Welcome to Media Pamungkas

Assalamualaikum,
Selamat datang di website Media Pamungkas. Website ini diprakasai oleh Saad Pamungkas, seorang praktisi literasi, yang ingin mendedikasikan website-nya untuk dunia kepenulisan, khususnya di Jember.


LITERATOR

Kenalan dengan tokoh literasi memang banyak manfaatnya, diantaraya menambah pengalaman dan memperkaya sudut pandang saya dalam meniti di jalan literasi ini. Saya bersyukur, meskipun mereka senior dan superior dalam hal pengalaman dan berkarya dibanding saya, tapi mereka rendah hati menyambut kedatangan saya dan menerima saya sebagai teman literasi mereka. Siapa sajakah mereka?

Tentang

MEDIA PAMUNGKAS

Merupakan mediator dengan tindakan responsif dibidang literasi, percetakan dan penerbitan. Sehingga individu maupun kelompok (diharapkan) bisa terbantu di jalan literasi. Beriktikad menjadi wadah tanya, jawab dan aksi di jalan literasi. Sehingga Indonesia—khususnya para pemuda-pemudi, tak ketinggalan pula anak-anak—mempunyai cinta yang wujud dalam berliterasi dan bisa menjadi negeri berliterat dengan animo masyarakat dalam hal baca dan tulis meningkat.

Menjadi mediator untuk percetakan buku yang bernomor ISBN (International Standard Book Number), juga mediator di bidang jasa penerbit dan percetakan dengan segmentasi pembaca anak muda remaja sampai dewasa.

Layanan

Yang ditawarkan?

MEDIATOR PERCETAKAN

Mediator untuk percetakan buku bernomor ISBN (International Standard Book Number), yakni kode pengidentifikasian suatu buku yang diterbitkan oleh penerbit.

BEKERJA SAMA

Berupaya bisa bekerja sama dengan penulis, translator/penerjemah bahasa asing, desainer grafis, pengetikan (sistem 10 jari), layouter, content writer, editor/penata aksara.

MENEBAR ILMU KEPENULISAN

Dengan membuka class writing atau kelas kepenulisan, dengan perorangan atau pun bekerja sama dengan orang yang berkompeten.

KOMUNITAS KEPENULISAN

Membuat komunitas kepenulisan yang bisa menghasilkan karya tulis.

INOVASI DALAM LITERASI

Berinovasi dengan pernak-pernik literasi.

MEDIA SUPPORT LITERASI

Sebagai mediator bagi orang yang ragu akan menerbitkan karya tulis perdananya.

img

Saad Pamungkas

Founder, Media Pamungkas

Untuk menjadi seorang penulis, yang diperlukan adalah praktik untuk mencintai kegiatan membaca. Karena cinta itu membuahkan!.

img

Media Pamungkas

Mediator Literasi, Percetakan Dan Penerbitan

Jika seseorang itu kenyang kemudian dipaksa makan lagi maka ia akan muntah-muntah. Itu Lumrah. Hal itu sama juga dengan membaca, bentuk muntahan akibat banyak membaca, adalah berupa tulisan dan wawasan.

img

Saad Pamungkas

Penulis Buku

Buku biografi adalah tambahan umur dan jejak yang sulit dihapus dari seorang penulis ataupun tokoh yang ditulis.

Kelompok Penulisan Saya

KATEGORI

Ada beberapa kategori kepenulisan saya. Diantaranya adalah?

Photography 95%
Videography 85%
WEB DESIGN 75%
Illustrator 60%
image
Project
Kategori Project
image
Tulisan
Kategori Artikel
image
Jurnal
Kategori Jurnal
image
Program
Kategori Program
Blog

LATEST FORM Blog

Langkah Alfamart Memajukan Bangsa dengan Pemberdayaan Perempuan dan Bersinergi dengan UMKM Lokal Jember

alfamart bekerja sama
Wes wayae!*
*(Sudah waktunya!)

Slogan di atas jangan tanyakan lagi punya siapa, apalagi orang Jember. Pasti tahu.

