikukuhkan,
Kita berkolaborasi tingkatkan minat baca dan membuka jendela dunia.
Ibu Hj. Dra. Kasih Fajarini saat akan meninggalkan tempat, beliau bertemu dengan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong. Gol A Gong bersama rombongan baru sampai di Kampoeg Batja karena sebelumnya beliau telah diundang di Universitas Jember dalam rangka Safari Literasi. Jember menjadi kota yang ke-16 dalam kunjugannya. Kemudian mereka berbincang singkat mengenai progam ke depan Pemkab Jember di dunia literasi.

 
Gol a gong atau dengan nama asli Heri Hendrayana Harris adalah seorang sastrawan Indonesia, pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten, hingga ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM).
Gol A Gong (bertopi bowler)
Masa bakti yang akan ditempuh dari 2022 sampai 2027, Prita bersama timnya ingin mewujudkan dari tahun ke tahun, semakin banyak kemajuan yang dirasakan TMB, maupun individu tim atas kehadiran mereka di dalam Forum TBM Jember.

Untuk sarana informasi Forum TBM yang baru terbentuk ini sudah menyiapkan media sosial, sebagai sarana media publikasi, diantaranya:

Sekilas Kisah Unik, Riyadi Ariyanto, Founder Sekolah Alam Raya Jember

Kisah Riyadi Ariyanto
Sudah tersaji pisang rebus, kacang rebus, pisang goreng, seteko minuman, cangkir tengkurap bertumpuk-tumpuk. Kami berada di kediaman yang biasa dipanggil Rumah Imaji, yang di dalamnya ada banyak peralatan rumah tangga, tupperware berbagai bentuk mendominasi etalase. Nurul Hidayat, Sang Empu rumah, menjadi tempat obrolan asyik mengenai literasi. Fokus perbincangan dunia aksara terhenti, menjadi fokus ke kisah-kisah yang dibawakan Pak Riyadi, founder Sekolah Alam Raya Jember.   

“Saya melihat pada umur my second fifty ini. Saya harus meluruskan niat, sebab niat itu kunci utama dari suatu pekerjaan yang lahirnya di dalam hati. Jadi niat saya adalah membahagiakan siapapun orang-orang yang ingin saya bahagiakan. Berbagi happy!” ujar Pak Riyadi.

Saya mengangguk-angguk, sesekali mengetik mencatat apa yang terlontar pada obrolan siang itu pada ponsel. Utamanya kata-kata yang tak saya mengerti, seperti ‘umur my second fifty’, umur berapa sih itu?

Tak lama kemudian seorang berhijab wintergreen leaf yang padu dengan gamis bercorak sama. Beliau bernama Tyasati. Katanya, "Eh, saya kesasar di perumahan BTB." Kemudian tertawa kecil. Bertambah satu orang, menjadi delapan orang yang hadir. Dan sampai selesai acara terkumpul delapan orang. 

Pak Riyadi menceritakan bahwa dirinya pernah bermotoran seorang diri datang ke Banyuwangi, bertamu di Taman Baca Sahabat Kecil, Nurul hikmah. Memenuhi undangan. Kegiatan tersebut kadang mendapatkan feedback, teman-teman literasi dari Banyuwangi ganti bertandang ke Jember.

Sekolah alam raya
Salah satu kegiatan di Sekolah Alama Raya, besutan Pak Riyadi. (sumber:fb/riyadiariyanto).

Sering berkunjung ke rumah teman-teman memenuhi undangan acara, berangkatnya memakai sangu pribadi, dan pulang dari bertamu pun pakai sangu pribadi juga. Pak Riyadi mendapatkan keuntungan melimpah dari  berkunjung ke sana ke mari untuk memenuhi undangan tersebut, yakni mendapatkan atmosfer kebahagiaan. Karena dari situ beliau merasa lebih bergerak dan hidup. Bertanya kabar dan membicarakan segala macam corak-corak kehidupan manusia bersosial.

“Dan saya merasa ada spirit,” terang Pak Riyadi. “Ingin menciptakan rumah kerja sosial berdampak rukun dan happy. Bisa berpentuk perusaan sosial. Tapi untuk ke sana tidak mudah. Dan kalau pun sudah sampai ke sana, bahkan tak mudah juga”.

“Sebentar, tadi maksudnya apa ya, ‘umur my second fifty’?” tanya seorang teman literasi, berkacamata tebal, bertudung conch shell. Bernama Riana. Jadi saya mengurungkan mencari istilah tersebut pakai jasa embah google, beliau telah mewakili. 

“Oh, my second fifty adalah istilah yang berarti umur 50 tahun berjalan, jadi saya baru lahir hari ini. Saya bayi yang berumur 50 tahun. Karena manusia dijangka usianya paling tinggi 100 tahun,” jelas Pak Riyadi.