Slogan itu untuk pembaruan kota Jember, seperti infrastruktur (minimal jeglogan jadi tertambal, hehe), dan pembaruan lainnya. Intinya Jember jadi semakin maju dan terkenal di mata banyak orang.

Termasuk kehadiran Jember Mini Zoo. Suatu implimentasi dari wayae (waktunya), tempat itu pun menjadi sangat menarik dan bermanfaat ketika program Alfamart datang dengan harapan yang mulia terhadap SDM Jember yang semakin berdayaguna. Seakan sinkron dengan slogan Jember, ‘sudah waktunya’ berubah dan maju!

Untuk sekian kalinya saya ucapkan terima kasih banyak kepada Mbak Prita HW selaku pegiat literasi yang selalu mengajak saya kepada jalan-jalan literasi yang terang. Dari beliau saya tahu informasi kalau Alfamart mengadakan program pemberdayagunaan. Terhitung Alfamart sudah lima kali mengadakan pelatihan pemberdayaan.

Terjadwal secara tertulis kalau program itu jatuh pada hari Jumat, 26 November 2021. 
Seperti apa itu programnya?

Memberdayakan Kaum Hawa

Gelap langit pada pagi itu tak membendung langkah Alfamart, nampak di Mini Zoo Mangli itu sudah terhampar vertikal ucapan selamat. Selamat datang Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Khusus Perempuan yang diselenggarakan oleh Alfamart cabang Jember. The Jannah Institute atau TJI adalah salah satu komunitas yang dirangkul dalam acara itu. Syukurlah, setelah sampai sana dengan tenang, barulah hujan turun. Acara jadi semakin takzim dengan udara segar dan dingin yang dibawa hujan. Suguhan penghangat badan pun tersaji; teh dan susu.

Mbak Prita, dan teman-teman TJI nampak berbincang-bincang seritus dengan panitia Alfamart. Mungkin yang paling sibuk Mbak Prita, sebab beliau pada acara itu sebagai host acara pelatihan.

Acara riuhrendah dengan kehadiran anak-anak. Bukan sebagai peserta, mereka menemani peserta ibu-ibu. Saya geleng-geleng, kalau melihat ibu-ibu ngemong sekaligus menaikkan kapasitas sebagai super mom. Luar biasa!

Beberapa peserta menyusul datang, diantaranya setengah kuyup. Sepatu dan bawahan yang berair. Ada yang menyelak masker sebentar, wajah menyingsing ceria pun terlihat, mereka mentari pada pagi yang mendung itu. MasyaAllah.

Jam 09.00-an, founder TJI, Mbak Prita HW membuka acara dengan membacakan rundown . Maka terbentuklah satu orang sebagai wakil Alfamart untuk membuka acara serta empat narasumber sudah ready pada posisi masing-masing.

Alfamart Tangguh Menghadapi Pandemi

Bapak Safi’i, Alfamart Public Relation, sebagai welcome speech perwakilan Alfamart. Beliau menyampaikan bahwa pagi yang syahdu itu adalah pelatihan khusus perempuan ke-5 yang diadakan oleh Alfamart. Tentunya ada yang berbeda, jika tahun sebelumnya (sebelum ada Corona) bisa los, maka pada tahun ini Alfamart mengambil konsep “Alfamart Tangguh”. Mbak Prita pun nyeletuk, “kok pas nama anakku!” sebab anak Mbak Prita memang ada yang bernama Tangguh. Nampaknya beliau tahu  masa depan banyak terjangan ujian kehidupan, makanya nama anaknya Tangguh. Benar enggak, Mbak Prit? 

Konsep tangguh di sini adalah Alfamart belum pernah melakukan PHK terhadap karyawan-karyawannya.

pak syafii
Pak Safi'i sebagai pembuka perwakilan Alfamart Jember.

Memeluk Pelaku UMKM Lokal

Istri saya berasal dari Trenggalek, setiap kali hendak ke Trenggalek tak lupa untuk membawa buah tangan. Salah satu contohnya adalah suwar-suwir. Jajanan khas ini adalah icon Jember. Sering terbantu dengan kehadiran Alfamart. Di sana saya pun menemukan suwar-suwir bermerk Candy. Jadi tak perlu repot-repot dan jauh-jauh untuk mencari jajan khas Jember ini. Cukup masuk gerai Alfamart di beberapa daerah, dan ketemu, deh!

Berarti Alfamart berindikasi bekerja sama dengan produk lokal Jember dong?
Begitulah saya bertanya-tanya dalam benak, dan mungkin tak terjawab secara memuaskan kalau tidak dari narasumber terpercayadari Ibu Neni Restini, Merchandising Manager Alfamart Jember. Beliau menerangkan bahwa Alfamart berusaha merangkul brand-brand produk lokal (UMKM) untuk dipasarkan di minimarket Alfamart diseluruh gerai lokal Jember.

Ibu Neni yang tampil dengan busana merah muda dan berhijab hitam, memaparkan bahwa Alfamart mempunyai kepedulian terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Utamanya bagi pelaku usaha yang tidak mempunyai prasarana untuk memarketingkan produknya. Menurutnya, siapapun pelaku usaha mempunyai kesempatan besar untuk mengapakkan sayap usahanya, dan tentunya jangan sampai menyia-nyiakan bekerja sama dengan Alfamart sebagai wadah yang tepat.

Ibu Neni tak memungkiri kehadiran UMKM itu penting bagi negeri, diantaranya:

1. Menciptakan lapangan kerja di masyarakat menengah kebawah.
2. Meningkatkan pendapatan masyarakat terutama menengah kebawah.
3. Menciptakan differensiasi pasar dari jenis dan cara produksi suatu produk yang dibuat.

Jadi seperti apakah UMKM yang akan diajak bekerja sama atau memiliki atensi besar terhadap Alfamart? Berikut ini penjelasannya:
 
1. Pelaku UKM merupakan real sebagai produsen bukan pengepul.
2. Tempat untuk produksi memiliki kebersihan sesuai standar dari pemerintah mengenai kebersihan & kesehatan tempat produksi industri rumah tangga.
3. Skala produksi dapat mencukupi kebutuhan Alfamart, sehingga tidak akan terjadi kekosongan dicabang-cabang Alfamart.
4. Assortment barang yang ditawarkan merupakan barang yang sesuai dengan market Alfamart.
5. Memiliki izin legalitas usaha dan produk, seperti
- MD/PIRT atau ijin edar lainnya yang diakui pemerintah / BPOM
- Surat keterangan dari pemerintah terdaftar sebagai UKM binaan pemerintah
- sertifikat halal MUI
- pelabelan yang sdh sesuai aturan pemerintah
- kelengkapan lainnya yang tercantum pada tabel administrasi di bawah hal 9
6. Memiliki jarigan distribusi yang baik.
7. Memiliki komitmen yang kuat terutama terhadap kualitas produk.
. 8 Memberikan harga terbaik agar bisa bersaing dengan produk lain dan cenderung lebih murah dari item regu- ler sejenis.
9. Produk yang ditawarkan lolos uji laboratorium secara berkala.
10. Produk akan selalu dievaluasi dari segi penjualan, tingkat pemenuhan permintaan dan akan diskontinue apabila tidak sesuai dengan standart yang ditetapkan Alfamart.

membuat bunga
Disela-sela acara, membuat bunga dengan bahan kresek bekas.
\
Lantas, bagaimana sih langkah awal sampai terakhir hingga goal bekerja sama dengan Alfamart? Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Supplier membawa sample produk beserta list harga produk yang ditawarkan. Produk yang ditawarkan merupakan barang yang sesuai dengan market Alfamart, sesuai trend pasar. disertai ijin dari Lembaga yg berwenang spt kode MD, ML, barcode, dan masa kadaluwarsa.
2. Supplier dan MD bernegosiasi atas rencana aktivasi new item tsb , memastikan rencana Promo yang akan dilakukan atas produk baru tsb dan lain sebagainya untuk memenuhi proses pengajuan new item.
3. Produk yang ditawarkan akan dibawa ke dalam meeting new product di internal Alfamart, yang dihadiri Marketing, merchandising, Operation dan Supply chain, hasil meeting sbb :
• Status : Ditolak, end.
• Status : Diterima, next step ( proses administrasi aktivasi spt Listing fee, sewa, promotion)
4. Komitmen service level, alokasi first PO dr MPKM, JWK, Minor PO, trading term, dll,