“Oh, masya Allah, jadi bulan Januari ini genap umur 50 tahun ya, Pak?” kejar Riana.

“Bulan Januari adalah karangan saya dan wali kelas saya waktu SD. Bahkan nama saya pun karangan saya sendiri.” Tertawalah dalam satu ruangan itu, sebab pernyataan dari Pak Riyadi terdengar aneh dan lucu. Kami bertanya-tanya. Kemudian beliau menjelaskan.

Saat Pak Riyadi kelas 4 SD, beliau bertanya kepada ibunya, ‘bu nama saya siapa?’ Sebab besok hari ada tugas dari guru agar membubuhkan nama lengkap. Sebab pada zaman Pak Riyadi kecil orang-orang kampung, dimana beliau tinggal, orang-orang kampung biasa memanggil anak-anak mereka dengan nama orang tua. Atun adalah nama panggilan Pak Riyadi kecil, karena nama itu adalah nama ibu beliau. Jadi hal itu tak dinilai aneh, sebab kebiasaan itu sudah familiar dan biasa.

“Jadi akta bagaimana, apa belum punya waktu itu?”

“Wah, akta tidak punya karena saya orang melarat saat itu!” seru Pak Riyadi, dengan tawa renyah serenyah kudapan putih lonjong atau pilus ikan, rame di mulut. Kudapan itu tiba-tiba datang menjadi hidangan. Didapat dari seorang perempuan sepuh, sedikit bungkuk, penjual keliling yang tiba-tiba menawarkan jualannya di teras rumah imaji. Dengan membawa rinjing bambu yang dililit selendang cokelat.

“Jadi di rapot itu sudah ada R-I-A-D-I, nama Riadi sudah ada. Ketika saya tanya ibu, dari mana nama Riadi itu berasal, ‘tak tao engkok’ begitu kata ibu. Kemungkinan dari bidan. Jadi muncul ide, saya buat kesempatan itu untuk mengarang nama. Itu adalah kegiatan literasi pertama dan berkesan sepanjang hidup saya, mengarang nama.” Teman-teman seketika pecah tawanya.

Di gading asri perumahaan taman gading
Obrolan literasi berlanjut di Gading Asri.

“Waktu itu saya suka dengan kegiatan membaca, saya pernah hampir dipukul sama orang pasar karena mau muncuri buku GBHN dan pancasila. Saya hanya pengen moco di rumah. Buku tersebut hendak saya selipkan di punggung, di balik baju. Tapi keburu ketahuan. Bogem penjual buku serta merta muncul mengancam saya. Mungkin karena saya waktu itu masih kecil dan ingusan, jadi kepalan tangannya sekedar menakuti saya.”

Pak Riyadi melakukan iktikad kurang baik tersebut lantaran perpustaan di sekolah pada masa itu masih belum punya buku bacaan. Beliau pernah bolos pas hari sabtu, mangkir di tempat penjual buku tepatnya di Pasar Lerok. Pasar Lerok adalah pasar mingguan, ramainya hanya hari Sabtu. Di sana beliau membaca buku berlama-lama. Kemudian menemukan nama A. Riyanto.

“Ah, muncul ide nih. Gimana kalau namaku diberi nama Riadi Ariyanto. Dengan mengganti nama Riadi dengan Riyadi, mengganti huruf i menjadi y. Menyesuaikan dengan nama A. Riyanto. Jadi, fix nih namaku Riyadi Ariyanto. Faktanya, nama A. Riyanto itu adalah penulis buku nyanyian. Nama A di depan nama Riyanto itu ternyata Alexius gelar pendeta. Saat itu sedang tren 3 suku nama, misal seperti nama Eka Dewi Sundari. Nah, sementara itu nama karanganku masih dua suku nama. Jadi kurang satu nih, mikir lagi.” Kisah hidup Pak Riyadi unik sekali, membuat geleng-geleng kepala dan merenges-renges.

Dulu, cerita dari Pak Riyadi, semua orang tertarik apabila ada mobil mewah yang lewat atau mejeng di pinggir jalan. Zaman beliau dulu ada mobil Mercy—dengan tipe tertentu—yang mesti lewat ke arah lapangan golf di Glantangan, dan mobil jenis itu terbagus menurutnya pada saat itu.

“Kalau ada Mercy lewat, pasti orang-orang pada takjub, ‘wih. Mercy, Mercy, Mercy!’ Jadi muncullah ide untuk menambah nama Mercy untuk suku nama ketiga dari nama saya, menjadi Mercy Riyadi Ariyanto. Wih, keren!”

Teman-teman nampaknya terdampar jauh oleh kisah-kisah zaman dahulu yang dibawakan Pak Riyadi. Mereka betul-betul hanyut dalam kisah menarik sekaligus lucu. Padahal sebelumnya mau serius dalam pembentukan komunitas. Hehe.