Mengikuti ketentuan dari Alfamart : sistem pengiriman, pembayaran, penarikan dan retur.
Setelah terdistribusi di Alfamart maka akan dilakukan review new product secara berkala 1-3 bulan dan analisa bulanan spt => Sales baik Qty maupun Rp, komparasi penjualan dengan item di kategori yg sama, Service Level, dll. Sehingga akan dievaluasi kerjasama untuk jangka panjang.

Review Novel Nasi Lemak Melankolis Karya Saad Pamungkas

Review ulasan novel saad pamungkas novel nasi lemak melankolis
“Komunitas itu penting.”
Kata pendek di atas adalah kata saya. Begitulah tulisan ini saya buka. Benar adanya, dan saya rasakan sendiri, bagaimana pun berbagi pengalaman atau ilmu dengan teman komunitas menimbulkan suatu kebahagiaan yang saya rasakan.

Hadiah bagi saya ketika ada insan yang baik hati menyilakan saya sebagai narasumber, berpangkal dari chat WhatsApp masuk Selasa, 30 November 2021.

Assalamualaikum Mas, apa kabar? Sudah di Jember ya? Jum'at besok sudah boleh kah book Review di WAG TJI Community?”

Jam 12:59 siang.

Saya tak pernah berjumpa sekalipun kecuali dalam WhatsApp, dan media sosial lainnya. Namanya Suci Wulandari, anggota komunitas The Jannah Institute, komunitas besutan Mbak Prita HW.

Saya menyanggupi tawaran itu. Dengan senang hati.

Kami saling bertanya-tanya, buku apa yang harus diulas? Mbak Suci pun mengail judul “Nasi Lemak Melankolis”, sebuah karya novel solo saya. Karya yang sudah lawas. Terbit pada tahun 2017. Karya pertama saya dengan lembaran terbanyak.

Saya menerka kenapa Mbak Suci tertarik mengulas karya saya ini. Mungkin karena ini ada kaitannya dengan kediaman beliau saat ini, Malaysia. Apalagi nasi lemak memang khas negeri jiran. Benar enggak nih tebakan saya, Mbak?

Logo The Jannah Institute


***

Judul: Nasi Lemak Melankolis
Penulis: Saad Pamungkas
Halaman: 272
Penerbit: PT. Anak Hebat Indonesia
Tanggal Publikasi: 2017

Nasi Lemak Melankolis adalah sebuah novel yang pertama kali ditulis oleh Saad Pamungkas. Novel Nasi Lemak Melankolis ini termasuk novel yang masih ada sangkut pautnya dengan kisah hidup seseorang. True story dari seorang sahabat terdekat.

Nasi Lemak Melankolis mengisahkan tentang seorang yang terlahir dari ‘keluarga tak utuh’ atau broken home, ia bernama Junaidi (tentunya nama samaran). Kenapa saya memakai nama Junaidi? biar ke-jawa-annya dapat. Hehe.
flyer bersama TJI comunity
Selebaran digital oleh komunitas TJI.
 
Selalu ada percekcokan hampir setiap hari terjadi dalam keluarga Junaidi. Ibu dan bapak sudah saling tak percaya lagi dan nyaris cerai. Junaidi sendiri punya seorang kakak yang pergaulannya bebas, kakaknya tak peduli sama keadaan kejiwaan Junaidi. Artinya, di rumah ia tak menemukan kedamaian. Ditambah pula luka-luka yang ia dapatkan ketika di sekolah. Teman-temannya sering membulinya, karena Junaidi sering melamun dan melankolis, mirisnya lagi guru-guru pun ikut membulinya juga. Pembulian tersebut semenjak sekolah dasar. Kemudian berlanjut parah saat tingkat SMP. Karena SMP Junaidi pindah ke kota, sementara SD ada di pelosok desa. Jadi, tak ada seorang pun yang paham dengan keadaannya, kecuali dirinya sendiri.

Padahal kita tahu bahwa; 

Mendidik murid dengan kesabaran dan keuletan adalah salah satu tugas guru, bukan malah sebaliknya.
Ketika ada murid sukses dalam pelajaran atau pada masa depannya, pasti ada jasa guru yang dulu mentransfer ilmu. Namun sebaliknya yang terjadi pada Junaidi, bukannya menyemangati Junaidi, guru-guru SMP (saat paling mengerikan terjadi) justru mematahkan semangat Junaidi dengan meremehkannya dan menjuluki Junaidi sebagai ‘anak yang mudah kesurupan yang harus diruqyah’ oleh guru agama, ‘stupid’ julukan dari guru bahasa Inggris, ‘murid suka bengong/kosong’ julukan dari guru matematika, dan hampir semua guru memojokkan Junaidi. 

Junaidi berasal dari keluarga miskin, yang selalu sabar dalam meniti kehidupannya yang sulit untuk usia Junaidi, tak ada orang yang bisa memahami kecuali dengan prasangka dan dugaan yang negatif.

Begitu banyak hal menyedihkan yang terjadi dalam masa kecil Junaidi. Junaidi yang luar biasa menahan sabar dan perih ini hampir menyerah dengan keadaan. Sudah mulai bolos dan belajar nakal. Kenapa malah belajar nakal?

Karena fitrah Junaidi seorang yang baik hati, suka damai, tidak suka hal-hal negatif. Sementara hal itu sangat berbeda sekali dengan teman-temannya yang suka buat onar dan ramai di kelas. Junaidi merasa berbeda, mulailah ia belajar nakal, seperti bolos, menulis surat palsu, berbohong sakit kepada guru.

Junaidi suka membaca dan menulis, seorang yang genius dalam merangkai kata. Senang hati saat menulis cerita rekaannya sampai beratus-ratus halaman ditulis secara manual alias menggunakan bullpoint. Demi memuaskan dahaganya akan dunia aksara.

Sayangnya lingkungan sama sekali tak mendukungnya, teman-temannya malah menilai puisi-puisi yang ditulis Junaidi sulit dipahami dan hasil tulisan dari igauan belaka. Maka ia pun tutup bukunya.

Padahal bisa dibilang ia adalah seniman  besar yang tertidur. Daya imajinatifnya tinggi, kreatif, dan sayangnya sering diremehkan teman-temannya karena ketidaklogisan tulisannya. Namun potensi itu tertidur sementara, ia membangunkan potensi-potensi itu setelah bertahun-tahun merantau dari Malaysia, lanjut ke Medan, Batam, Aceh, Yogyakarta, sehingga ia berhasil mengangkat derajat dirinya di mata teman-temannya. Maupun di mata keluarganya.

Junaidi menyanggupi saat ada tawaran dari kakaknya untuk menempuh pendidikan di Malaysia dan kerja di sana juga. Awal mula tawaran itu membuat ragu, karena jarak dan mental. Namun ia ingat dari bahan bacaan yang dinukil dari Imam Syafii, yang mengatakan.

"Tinggalkanlah kampung halaman, merantaulah!"
Maka ia pun berangkat. Ada banyak hal menakjubkan yang dialami Junaidi. Ia sudah teguh untuk merubah dirinya, yang dulunya pelamun, menjadi pelajar. Yang dulunya dibuli orang, menjadi pembuli dirinya agar terus berubah menjadi lebih baik. Yang dulunya tidak percaya diri, menjadi lebih ingin tahu dan berani mengambil langkah besar.

***

Novel ini merupakan karya pertama yang diluncurkan oleh Saad Pamungkas. Ada kisah pilu dibalik novel ini. Yakni editor yang bernama Agung, meninggal dunia. Sehingga proses editingnya tak sepenuhnya selesai. 