Nama Mercy Riyadi Ariyanto sudah ditetapkan. Malam itu Pak Riyadi kecil merasa bangga dengan nama barunya, beliau merasa nama tersebut bernilai tinggi dan mahal. Semacam mobil mewah yang sering mejeng di Lapangan Golf, Glantangan.

Mobil Mercy ilustrasi
Ilustrasi mobil mercy.

Tapi rasa bangga akan nama baru itu menyusut saat 10 menit pengumpulan nama  di meja wali kelas. Seketika karangan nama yang menggabungkan beberapa fitur-fitur itu mencemaskan. Sadar kalau nama itu terasa menyilaukan bagi Pak Riyadi kecil. Tapi sudah kadung ditumpuk di meja wali kelas. Rasa deg-degan saat menjelang giliran namanya dipanggil.

“Mercy Riyadi Ariyanto!” panggil Pak Wali Kelas, Pak Niman. Pak Riyadi maju ke depan kelas.

Sambil keningnya mengkerut, Pak Niman bertanya, “ini nama kamu?”

Pak Riyadi mengangguk. Serta merta telapak tangan wali kelas itu mendarat ke wajah Pak Riyadi, mengguncangnya kepala Pak Riyadi, seraya berkata, “Dasar! Enggak tahu adus begini pakai nama Mercy, yang benar aja!” akhirnya nama Mercy mantap dicoret. Benar dugaan Pak Riyadi, nama itu memang menyilaukan.

“Mana tanggal lahirnya?” tanya wali kelas.

Nama saja baru dapat, tanggal pula dipertanyakan. Sebab kedua hal itu memang benar-benar tak pernah terbayangkan sebagai hal yang penting dalam kehidupan, dimana sebagai syarat administrasi sekolah dan urusan lainnya.

Dari pada berlama-lama mengarang tanggal, tak seasyik mengarang nama. Tanggal hanyalah angka, pikir beliau. Jadi Pak Riyadi pun terus terang.

“Nama saja lupa, apalagi tanggal lahirnya, Pak!” jawab Pak Riyadi. Dengan cepat, wali kelas membuatkan tanggal lahir, yakni tanggal 1 januari. Untuk tahunnya pun mengira-ngira, menghitung-ngitung perkiraan, jatuhnya pada tahun 1972.

Malamnya Pak Riyadi kepikiran. “1 Januari? Itu kan tahun baru, wah! jadi enggak enak barenangan sama tahun baru. Nah, besok harinya saya jumpai wali kelas, ngintip di ruangannya. Kemudian berkata ‘Pak ganti saja, enggak enak Pak kalau tanggalnya 1 Januari’, begitu kata saya. Permintaan saya dikabulkan, Pak Niman menambahkan angka 0 setelah angka 1. Kemudian tercatatlah saya lahir tanggal 10 Januari. Nah, resmi sudah tanggal 10 Januari 1972 yang tercatat sampai sekarang.”

“Jadi, bagaimana nasib anak-anak yang lain? Apakah mengarang nama dan tanggal juga?” tanya teman literasi kepada Pak Riyadi.

“Saya anak kelima, yang anak ke-1 sampai ke-4 tidak sekolah. Jadi tak pusing memikirkan nama dan tanggal, tak seperti saya.”

“Bapak kok sampai sekolah tinggi? Dapat motivasi sekolah darimana sementara saudara-saudara tertua njenengan tak sekolah,”

“Saya justru mendapat motivasi meneruskan sekolah dari anak yang putus sekolah bernama Rahmat, si Penggembala kambing. Padahal ibu sudah melarang saya untuk sekolah, malah mengajak saya untuk bekerja di kebun, ‘majulah norok ibuk ka kebun karet’ begitu katanya, yang jelas ibu masih belum tahu sekolah itu tujuannya apa.”

Suatu hari, Pak Riyadi, sebagaimana anak-anak kecil pada zamannya, dan masih ada hingga sekarang, kalau ada pesawat lewat mereka berlari sambil mendongak. “Saya sambil berteriak ke atas, berkata ‘menta pessena, kapal! menta pessena, kapal! artinya minta uangnya, pesawat. Minta uangnya, pesawat!”

Suatu hari, Pak Riyadi mengejar pesawat itu dan bertemu dengan Rahmat, si Pengembala kambing. Beliau bertanya kepada Rahmat, kemanakah tujuan orang-orang yang naik pesawat itu. “Ke luar negeri!” jawab Rahmat.

Kata 'luar negeri' itu adalah kata yang terdengar ajaib, ia sama dengan kata Mercy. Apalagi di sekolah Pak Riyadi tidak pernah mendapatkan kata-kata tersebut, justru dari Rahmat, si anak putus sekolah.