Karena sangking semangatnya menulis, saya menulis hingga hampir 200 halaman. Dengan rincian, ditulis di MS Word dengan format default, font size 12, times new roman. Saya tidak mengutak-ngatik lagi format tersebut. Karena pengalaman masih minim. Ketika sudah masuk ke penerbit, mengatakan kalau halaman novel saya terlewat banyak! Saya sendiri mengiyakan, maksudnya ‘saya yang sekarang’ ini mengiyakan. Biasanya kalau sudah di atas meja penerbit, format disesuaikan dengan ukuran kertas novel, kalau tidak salah ukuran A5.

So, kemungkinan dari halaman 200 (yang belum diformat) jika sudah diformat dengan ukuran penerbit (A5), halaman tersebut meningkat 2 kali lipat. Apalagi kalau ada ilustrasi gambar.

Walhasil, karya saya banyak yang di-cut. Dan okey, tak masalah bagi saya. Karena itu karya pertama saya. Dan itulah kekurangan pada novel ini; pemotongan kata yang banyak. Sehingga ketika dibaca seakan-akan kita lompat-lompat tak jelas.

Makanya, sampai ada anggota TJI berkata, "belum pernah dengar Mas Saad nulis novel, tahunya nulis buku Koeng (biografi Iman  Suligi)." Sebab saya sendiri merasa masih banyak kekurangan dalam novel pertama saya ini. Novel ini ke depan ingin saya revisi, setelah kesan-kesan cut, typo tiada, barulah saya promosi secara masif.

Banyak ibrah yang dapat dikutip dalam novel Nasi Lemak Melankolis. Kita harus bersabar karena dunia ini adalah tempat capai, lelah, pusing dan segala ketidakenakan lainnya. Tapi ingat, Allah akan bersama kita kalau kita bertahan dalam kesabaran.

Tempat kuliah saya dulu, Sg. Ramal Dalam, Malaysia.

Dari penggambaran nasib Junaidi ini, teman-teman menyangka kalau cerita ini penuh kesedihan atau melankolis saja, tidak juga, ada sisi-sisi humornya juga. Seperti:

Ketika aku menuturkan kata 'finansial', dosen menyuruhku untuk mengulang lagi. Aku pun mengulang kata-kata tersebut. Barulah dosen mengangguk-angguk. Tapi karena kurang yakin, dosen itu mendekat sampai telinganya mengarah ke mulutku. “Coba sekali lagi...” pintanya. "Oh, syukurlah. Saya kira kamu berkata Penang Sial!" serentak satu kelas tertawa. Jadi ‘finansial’ di Malaysia itu penuturannya sama dengan English (finance) dibaca fəˈnan(t)SHəl. Bukan finansial sebagaimana penuturan orang Indonesia pada umumnya. 

Begitu juga waktu presentasi dengan tema “jujur”, terdengar oleh dosen : cucur. 
Dan ketika aku mengucapkan kata ‘butuh’*  semua kelas menegang, mengerutkan kening, terkecuali mahasiswa Indonesia, hanya senyum-senyum mengerti. 

Setelah saya paparkan hal yang lucu di atas, ada anggota yang belum tahu arti 'butuh' dalam bahasa Malaysia. Meskipun pernah dan mungkin sampai sekarang masih stay di sana. Hehe. Sampai bertanya langsung kepada orang Melayu asli sana.  Untungnya dijawab secara aman atau memang ditutupi, ya? hehe.
chat langsung ke orang melayu malaysia
Hehehe.

Novel ini bisa dibaca oleh remaja, dewasa, dan orang tua, serta guru-guru yang seharusnya bisa jadi teladan yang baik. Dan bisa dijadikan sebagai motivasi untuk para pelajar yang nasibnya sama dengan Junaidi, broken home. Ingat! Kalian punya masa depan yang cerah kalau sabar dan terus berkarya, cari komunitas dan jalin sosial dengan mereka.

*(Kata 'butuh' dalam bahasa Melayu artinya alat kelamin laki-laki).

Trik Menjadi Seniman Rupiah

narno nadias
Saya termasuk orang yang beruntung karena bisa kenal dengan Pak Narno Nadias. Jam 20.04 (atau 4 jam setelah tulisan ini terunggah) menelepon saya melalui whatsApp selama 21 menit 56 detik. Saya harus menuangkan kata-kata beliau di sini sebelum menguap dari otak. Saya coba dengan mengutip yang masih nempel-nempel dalam ingatan.
Terkadang saya justru menemukan moodboster dari seseorang atau sesuatu yang tak terduga. Alhamdulillah. Bagi saya semua kata-kata Pak Narno Nadias malam ini serupa bodybuilder (daging yang padat dan berotot).

Tiga bulan terakhir ini, hobi atau passion agak lambat berjalan karena terkendala pekerjaan. Sepulang kerja kadang saya tak bergutik kecuali ketip-ketip di atas kasur, tak lama kemudian terlelap begitu saja. Hobi jadi terlupakan begitu saja.

“Saya harus bekerja diluar passion, Pak. Melelahkan juga.” celetuk saya.

“Oh, ya. Itu biasa, Mas.” Jawab Pak Narno. “Saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Seperti pelatihan pupuk organik se-Jawa Timur yang harus berkeliling antar kota dalam satu bulan penuh, pernah juga bawa truk dengan isi bermacam-macam, belum lagi esoknya masih melatih, pernah saat malam masih di alas nebang kayu, dan kepadatan saat menjadi pelatih tenaga kerja Indonesia-Jepang selama dua tahun, audisi pendongeng Indonesia berkeliling selama 40 hari, hitungannya perjam harus pindah provinsi. Tapi semua menghasilkan secara signifikan.”

***

“Bagaimana cara seorang seniman murni menjadi seorang seniman rupiah?” 
begitulah kalimat retorik dari Pak Narno. “Artinya setiap ia berkarya, hasilnya itu mendapatkan rupiah. Itu semua ada triknya, Mas Saad!” jelas Pak Narno Nadias diseberang telepon genggam.

Saya masih terhitung satu kali bertemu secara langsung dengan beliau di Kafe Ruang Micro, di Jalan Tidar. Beliau waktu itu order ketan dan jus buah sembari ngobrol asyik tentang literasi dan pupuk. Waktu itu belum hafal dengan namanya, saya diam-diam menyebutnya Pak Sripit. Hehe. Bukan tanpa alasan, beliau waktu itu membawa produk Kopi Sakinah (kalau tidak salah), dengan tagline: "Sripit  Dulu Kopinya!"

Kalau tidak dikenalkan oleh kawan-kawan literasi saya, Gus Nov dan Mas Gun, mungkin tak pernah kenal saya. Malam ini, lewat gawai komunikasi kami bersua kembali.

Sangat mulia menuver-manuver Pak Narno Nadias menjemput seniman-seniman pinggiran, semacam saya ini. Beliau datang membawa bara api yang menyala-nyala, untuk terus melempar bara semangat kepada seniman-seniman yang sembunyi. Insan dosen atau seorang senior dalam bidang keilmuan yang peduli pada kesulitan di lapangan nyata, tidak hanya pada seputar permasalahan kuliah saja. Dosen kharismatik yang peduli pada kesulitan semua kalangan, kombinasi yang hebat!

Pak Narno menjelaskan bahwa setiap individu seniman harus memiliki ‘brand pribadi’ untuk dirinya. Atau istilahnya personal branding. Itu pun ada triknya juga.
Narno Nadias Marah besar saat tahu seniman tak menghasilkan uang
Pak Narno Nadias. (sumber facebook: Narno Nadias)

“Saya selalu marah kepada siapa pun seniman, utamanya yang muda-mudi, mengapa Anda tidak bisa meng-uang-kan karya Anda? Ojo ngene tok, enggak seneng bojomu dan anakmu ndelok keadaan awakmu berkarya tapi tak menghasilkan uang! Mereka perlu hidup juga, mengharapkan pada Anda, bukan cuma seni saja!” bergetar saya mendengar kata-kata—yang menurut saya terdengar satire—kena banget ke hati.

Kontan saya menyambung, “Ya, Pak. Saya melihat tidak sedikit seniman yang berbakat tapi hasil karyanya hanya pajangan di dalam rumahnya atau tersimpan dalam draft. Dan, kalau pun bisa menghasilkan uang, hasilnya sedikit. Saya pernah menulis satu buku dibayar kurang lebih 5 jutaan. Bagaimana menurut njenengan?”