Dilain hari, Pak Riyadi nampak lagi pesawat, seperti sebuah kebiasaan beliau mendongak dan meminta uang. Hari itu bertemu dengan Rahmat lagi, beliau sempatkan untuk bertanya lagi. 

percakapan dengan rahmat riyadi Ariyanto
Sebuah percakapan masa lalu.

Maka Pak Riyadi mencatat, ‘luar negeri’ dan ‘bahasa inggris’, dua peristilahan yang tak pernah beliau dapatkan di bangku SD. Apa yang Rahmat katakan pada Pak Riyadi tertanam kuat dalam ingatan. Dua peristilahan tadi itu semacam wejangan motivator yang tertanam kuat, hingga bibit tekad tertanam sejak dini untuk meraihnya. Dari awal Pak Riyadi menetapkan mimpi yang ingin beliau raih.

“Aku harus bisa bahasa inggris dan aku harus bisa keluar negeri naik pesawat. Itulah mimpiku waktu itu!”
“Jadi ketika mendapatkan beasiswa ke Bandung, ada pertukarang mahasiswa Indonesia – Australia. Uang yang dari Australia itu, tak lantas saya berikan ke Ibu, tapi justru saya cari Rahmat. Saya berkata dengannya, 'Mat, saya sudah sampai luar negeri!'”

“Siah!” seru Rahmat.

Area pessenah dolar Australia. Kamu datang saja ke Hamdalah, money charger. Tukar uang ini menjadi uang Jember. Belilah sapi. Sudah ya!” beberapa tahun kemudian setelah itu Rahmat menjadi juragan sapi, beberapa sapinya bahkan ada yang dititipkan ke saudaranya. Bahkan Rahmat menjadi donatur untuk ‘Berbagi Happy’.

Bagi saya bisa kenal dengan Pak Riyadi Ariyanto ini adalah rezeki, kisah-kisah inspiratif pada siang Kamis itu menghidupkan semangat dalam diri saya. Beliau rupanya berangkat dari orang yang tak berada, bagi saya beliau berangkat dari minus. Bayangkan, nama dan tanggal lahir pun tak punya!

Benar-benar rezeki. Tuhan juga mempertemukan saya kepada komunitas, yang orang-orangnya baik. Siang itu mungkin akan terasa ngantuk, tapi rasa itu sirna menjadi semangat.

  H O P E F U L L  

“Jadi, ketika saya keluar negeri, mendapatkan beasiswa, sebenarnya bukan karena pintar, tapi karena hopefull. Ceritanya begini, ada pertemuan mahasiswa pariwisata di di Jakarta. Termasuk Trisakti juga. Saya mewakili kampus pergi ke Jakarta. Ada salah satu mahasiswa dipanggil oleh si pembicara, tapi tak kunjung datang. Melihat pembicara juga belum duduk, kemudian saya angkat kursi lipat warna merah disebelah saya yang kebetulan kosong, menyilahkan pembicara duduk dulu. Sampai pada akhir pembicara ini mengatakan, ‘siapa tadi yang bawa kursi?’ Saya pun mengacung. ‘Itu adalah contoh pemuda pariwisata’ tegas si pembicara itu.”

Sampai akhirnya dua minggu kemudian ada surat pertukaran mahasiswa tourist sementara dari kementerian pariwisata, Pak Riyadi kaget bukan main, surat itu undangan untuk Riadi Ariyanto, untuk dirinya! “Begitulah, sebenarnya saya enggak pintar, hanya karena angkat kursi itu saja, sih. Jadi, saya ceritakan kepada anak-anak. Untuk bisa berhasil harus hopefull itu adalah nomor satu. Suka membantu. Tapi dengan rasa ikhlas.”

Hopefull menjadi senjata sampai sekarang, dimana pun Pak Riyadi berada. “Ketika di Bali pun, saat menjadi mahasiswa magang menjadi pemandu wisata, sata terapkan senjata hopefull ini. Hampir semua orang tertarik kepada saya. Kadang mendapatkan tempat-tempat istimewa. Bos bernama Iman Sutan, orang Padang, pun menyukai saya. Ketika terlihat dia keberatan membawa sesuatu, saya sapa ‘pagi Pak Iman, berat pak, sini saya bantu!’ dari situlah saya sering mendapatkan balasan yang tak terduga.”

Sampai akhirnya beliau menyelesaaikan S-2 di Filipina, dan beberapa kunjungan di kampus-kampus Amerika.

“Jadi intinya itu saya tidak pintar, tapi karena hopefull dan inisiatif saja”.

Sebenarnya masih banyak kisah inspiratif dari Pak Riyadi Ariyanto, tak selengkap tulisan yang Anda baca ini. Mudah-mudahan tulisan ini menginspirasi Anda. 

Yuk, semangat jadi orang baik!
Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com