Pak Narno lantas tertawa. “Saya menghasilkan uang dari satu buku sebesar 32.500.000. Jujur, saya kalau dipatok dengan harga murah, maka saya tinggalkan. Saya tidak mau!" tegas beliau. 

"Jadi sebenarnya penulis dengan pekerjaan menulis saja itu tidak cukup. Penulis harus berpikir terbuka dan dinamis. Penulis harus belajar manajemen, harus belajar politik, belajar PKWU atau entrepreneur. Makanya seniman itu harus digembleng dengan berbagai macam disiplin ilmu, ilmu jaringan, ilmu bisnis dan kalau perlu ilmu-ilmu yang lain. Kalau misalkan fokus kepada seniman, yo seniman tetep ngunu iku wae, Mas! Tidak ada perubahan.”

Pak Narno ingin seniman, utamanya yang muda-mudi dikumpulkan dalam satu ruangan, mengajak mereka diskusi bagaimana trik-trik menghasilkan karya yang bisa dirupiahkan.

“Karena seni itu adalah buah dari pikiran. Kalau tidak seimbang dengan pekerjaan yang menguras tenaga atau kesibukan yang lain, akhirnya tidak bisa berkarya atau menghasilkan karya tapi tidak bisa meledak.”

"Jadilah pemula, jadilah yang berbeda. Dan jadilah yang terbaik,"  kata Pak Narno Nadias, mengutip motivator Bob Sadino.
“Bagaimana Pak, jika karya saya tetap diberi tarif rendah? Saya pernah hendak menulis dari seorang klien, sudah beberapa kali melakukan wawancara dengannya. Tapi setelah saya ajukan dana pembuatan buku, klien menilai kalau tarif yang saya ajukan terlalu tinggi. Padahal saya melihat klien ini secara finansial bagus dan untuk nominal yang saya ajukan tak terlalu tinggi. Bagaimana menurut njenengan, Pak?”

Pak Narno sebelum menjelaskan tertawa lagi. “Analoginya seperti dalam penerbangan, ada dua orang di belakang kemudi pesawat, pilot dan co-pilot. Yang membedakan keduanya adalah hanya masalah jam terbang saja. Tentu lebih berpengalaman pilot. Tugas co-pilot mendampingi orang yang punya jam terbang yang tinggi. Suatu hari nanti, pilot itu pasti akan merekomendasi co-pilot sebagai penggantinya. Dari sini, kita bisa mengambil kiasan bahwa ada personal guarantee atau tokoh yang dipandang memiliki kaliber tinggi yang merekomendasikan karya Anda. Jadi, sebenarnya sama juga di dunia penulis. Orang tak akan melihat karya Anda, sebab Anda belum punya nama. Tapi orang akan melihat siapa yang membawa Anda, siapa yang merekom Anda. Ini yang tidak pernah dipikirkan sama penulis,” terang Pak Narno.
Pak Narno mengibaratkan seperti pesawat, ada pilot dan co pilot yang berpengalaman menerbangkan pesawat
Perlu jam terbang tinggi untuk menerbangkan pesawat.

“Jadi, jangan merasa, ‘oh, aku sudah ahli, aku sudah punya karya’. Kemudian dia berlari sendirian. Pertanyaannya adalah siapa Anda? Untuk menjelaskan siapa Anda, kan repot...”

--Bersambung--
Contact

Kirim saya Email

Hubungi

ContactInfo

Secara etimologis, kata literasi (literacy)berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Literasi erat hubungannya dengan proses membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya zaman, literasi mengalami perkembangan definisi yang baru, diantaranyaliterasi sains,literasi digital,literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Khusus di website ini, membahas tentang literasi baca dan tulis atau manfaat berjejak hidup lewat kata.

Alamat:

Jln. Sunan Bonang No. 42A, Jember.

Phone:

+62 812 3254 8422

Email:

admin@mediapamungkas.com